Ath-Thur ditutup dengan perintah yang menjadi ekspresi kepercayaan paling total kepada Allah dalam kondisi apapun, di waktu apapun:
"Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, karena sesungguhnya kamu berada dalam pengawasan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun, dan di malam hari bertasbihlah kepada-Nya dan juga di waktu terbenamnya bintang-bintang."
β QS. Ath-Thur: 48-49
'Fa innaka bi a'yuninaa' karena sesungguhnya kamu dalam penglihatan Kami.
'Bi a'yuninaa' dalam mata Kami. Bukan sekadar dalam pengetahuan Kami.
Tapi dalam perhatian langsung, dalam pandangan yang tidak pernah berpaling.
Rasulullah SAW yang menanggung beban risalah, yang dituduh gila dan pendusta, yang ditinggalkan dan ditekan.
Allah mengatakan kepadanya:
"Aku melihatmu.
Aku memperhatikanmu.
Kamu tidak sendirian.
Dan dari kepastian itu lahirlah perintah yang paling natural bertasbih.
Bukan karena dipaksa.
Bukan karena kewajiban yang menghimpit.
Tapi karena jiwa yang tahu ia dipandang oleh Allah tidak bisa tidak merespons dengan pujian.
Ath-Thur mengajarkan bahwa gunung-gunung yang menjadi saksi wahyu Allah, dan yang akan berjalan di hari kiamat adalah simbol dari satu kebenaran yang tidak bisa digoyahkan oleh apapun:
Bahwa Allah selalu melihat. Bahwa janji-Nya selalu terpenuhi. Dan bahwa jiwa yang sabar dalam menunggu ketetapan-Nya tidak pernah menunggu sia-sia.
Surat Ath-Thur Ketika Gunung Menjadi Saksi atas Perjanjian yang Paling Agung.
Ath-Thur adalah surat kelima puluh dua dalam Al-Qur'an. 49 ayat.
Dan namanya berarti gunung Gunung Sinai, tempat Allah berbicara langsung kepada Musa, tempat Taurat diturunkan, tempat yang menjadi saksi bisu atas perjanjian paling agung antara Allah dan manusia dalam sejarah Bani Israil.
Tapi surat ini bukan tentang Musa. Bukan tentang Taurat. Bukan tentang Bani Israil.
Ia adalah surat tentang kepastian bahwa semua yang dijanjikan Allah pasti terjadi, bahwa tidak ada kekuatan di alam semesta ini yang bisa menunda atau membatalkan keputusan-Nya, dan bahwa gunung yang menjadi saksi wahyu Allah adalah simbol dari keteguhan kebenaran yang tidak bisa digoyahkan.