We deserve clean renewable energy, just and sustainable development. Act today for now and the future. Tweet in ID and EN. For more: linktr.ee/trendasia

Joined November 2017
988 Photos and videos
Pinned Tweet
🏳️🏳️🏳️ Tanda tangani petisi desakan Presiden @prabowo segera tetapkan Status Bencana Nasional 👉🏼 s.id/TetapkanBencanaNasional
80
4,406
7,781
195,456
Apakah kalian para warga ada yang ngalamin ga bisa upload-upload story aksi hari ini?
1
11
16
1,237
Trend Asia retweeted
BlackRock was the first high-profile asset manager to quit the industry's #NetZero initiative. Now, billions are being pulled. "The fact is, @BlackRock has been losing institutional clients... Asset owners [are] unhappy with BlackRock's approach to #climate risk." – Will van de Pol, chief executive at Market Forces @IgnitesAsia 🔗 ignitesasia.com/lead/enroll/…
6
6
275
Trend Asia retweeted
🆕 The #LocalLeadershipLabs just launched a compendium of prototypes that turn #LocallyLedDevelopment into action. Explore prototypes on leadership, resourcing, collaboration, storytelling & more. ⬇️ Download our latest document 'Local by Design'. web.civicus.org/TurningLLDin…
3
6
463
Nyungsepnya rupiah sampai jebloknya IHSG tak bisa dilepaskan dari kepercayaan investor terhadap iklim investasi Indonesia termasuk persoalan tata kelola Danantara itu sendiri. Lewat PP 19/2026, holding investasi di bawah Danantara bisa dapat suntikan modal dari APBN yang kita tahu semua, sumber utamanya dari pajak rakyat. Pertanyaannya sekarang, di mana laporan keuangan Danantara yang bisa diakses rakyat? Nihil!
Ini sudah keterlaluan. PP terbaru Danantara (PP 19/2026 Pasal 31A) buka jalan APBN suntik modal ke holding Danantara lewat pintu belakang. Dividen BUMN hilang dari APBN, tapi Danantara boleh minta injeksi dana negara seenaknya. Negara gak boleh dapat duit dari BUMN, tapi Danantara boleh minta duit negara? Udah gila bener ini negara. Uang pajak rakyat diputar untuk kepentingan apa? market.bisnis.com/read/20260…
2
63
157
19,418
Oleh karena itu, Trend Asia tergabung dalam Koalisi Danantara Monitor bersama @celios_id , @antikorupsi , @enter_nusantara , @CerahID , dan @ClimateRangers resmi mengajukan permohonan informasi kepada Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) antara lain: 1. Laporan Keuangan Danantara tahun 2025 2. Laporan Tahunan Danantara tahun 2025, dan 3. Laporan Keuangan Danantara Kuartal I tahun 2026. Selain itu, koalisi juga meminta BPK untuk membuka informasi soal proses pemeriksaan audit keuangan Danantara.
1
1
7
431
Prabowo sudah 117 kali terbang, apa hasilnya? YNTKS Yang jelas, perjalanan itu menghasilkan sekitar 9,1 juta kg CO₂ dari perjalanan luar negeri, setara emisi tahunan 246.980 penduduk Probolinggo, atau bahkan setara 17 kali Eras Tour-nya Taylor Swift. Perjalanan luar negeri tersebut menghabiskan sekitar 3,6 juta liter avtur untuk menempuh total jarak lebih dari 457 ribu kilometer. Operasional ini melibatkan tiga pesawat, dengan enam kali penerbangan menggunakan dua pesawat secara bersamaan.
Animasi peta seluruh perjalanan Prabowo: - 26 kali perjalanan - 58 kunjungan - 39 kota - 29 negara Sumber: Wikipedia kunjungan terakhir ke Perancis yang belum ada di sana.
1
32
63
3,913
Ketika rakyat bergulat dengan bencana yang berulang akibat krisis iklim dan harga kebutuhan pokok yang terus naik, Prabowo justru meninggalkan kesan sedang "vacancy", berlibur dengan uang negara tanpa rencana diplomasi yang jelas.
1
1
3
608
Perlu diingat Pak @prabowo, kualitas kepemimpinan tidak diukur dari seberapa sering ia terbang ke berbagai penjuru dunia, melainkan sejauh mana kebijakannya bisa menyejahterakan rakyat yang dipimpinnya.
2
276
Trend Asia retweeted
🇮🇩 Indonesia's rupiah fell to record low of 17,935 per US Dollar.
194
1,701
4,181
398,888
“Sumatera mati listrik karena kabel transmisi putus akibat cuaca ekstrem,” katanya PLN. KATANYA. Masih bisa ya semua disalahkan ke cuaca ekstrem, sementara sistem ketenagalistrikan sebesar ini gampang banget bermasalah lagi dan lagi? In this economy tarif listrik terus naik, tetapi warga Sumatera masih sering mengalami mati listrik.
