Gue iseng ngecek kasus ini, padahal pasokan listrik di Jawa-Bali selalu surpuls dan PLN tekor nombokinnya karna skema Take or Pay. Padahal, Indonesia ini salah satu eksportir batu bata terbesar tapi kok stoknya nyaris habis?
Tulisan singkat ini bakal membuka mata kalian lebar-lebar, terutama yang kontra terhadap kebijakan ekspor satu pintu lewat Danantara. Kalau kata gue mah, kelen jangan gampang tergiring opininya, jangan sampai kritikan kelen soal ini malah nguntungin perusahaan yang melakukan underpricing.
Setelah gue nyari informasi, setidaknya ada 2 perusahaan batu bara yang mengeruk SDA di Indonesia tapi justru listing-nya di Singapura:
1. Geo Energy Resources Limited, terdaftar resmi di papan utama (Mainboard) bursa Singapura sejak tahun 2012. Seluruh konsesi pertambangan utamanya berada di Indonesia. Geo Energy Group memiliki dan mengoperasikan tambang melalui anak-anak usahanya di Kalimantan (seperti PT Sungai Danau Jaya dan PT Tanah Bumbu Resources) serta proyek batu bara masif di Sumatra Selatan (PT Triaryani). Mereka juga bekerja sama dalam bentuk joint venture dengan BUMN Indonesia, PT Bukit Asam Tbk.
2. Resources Global Development Limited, aktif melantai di bursa Singapura (Catalist board). Perusahaan ini terus melakukan ekspansi kepemilikan tambang di Indonesia. Mereka memiliki porsi saham mayoritas di berbagai perusahaan tambang lokal di Kalimantan Tengah (seperti PT Tri Oetama Persada dan PT Batubara Development) dengan total cadangan batu bara mencapai ratusan juta ton.
Selain Geo Energy dan RGD yang berbasis di Singapura, terdapat beberapa perusahaan milik konglomerat Indonesia (swasta nasional) atau entitas luar negeri non-Singapura yang sengaja listing sahamnya di Bursa Singapura (SGX) untuk mengakses pasar modal global, namun aset tambang batu baranya 100% berada di Indonesia:
Silkroad Nickel Ltd (sebelumnya bernama East Asia Power Holding); Sakari Resources Limited (sebelumnya Straits Asia Resources); BlackGold Natural Resources Limited, merupakan perusahaan-perusahaan yang listing di Singapura tapi ambil batu baranya dari Indonesia.
Nah yang jadi pertanyaan, jika Indonesia adalah salah satu eksportir terbesar, kenapa stok batu bara untuk kebutuhan domestik menipis? Jawabannya adalah meskipun memproduksi batu bara dalam jumlah masif, mayoritas pasokan secara alami mengalir ke luar negeri karena memberikan keuntungan finansial yang jauh lebih besar bagi para pengusaha tambang.
Maka dari itu, kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (PT DSI) ditujukan untuk memotong celah penyelewengan keuangan, utamanya guna mencegah praktik underpricing (under invoicing) dan transfer pricing dalam perdagangan komoditas strategis nasional.
Disclaimer aja: dari dulu gue selalu bilang, kalo kebijakan baik bakal gue dukung tapi kalo kebijakannya TOLOL, ya bakal gue maki2.