Padahal secara keseluruhan pernyataan Wamendikti Prof Stella ini berpihak pada pekerja kampus, para Dosen untuk bisa dihargai dan mendapatkan kesejahteraan lebih.
Termasuk di dalamnya ia sodorkan gagasan yang pada dasarnya sudah diterapkan di negara-negara yang maju pendidikan tingginya, yaitu Dosen adalah Talent yang bernilai tinggi, yang mestinya bisa dihargai dan diperebutkan layaknya profesional di dunia kerja (swasta istilah Prof Stella).
Contoh praksis yang ia sodorkan adalah status pekerjaan dosen (di Universitas Negeri). Status PNS di Indonesia, menurut Stella, justru menghambat dosen berkembang, menghambat riset di perguruan tinggi, dan menghambat kemajuan serta kualitas Universitas itu sendiri.
Ini namanya Prof Stella sedang menawarkan gagasan untuk perubahan. Kita boleh setuju, boleh tidak. Tapi menjawabnya bukan lewat kesimpulan sepotong video, lantas marah-marah dan maki-maki. Mestinya direspon secara akademik juga.
Prof Stella melontarkan gagasan bukan dari ruang kosong. Dari duduk di toilet, atau merokok di pojokan seperti kebanyakan dosen Indonesia yang banyak tidak berguna. Tapi berdasarkan data empiris dan sudah diterapkan di berbagai Negara yang maju Universitasnya.
Di AS, dosen itu dikontrak dan bisa berpindah-pindah dari satu perguruan tinggi ke perguruan tinggi lain. Tergantung apa yang ditawarkan dan minatnya. Di Eropa kebanyakan pun demikian menerapkan tenure-track seperti di AS.
Bahkan di China, dosen itu bukan PNS negara yang disebut Gongwuyuan (Civil Servant) tapi staf unit layanan publik atau Shiye Renyuan. Kini China pun mengadobsi model AS Eropa dengan tenure-track tsb.
Mestinya ini bisa dijadikan ajang untuk saling melontarkan gagasan, mumpung pemegang kebijakan berani melontarkan gagasan yang revolusioner.
Bukan malah maki-maki ndak karuan, jadi kelihatan sekali memang negara kita ini rendah literasinya. Bahkan yang sudah berpendidikan PhD atau Doktor sekalipun (yang ikut marah dan maki-maki dari potongan video).
Mari jadi intelektual sebenarnya. Mencari tahu, mempelajari, menganalisa secara lengkap, baru membuat pernyataan, entah mendukung, mengkoreksi atau menolak. Jangan malah terhasut dengan video pendek, sehingga tak ada bedanya kalian dengan orang tidak makan bangku pendidikan tinggi.
Salam
FK