Kebetulan, hari itu, Keluarga Cendana sedang melakukan pertemuan tertutup. Gandaria yang pintar dan cerdik, dia memata-matai lewat jendela ruangan, lalu dengan kemampuan kanuragannya, Gandaria menempelkan telinga ke tembok dekat jendela. Dia akhirnya bisa mendengarkan obrolan dari dalam ruangan tersebut.
‘’Aku harap, anak perempuan anda bisa bergabung dengan Ganendra Ratri. Walau dia tidak memiliki kanuragan, tapi, kami akan melatihnya.’’ Jelas seorang Ganendra Ratri
‘’Kau sungguh merendahkan keluarga kami, tuan. Keluarga Cendana adalah salah satu dari keturunan dengan mata terbaik di negeri ini. Penglihatannya bisa menembus tembok, melihat aliran darah dan membuat kerusakan saraf di dalamnya.’’ Jelas Kepala Keluarga Cendana
‘’Oh, ya. Sekarang, apa kau bisa melihat seekor tokek yang sedang merayap di luaran ruangan ini?” Tanya Pemimpin Ganendra Ratri
Gandaria langsung menyadari. Bahwa dirinya yang sedang menguping, diketahui oleh mereka yang berada di luaran.
‘’Cendana… Gunakan manteramu…’’ Ucap Kepala Keluarga Cendana
Cendana kemudian memejamkan matanya. Dia mengeluarkan darah dari matanya, lalu merapalkan sebuah mantera yang berbunyi,
‘’Mantera…. Netra Kusuma….’’
Cendana melihat ada seorang wanita yang sedang merayap di tembok dan mencari informasi penting terkait dengan pertemuan keluarganya dengan Ganendra Ratri.
‘’Ada musuh di sana.’’ Ucap Cendana
Gandaria langsung turun. Dia kemudian melarikan diri sekuat mungkin tanpa memperhatikan sekitarannya. Tiba-tiba, Ganendra Ratri sudah berada jauh di depannya,
‘’Mau lari kemana kau, Tikus ningrat?’’ Tanya Pemimpin Ganendra Ratri
‘’Pergerakannya sangat cepat. Apakah ini kemampuan dari Pemimpin Ganendra Ratri?” Tanya Gandaria
‘’Apa kau menyadari bahwa kekalahan umatmu sudah dekat?’’ Tanya Pemimpin Ganendra Ratri
‘’Cih! Apakah kau takut sampai merekrut lagi anggota Ganendra Ratri?” Tanya Gandaria
‘’Aku ingin mengumpulkan sebanyak-banyaknya sekutu demi mendapatkan ambisi dan keinginanku.’’
‘’Pangaweruhan?’’
‘’Wah. Kau memang cerdas. Aku sangat tertarik untuk menjadikanmu sebagai anggota dari kelompok kami.’’
‘’Cuih! Lebih baik aku mati menjadi bangkai di banding harus merendahkan harga diriku untuk tergabung bersama sekelompok manusia pembunuh.’’ Jelas Gandaria
Pemimpin Ganendra Ratri itu sedikit tersinggung. Gandaria mengeluarkan pusaka Garumbawanya. Dia kemudian melemparkannya ke langit, mendadak, pusaka itu mengeluarkan cahaya yang sangat cerah hingga menyilaukan mata. Saat itu juga, Gandaria berhasil melarikan diri dari kejaran Pemimpin Ganendra Ratri dengan mengantongi banyak informasi penting.
Tapi tetap saja, hati dan pikirannya sangat kacau karena kematian Kang Waris sudah diperhitungkan oleh banyak pihak karena keberadaannya sangat berbahaya.
Gandaria akhirnya kembali ke Siti Udapiyan dan mengatur sembah kepada Nyi Kanthi. Dia kemudian memberitahu bahwa kematian Kang Waris sendiri adalah kematian yang disebabkan oleh permainan politik dari Keluarga Cendana yang terkenal licik akan keinginan ambisinya.
Tidak cukup sampai di situ, Gandaria juga memberitahu bahwa salah seorang putri raja yang berasal dari Keluarga Cendana telah bergabung dengan Ganendra Ratri.
‘’Anak itu memiliki sebuah kanuragan yang bernama Netra Kusuma, yaitu Kanuragan yang penggunanya dapat melihat apapun bahkan aliran darah seseorang. Tapi ada yang lebih mengerikan dari itu….’’ Jelas Gandaria
‘’Katakan, Gandaria….’’
‘’Cendana mampu merusak saraf bahkan aliran darah hanya dengan kemampuan Netrakusumanya.’’ Jelas Gandaria
Nyi Kanthi kemudian mengatur pernafasannya. Dia sadari, bahwa dunia sudah berubah. Banyak sesekali sesuatu yang di luar batas benar-benar tidak diketahuinya.
‘’Gandaria… Bagaimana dengan anak dari Kang Waris? Apakah dia baik-baik saja?” Tanya Nyi Kanthi
‘’Aku menitipkannya kepada padepokan pendekar. Di sana, dia mempelajari Kitab Bala Bumi .’’ Jawab Gandaria
‘’Untuk apa dia mempelajari Kitab Bala Bumi? Apakah ada sesuatu yang sedang direncanakan Kang Waris?’’ Tanya Nyi Kanthi
‘’Kang Waris ingin agar Badru menjadi teman bagi penerus Raden Sepuh dari keturunan Trah Artonegoro. Dia harus mengabdi setia.’’ Jelas Gandaria
Nyi Kanthi mengangguk paham. Dia mengerti mengapa alasan Kang Waris menitipkan anaknya ke padepokan para pendekar. Di sana, Kitab Bala Bumi hanya dipelajari sekali dalam seumur hidup oleh manusia yang berjiwa kuat.
Selain itu, mereka tidak akan bisa mempelajarinya. Badru adalah harapan baru bagi Siti Udapiyan dan juga seluruh orang-orang ningrat lainnya.
‘’Gandaria….’’
‘’Saya, Nyai….’’
‘’Maukah kau kuberi tugas? Tampaknya, kau akan kembali setelah 15 tahun setelahnya. Apakah kau siap?’’ Tanya Nyi Kanthi
‘’15 Tahun setelahnya?’’
‘’Kau satu-satunya abdi yang sudah mengikuti banyak jejak kehidupanku di sini. Peperangan ningrat di masa lalu adalah pembuktian nyata bagimu. Aku ingin, kau jadi satu-satunya abdi yang bisa menjaga seluruh rahasia kita pada hari ini. Negeri ini sedang tidak baik-baik saja. Jika Keluarga Cendana mengirimkan anaknya ke Ganendra Ratri, berarti, ada tujuan lain yang mereka incar.’’ Jelas Nyi Kanthi
Nyi Kanthi berdiri dari duduknya. Dia kemudian mendekati Gandaria yang sedang menunduk sembah terhadap Nyi Kanthi.
‘’Pergilah mengembara kemana pun kau inginkan. Pantau selalu Badru. Aku yakin, anak itu memiliki potensi besar di masa yang akan datang. Kelak, jika ada pergerakan besar untuk penangkapan penerus dari Raden Sepuh, kau harus ikut dan berada di garda terdepan demi melindungi penerusnya.’’ Perintah Nyi Kanthi
Gandaria hanya mengangguk seolah mengiyakan perintah resmi dari Nyi Kanthi. Perintah itu seakan menjadi perintah terakhir bagi Gandaria untuk meninggalkan sejenak Siti Udapiyan dan mengembara untuk nantinya dia kembali hadir di medan pertempuran Peperangan Ningrat-3.