Mereka yang kerap berteriak "Kebangkitan Khilafah" di medsos dan kajian-kajian terbatas itu memang nyari duitnya di situ. Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin dan Khilafatul Muslimin itu industri. Ada putaran omzet di ceruk itu.
Mereka tahu, tidak ada satu negarapun yang mau memakai sistem Khilafah hari ini. Karena semua orang tahu, Khilafah adalah bangunan politik totaliter yang dinormalisasi dengan dogma agama. Ini sejenis struktur Emporium yang telah ditinggalkan manusia ribuan tahun lalu. Tapi "salesnya" di sini pasti akan jalan terus, karena nyari cuan dengan jualan agama itu tidak perlu menghamburkan banyak keringat.
Justeru kasihan yang telah menjadi korban indoktrinasinya. Ratusan orang yang bergabung dengan 1S1S di Iraq dan Suriah sejak 2012 itu tadinya bukan kombatan atau teroris — bahkan melihat senjata api pun mungkin tidak pernah. Mereka kebanyakan berasal dari keluarga mapan. Ada dokter, pilot, pegawai negeri, mahasiswa, bahkan ada pengusaha sawit yang punya aset puluhan milyar.
Lalu kenapa mereka sekeluarga mau meninggalkan tanah kelahirannya dan setiba di sana membakar paspor negara asalnya?
Ya karena mereka terhipnotis oleh bualan "Kebangkitan Khilafah" yang selalu dijual oleh para begundal itu di Indonesia! Di medsos, kampus, pesantren hingga ke masjid-masjid, mereka berbusa-busa memperdagangkan "Khilafah", sembari memposisikan demokrasi sebagai musuh bersama.
Sehingga ketika Al-Baghdadi menyatakan dirinya Khalifah umat Islam dunia, mereka percaya bahwa Khilafah telah bangkit di Iraq dan Suriah. Mereka kemudian berangkat dengan keyakinan mendalam bahwa kepindahannya atas perintah Tuhan.
Hari ini mereka hidup mengenaskan dan memelas ingin kembali ke Indonesia. Sayangnya PBB menyatakan mereka tak berkewarganegaraan (stateless) dan harus tinggal di kam-kam isolasi di Suriah. Sementara sales Khilafahnya masih bisa menikmati makanan enak yang disediakan oleh Pancasila tanpa harus cemas oleh desing peluru dan bau mesiu.
Hingga hari ini, para sales Khilafah itu masih dengan leluasa mencari korban-korban baru di seluruh Indonesia. Mereka memanfaatkan kebebasan berbicara yang disajikan berlimpah oleh sistem negara yang selalu mereka caci maki, bernama Demokrasi.
"Human civilization should progress, not regress — wanting to reverse human civilization is called: primitive!"