Former Minister of Finance Indonesia. Senior Lecturer, Department of Economics University of Indonesia. Visiting Scholar Harvard CID

Joined May 2011
1,923 Photos and videos
Pinned Tweet
Just out “ Tax Administration versus Tax Rates: Evidence from Corporate Taxation in Indonesia” American Economic Review Dec 2021. M. Chatib Basri, Mayara Felix, @rema_nadeem and @Ben_Olken pubs.aeaweb.org/doi/pdfplus/…
39
179
858
Terima kasih. Ya, salah satu alasan saya adalah agar exposure dunia terhadap Indonesia dan ekonom2 Indonesia meningkat dalam dunia akademik khususnya bidang ekonomi. Sebagai seorang guru, sudah saatnya generasi ekonom muda muncul di percaturan ekonom dunia. Saya yakin para ekonom muda skrg jauh lebih baik dari saya.
Replying to @ChatibBasri
Congratulation pak chatib. Suatu privilege sekali bisa join di Royal Economics Society. Kalau ada yg menarik-menarik program RES bs share pak, utk eksposure ekonom ekonom Indonesia.
3
31
277
10,441
Sebuah kehormatan bergabung dengan the Royal Economic Society Programme Steering Group. Sebuah kehormatan bisa ikut berkontribusi pada pertumbuhan yang lebih adil dan berkelanjutan di Global South.
12
27
353
10,325
Untuk yg tertarik tentang Asrul Sani, sedikit bagian dari tulisan saya tentang Asrul Sani dalam buku “Seabad Setahun Asrul Sani: Intelektualitas, Jejak Karya, dan Sineas Indonesia" bagi yang tertarik silahkan di dapatkan bukunya.
7
45
268
8,044
The @Pandemic_Fund is mobilising critical support in the fight against the Ebola outbreak in Central & Eastern Africa. Team Europe is the Fund’s largest donor, including a €427M contribution from the European Commission.
🆕The @Pandemic_Fund Governing Board convened an extraordinary session to activate Emergency Financing Procedures enabling a rapid and flexible response to the Ebola outbreak in Central & Eastern Africa. Up to US$220.6M in rapid financing will help strengthen surveillance, labs, health workforce capacity, and cross-border coordination. The outbreak continues to disrupt lives across the region, highlighting the need for rapid and coordinated support. This is about acting with urgency and purpose to save lives and contain transmission, while strengthening long-term preparedness and building resilient health systems. Learn more from the Board’s statement: thepandemicfund.org/news/sta… @nsanzimanasabin @ChatibBasri @PriyaBasu2017 @Dr_JeanKaseya @AfricaCDC
6
13
2,483
Saya mendapat hadiah buku yang amat penting hari ini: RM Surya Tak Pernah Tenggelam dan Rendang Traveler yang dititipkan penulis nya untuk saya. Luar biasa. Treasured!
11
31
295
10,238
M. Chatib Basri retweeted
MensesnegPrasetyo Hadi, mengindikasikan pemerintah sedang mengevaluasi pengurangan anggaran program prioritas Makan Bergizi Gratis (MBG). Besaran pengurangan anggaran MBG masih dihitung Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan Badan Gizi Nasional (BGN). brief.id/mensesneg-prasetyo-…
1
3
5
1,200
Selamat untuk sahabat lama saya Marcus Mieztner atas terbitnya buku ini. Marcus adalah dedicated scholar tentang Indonesia. Bukunya bisa di akses disini press.umich.edu/Books/R/Ruli…
21
99
625
25,737
Bila ia masih hidup, 10 Juni 2026, Asrul Sani akan berumur seratus tahun. Angka yang bulat. Nyaris seperti penanda. Seolah waktu ingin memberi jeda, meminta kita berhenti sejenak, lalu menoleh ke belakang. Bagi banyak orang, Asrul adalah penyair Angkatan ’45, penulis, penerjemah, dan salah satu penanda penting kebudayaan Indonesia pascakemerdekaan. Bagi saya, ia adalah Pak Cun—adik kandung ayah saya, paman yang tinggal di rumah kami di Menteng ketika saya masih kecil, dan yang lewat percakapan-percakapan sederhana membentuk cara saya melihat dunia. Dari sanalah saya berkenalan dengan Albert Camus dan Anton Chekhov. Dua nama yang, pada usia saya yang masih kecil saat itu, terasa jauh. Tidak sepenuhnya saya pahami. Tetapi buku-buku itu tidak hilang. Mereka menunggu. Dan bertahun-tahun kemudian, ketika saya