✨🕌🌙
Ia tinggalkan istri pertamanya, ia tinggalkan pula harta, kaum, dan tanah airnya. Di antara bukit bebatuan tandus, padang gurun Hejaz itu, ia hanya menginginkan satu hal, kehadiran seorang putra. Dan ketika rasa cinta itu tumbuh begitu besar, Sang Pencipta justru mengujinya dengan perintah yang tak satupun orang di muka bumi ini sanggup memenuhinya. Apa yang Allah minta bukanlah 100 unta, 1000 kambing, atau gembalaan terbaik lainnya, melainkan Ismail, putra yang amat ia natikan.
“Laksanakanlah, Ayah. InsyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102).
Terbaring sudah Ismail, menanti ayunan pisau menuju leher dari tangan Ibrahim, ayahnya sendiri. Dan ketika Khalilullah lulus dari ujian itu, Allah mengganti putranya dengan seekor domba besar dari surga.
Allah tak pernah benar-benar menghendaki kematian Ismail. Yang Allah ingin lihat adalah apakah Ibrahim tetap menempatkan Allah di tempat tertinggi di hatinya, bahkan ketika yang diminta adalah sesuatu yang paling ia cintai?
Dan seperti halnya yang dialami Ibrahim, apakah kita telah jujur kepada diri sendiri, adakah “Ismail” itu dalam hidup kita hari ini?
Mungkin ia hadir dalam bentuk karier yang kita jaga lebih keras daripada ibadah. Dalam bentuk pencapaian yang membuat kita lupa bersyukur. Dalam bentuk gengsi yang kita pertahankan lebih kuat daripada kejujuran. Atau dalam bentuk rasa aman yang membuat kita lebih percaya pada apa yang kita miliki daripada pada Dia yang memberi.
Karena pada akhirnya, yang diuji bukan apa yang ada di tangan kita. Yang diuji adalah siapa yang sesungguhnya bertahta di hati kita.
Selamat Hari Raya Iduladha.
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
WALILLAAHILHAMD
Semoga kita dimampukan untuk mencintai banyak hal di dunia ini, tanpa pernah menempatkan apa pun lebih tinggi dari Allah. 🤲🏻
#Iduladha #Eidmubarak #DiriuntukNegeri