Bukan sabotase blackout Sumatera karena putusnya kabel transmisi karena cuaca ekstrem Bareskrim Polri memastikan tidak ditemukan unsur sabotase dalam insiden blackout yang melanda hampir seluruh Pulau Sumatera. Kesimpulan itu diumumkan usai investigasi lapangan bersama PLN, di Jakarta Selatan, Senin (25/5/2026). Tim investigasi menemukan kabel transmisi SUTET di Tower 175–176, Desa Tempino, Muaro Jambi, putus secara tiba-tiba akibat cuaca ekstrem. Gangguan itu memicu blackout berantai di Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Jambi, hingga sebagian Sumsel. “Gangguan dipengaruhi oleh faktor cuaca yang mengakibatkan terputusnya kabel transmisi secara tiba-tiba. Kenapa kami bisa pastikan ini bukan faktor sabotase? Karena kerusakan atau putusnya kabel atau jaringan ini tidak rapi,” ujar Dirreskrimsus Polda Jambi Kombes Pol Taufik Nurmandia, Minggu (24/5/2026).
1
4
16
1,782
Seperti disampaikan Juru Kampanye Energi Fosil Trend Asia, Novita Indri, ketergantungan ini perlu dievaluasi serius, bukan malah dilanjutkan dengan memperpanjang umur batubara lewat solusi semu seperti gas. Indonesia perlu beralih dari sistem listrik lama berbasis pembangkit besar dan jaringan panjang menuju energi terbarukan berbasis komunitas agar lebih tangguh dan adil.
1
134
Warga Sumatera terus membayar listrik, tetapi masih harus menghadapi risiko pemadaman berulang. Ketika sistem gagal, masyarakat yang lebih dulu menanggung kerugiannya. PLN harus bertanggung jawab dan memberikan kompensasi yang layak. Transisi energi seharusnya melindungi warga, bukan sekadar menjaga listrik tetap menyala saat kondisi normal. Baca selengkapnya trendasia.org/sumatera-black…
152
Trend Asia retweeted
Dulu di era kolonial, Indonesia punya 170-an pabrik gula aktif dan jadi eksportir gula terbesar kedua di dunia. Sekarang? Pabriknya tinggal 50-an, dan kita malah jadi importir gula terbesar. Padahal teknologi sekarang jauh lebih maju. Kok bisa?
Para Petani Tagih Janji, Ribuan Batang Tebu Ditumpahkan di Depan Pabrik Gula Blora dlvr.it/TSpsj0
116
1,743
6,604
246,120
Trend Asia retweeted
1. kelas menengah memang kelompok yang paling mudah terkena "squeeze" terutama pajak Kel miskin: Banyak bekerja di sektor informal yang Membayar sedikit atau tidak membayar PPh. Menerima berbagai subsidi dan bantuan sosial.
This chart should terrify policymakers. Indonesia’s middle class did not merely slow down. It went into reverse. After two decades of expansion, the middle-class population peaked at 61.5 million people in 2018, representing 23% of the population. By 2026, that figure had fallen to just 46.6 million people, or 16.6%. That is not a cyclical slowdown. That is structural deterioration. For years, policymakers celebrated GDP growth, infrastructure projects, commodity booms, and headline investment numbers. But the ultimate scorecard of an economy is whether ordinary people become wealthier over time. This chart suggests millions of Indonesians are moving in the opposite direction. The middle class is the economic engine of every successful country. They buy homes, cars, insurance, consumer goods, education, travel, financial products, and healthcare. They generate tax revenue. They create small businesses. They drive domestic demand. When the middle class shrinks, the economy loses its most important customer. The uncomfortable question is simple: where did the gains go? If GDP is growing, if conglomerates continue expanding, if commodity exports remain large, then why are fewer Indonesians qualifying as middle class than eight years ago? More importantly, if you are born poor in Indonesia today, what ladder exactly are you supposed to climb? If you are exceptionally good looking, perhaps you can monetize attention through social media. If you are academically gifted, perhaps you can break into an ultra-competitive institution like MBB, survive years of brutal expectations, and eventually use that platform to do something bigger. If you are entrepreneurial, maybe you build a business against overwhelming odds. If you are lucky, perhaps you benefit from family connections, inheritance, or access to opportunities unavailable to most people. But an economy cannot rely on exceptionalism. A healthy economy creates millions of pathways upward, not a handful of lottery tickets. The situation becomes even more concerning when you consider that well-paying white-collar jobs are becoming increasingly scarce. Many multinational companies that once established regional operations, technology centers, shared-service hubs, and professional offices in Indonesia have either downsized, relocated, or shifted future expansion elsewhere. Those jobs were not valuable merely because of the salaries they paid. They were valuable because they transferred knowledge, management expertise, technical skills, global best practices, and professional networks into the local workforce. Over time, they helped develop intellectual capital that could later be recycled into entrepreneurship, leadership positions, startups, and domestic businesses. When those opportunities disappear, the loss is not limited to employment. The country also loses a training ground for future managers, engineers, consultants, analysts, and business leaders. Human capital compounds just like financial capital. Once that pipeline weakens, rebuilding it can take years or even decades. The bigger risk is that social mobility slows. When people stop believing hard work leads to a better life, trust in institutions weakens. Aspirations decline. Consumption slows. Talent leaves. The country’s most productive people increasingly look elsewhere for opportunity. This is why Indonesia’s biggest economic challenge is no longer growth. It is upward mobility. A country cannot thrive without a growing middle class, a steady pipeline of high-quality jobs, and a clear path for ordinary people to join it. And right now, all three appear to be moving in the wrong direction.
1
23
65
4,444