membacanya kembali dengan mata yang sudah lebih banyak melihat hidup, saya menyadari apa yang sebetulnya ingin Pak Cun sampaikan: bahwa hidup tidak selalu harus dijelaskan. Camus menolak karena ia tahu penjelasan yang tersedia tidak memadai untuk menampung absurditas keberadaan. Chekhov menolak karena ia tahu penjelasan akan mengkhianati tekstur sebenarnya dari pengalaman manusia. Dan Asrul, meski tidak pernah secara eksplisit berdialog dengan keduanya, sampai pada posisi yang serupa lewat jalannya sendiri. Saya masih terlalu kecil untuk memahami cara pikirnya. Kata-katanya mungkin lewat begitu saja, tidak sempat tinggal. Yang tersisa justru yang lain: potongan-potongan keseharian, hal-hal kecil yang tidak penting, tapi bertahan. Saya masih ingat, kamarnya yang remang. Bau rokok yang menyengat, bukan sekadar asap, tapi semacam jejak yang menetap di udara. Debu di sana sini, obat nyamuk bakar hijau melingkar di lantai, pelan-pelan habis, menyisakan abu yang rapuh. Buku-buku berserakan, seperti tak pernah selesai dibaca atau mungkin tak ingin disusun. Di atas meja kerja, ada sebuah mesin tik tua. Diam, tapi terasa hidup, seolah setiap saat bisa kembali berbunyi, memecah sunyi dengan ritme yang teratur. Lalu tikus itu. Ia tidak diusir. Tidak dijebak. Pak Cun justru memberinya makan sedikit, secukupnya. Seolah ada kesepakatan yang sederhana: tikus itu tidak mengganggu buku-bukunya, dan sebagai gantinya, ia diberi ruang untuk hidup. Dalam logika sehari-hari, ini mungkin tampak ganjil. Tapi di situ ada sesuatu yang lain: cara melihat dunia yang tidak selalu ingin mengalahkan. Tetapi yang paling saya ingat adalah pertanyaan dan nasihat yang ia tinggalkan. “Mengapa seseorang masuk universitas?” Bertahun-tahun kemudian, ketika saya akan berangkat ke Australian National University untuk studi pascasarjana, ia berkata: “Yang paling penting dalam sekolah bukanlah buku teks. Buku teks di setiap universitas akan sama saja. Yang penting adalah bagaimana kamu mengembangkan pemikiran, berdiskusi, bertukar gagasan, dan belajar dari lingkungan di sekitarmu.” Pesan itu mengubah cara saya melihat pendidikan. Pendidikan bukan sekadar soal memperoleh pengetahuan atau gelar. Ia juga tentang memelihara rasa ingin tahu dan membuka diri terhadap gagasan-gagasan baru. Puluhan tahun kemudian, saya masih memikirkan pertanyaan dan nasihat itu. Barangkali memang begitu cara seorang guru bertahan hidup: bukan dalam jawaban yang ia berikan, melainkan dalam pertanyaan yang terus menemani kita. Disarikan dari tulisan saya untuk buku peringatan 100 tahun Asrul Sani.
43
194
867
40,086
Sebuah kehormatan bagi saya untuk bergabung dengan Centre for Economic Transition Expertise di London School of Economics, UK. New chapter
64
137
1,219
645,123
Walau dominasi krupuk lebih kuat dari ayam, namanya tidak berubah dari bubur ayam ke bubur krupuk. Sambelnya tetap enak
106
42
425
42,323
M. Chatib Basri retweeted
Sebagai Co-Chair Pandemic Fund, saya mengapresiasi langkah cepat yang diambil untuk mendukung respons terhadap wabah Ebola. Dalam kesehatan global, perbedaan antara pengendalian dan krisis sering kali ditentukan oleh seberapa cepat kita bertindak.
As the Ebola outbreak evolves, the @Pandemic_Fund is coordinating with countries and partners to scale up surveillance, diagnostics, risk communications & #CommunityEngagement, and other emergency response measures in the Democratic Republic of Congo (DRC), Uganda, and neighboring countries. Our financing will complement broader efforts underway. The U.S. has announced up to $32.6 million in additional funding and support to fund up to 50 treatment clinics and associated frontline response efforts in DRC and Uganda. The @EU_Commission is allocating €15 million in humanitarian assistance. An extraordinary meeting of the Fund’s Governing Board will be held this week to determine concrete measures, including the reprogramming of available resources to meet urgent needs.
