Oalah Gus Nasibmu
Narasi tentang kasus Gus Yaqut tidak pernah benar-benar dibicarakan di ruang yang netral. Sejak awal, ia sudah diletakkan di tengah medan perang ideologis. Terlalu banyak orang yang memandangnya bukan sebagai individu yang sedang menghadapi proses hukum, melainkan sebagai simbol dari posisi politik dan ideologi tertentu. Ketika seseorang sudah menjadi simbol, publik tidak lagi tertarik pada fakta. Mereka hanya ingin membenarkan keyakinannya masing-masing.
Gus Yaqut bukan hanya mengalami apa yang disebut sebagai pembunuhan karakter, orkestrasi untuk membuat publik menolak sosoknya secara personal sehingga apa pun yang ia katakan tidak lagi dipercaya. Ia juga dihadapkan pada sidang tanpa berkas hukum, yang hakimnya telah membawa vonis sejak sebelum sidang dimulai, hakim itu adalah netizen yang terbiasa menghakimi sebab dasar sensasi dan bukan bukti.
Padahal catatan fakta menulis indeks kepuasan jamaah mencapai 88,20 (Sangat Memuaskan), tertinggi kedua dalam sejarah haji. Skema Murur berhasil mencegah kepadatan fatal di Muzdalifah untuk tujuan keselamatan dan kenyamanan jamaah, tim berhasil memberikan perlindungan khusus bagi puluhan ribu jamaah lansia hingga mencatat efisiensi anggaran senilai Rp601 miliar
Bandingkan dengan kasus Tom Lembong, Nadiem Makarim, dua nama ini boleh saja diperdebatkan secara politik, tetapi mereka tidak membawa beban konflik ideologis yang panjang di masyarakat. Tidak ada kelompok besar yang sejak lama menunggu momentum untuk menyerang mereka secara identitas. Karena itu, ketika kasus muncul, publik relatif bisa melihatnya sebagai perkara hukum, bukan sebagai pertempuran keyakinan.
Sementara dalam kasus Gus Yaqut, sejak lama ia sudah memiliki โmusuh ideologisโ yang tidak sedikit. Setiap pernyataan, setiap kebijakan, bahkan setiap rumor tentang dirinya langsung menjadi amunisi bagi kelompok yang memang sejak awal tidak menyukainya. Akibatnya, ruang diskusi menjadi keruh. Orang tidak lagi bertanya: apa fakta hukumnya? Yang terjadi justru pertanyaan lain: siapa yang sedang diserang dan siapa yang menyerang?
Di luar benturan ideologi, ada kelompok yang murni bergerak sebab pergeseran kekuasaan. Inovasi dan terobosan Gus Yaqut telah mengganggu jalan mereka dalam mempertahankan akses dan kuasa. Kasus ini juga magnet, untuk para penunggang gelap fragmentasi internal guna kerja repositioning atau pergeseran pengaruh menuju suksesi kepemimpinan di masa depan.
Situasi ini diperparah oleh kondisi internal Nahdlatul Ulama sendiri. Tidak seperti organisasi lain yang ketika tokohnya tersandung masalah langsung merapatkan barisan, di kalangan Nahdlatul Ulama justru sering terlihat perbedaan sikap yang sangat terbuka. Sebagian memilih membela, sebagian memilih diam, sebagian lagi bahkan ikut mengkritik. Ketidakkonsistenan ini membuat narasi di ruang publik semakin liar.
Bandingkan dengan organisasi lain yang ketika tokoh bahkan bendaharanya terseret kasus, kader dan simpatisannya bergerak hampir serempak. Mereka membangun narasi yang sama, membentuk solidaritas yang kuat, dan menjaga persepsi publik agar tetap terkendali. Entah benar atau tidak, yang jelas mereka tampak kompak.
Di sinilah letak โkesialanโ Gus Yaqut. Ia menghadapi badai dari luar, tetapi di dalam rumahnya sendiri angin tidak bertiup ke arah yang sama. Akibatnya, opini publik terbentuk bukan oleh kejernihan fakta, melainkan oleh kerasnya suara. Dan dalam ruang yang penuh kebisingan seperti itu, objektivitas hampir selalu menjadi korban pertama.
Gus Yaqut, Nasibmu..,
#GusYaqutadalahKita