Kami sekeluarga merupakan atlet Duolingo. Gw mau anak-anak belajar bahasa asing sebanyak mungkin. Kami menyarankan pilihan bahasanya, mereka memilih mau belajar yang mana.
Anak pertama belajar bahasa Jepang dan bahasa Inggris. Anak kedua belajar bahasa Jepang, Spanyol, dan Inggris. Anak ketiga belajar bahasa Inggris, Jepang, Spanyol, Prancis, dan Jerman.
Hal tersulit dalam belajar adalah konsistensi. Iya. Terlalu banyak distraksi. Oleh karena itu gw dan Pandita Ratu menjadikan anak-anak sebagai partner Friends Streak agar mereka terlatih untuk konsisten.
Daily Streak dan Friend Streak ini kami jadikan sebuah check point. Lalu kami buat dua aturan yang harus mereka penuhi jika mereka ingin bermain ponsel:
1. Sudah belajar minimal setengah jam di Duolingo,
2. Sudah menyelesaikan daily mission di Duolingo.
Keduanya harus terpenuhi. Kalau kebetulan hari itu misinya agak susah, ya mau tak mau mereka harus menghabiskan lebih dari setengah jam. Sesusah apa? Misalnya hari itu harus Complete 4 Perfect Lessons. Ini susah. Gw pun masih sering tak bisa selesai dalam waktu singkat.
Apakah efektif? Di keluarga gw, cukup efektif. Menghabiskan minimal setengah jam untuk belajar tanpa distraksi. Untuk bisa menyusun kalimat sederhana di bahasa yang mereka pelajari, ya sudah bisa.
Gw tidak meminta mereka untuk bisa mahir bahasa asing dalam sekejap. Tidak. Gw mau mereka konsisten belajar. Tidak ada target bahwa mereka harus bisa berbahasa asing dalam kurun waktu tertentu. Gw cuma mau mereka belajar. Perkara mereka nantinya mahir, gw anggap sebagai bonus.
Membentuk kebiasaan itu susah. Mumpung anak-anak masih mau nurut sama orang tuanya, ya kami memaksa mereka untuk terbiasa belajar.
Pernah kepikiran ga kenapa aplikasi belajar kayak Duolingo dan sebagainya itu semua pasti punya fitur streak? 🔥✨
Buat dibanggain user?
Buat lucu-lucuan aja?
It’s actually deeper than that.
Streak itu bukan sekadar fitur, tapi terkait psikologi kamu.