2
14
61
18,538
Ketika wabah muncul, kecepatan menjadi kunci. Pandemic Fund bekerja bersama negara-negara dan para mitra untuk memperkuat respons terhadap Ebola di Afrika Tengah dan Timur. Bertindak lebih awal selalu lebih baik daripada menanggung biaya krisis yang lebih besar di kemudian hari. #PandemicPreparedness #EbolaResponse
11
11
43
9,897
This is precisely why the Pandemic Fund exists: to help countries move quickly when outbreaks emerge. Early action, strong coordination, and timely financing are essential to contain risks before they become larger crises.
🆕The @Pandemic_Fund Governing Board convened an extraordinary session to activate Emergency Financing Procedures enabling a rapid and flexible response to the Ebola outbreak in Central & Eastern Africa. Up to US$220.6M in rapid financing will help strengthen surveillance, labs, health workforce capacity, and cross-border coordination. The outbreak continues to disrupt lives across the region, highlighting the need for rapid and coordinated support. This is about acting with urgency and purpose to save lives and contain transmission, while strengthening long-term preparedness and building resilient health systems. Learn more from the Board’s statement: thepandemicfund.org/news/sta… @nsanzimanasabin @ChatibBasri @PriyaBasu2017 @Dr_JeanKaseya @AfricaCDC
1
6
17
8,871
RT @HelenClarkNZ: .@Pandemic_Fund mobilising up to $220.6 million to combat #Bundibugyo outbreak, focused on strengthening disease surveill…
17
M. Chatib Basri retweeted
🆕The @Pandemic_Fund Governing Board convened an extraordinary session to activate Emergency Financing Procedures enabling a rapid and flexible response to the Ebola outbreak in Central & Eastern Africa. Up to US$220.6M in rapid financing will help strengthen surveillance, labs, health workforce capacity, and cross-border coordination. The outbreak continues to disrupt lives across the region, highlighting the need for rapid and coordinated support. This is about acting with urgency and purpose to save lives and contain transmission, while strengthening long-term preparedness and building resilient health systems. Learn more from the Board’s statement: thepandemicfund.org/news/sta… @nsanzimanasabin @ChatibBasri @PriyaBasu2017 @Dr_JeanKaseya @AfricaCDC
1
14
32
23,092
M. Chatib Basri retweeted
As the Ebola outbreak evolves, the @Pandemic_Fund is coordinating with countries and partners to scale up surveillance, diagnostics, risk communications & #CommunityEngagement, and other emergency response measures in the Democratic Republic of Congo (DRC), Uganda, and neighboring countries. Our financing will complement broader efforts underway. The U.S. has announced up to $32.6 million in additional funding and support to fund up to 50 treatment clinics and associated frontline response efforts in DRC and Uganda. The @EU_Commission is allocating €15 million in humanitarian assistance. An extraordinary meeting of the Fund’s Governing Board will be held this week to determine concrete measures, including the reprogramming of available resources to meet urgent needs.
6
15
22,701
Berikut artikel saya tentang Sumitro Djojohadikusumo di Tempo digital dalam panjangnya. Karena keterbatasan ruang, versi cetaknya di majalah Tempo lebih ringkas dari versi ini. Terima kasih Tempo telah meyediakan versi panjangnya. Bagi mereka yang tertarik membaca versi panjang nya, bisa di lihat disini tempo.co/ekonomi/pemikiran-e…
3
82
373
23,551
M. Chatib Basri retweeted
gw cuma mau bilang : PP 20/2026 ini bagus karena nutup celah pihak2 yg ga layak dapet fasilitas tarif umkm untuk manfaatin fasilitas tsb melalui skema bunching dan firm splitting (mecah usaha dan omset) yg aneh itu ya orang2 ga ngerti yg bikin berita bombastis. my take: banyak kebijakan plenger rezim. yg ini bukan salah satunya.
Work! alamat pengangguran makin naik inimah, jebol jebol dah tu angka claim JHT, pusing lagi deh orang pajak di kantor gue abis ini.
138
777
2,444
383,672