I think it's less about intelligence and more about expectations. A lot of Indonesian horror audiences grew up with horror that's built around ghosts, jump scares, and clear explanations.
Kenapa kritik backrooms dari orang indo kebanyakan "gajelas, ga dikasih tau secara gamblang maksudnya apa" Sementara dari foreigners menurut mereka pesannya itu terlalu tersurat/spoonfed ke audiens ?