Penyesalan memang hal yang tak dapat terelakkan—beberapa orang berkehendak 'tuk bermain Tuhan. Terlebih, jika miliki kekuasaan. Kini, saatnya Damar lupakan masa lampau dan menikmati kekayaan; ia adalah manifestasi dari kata bajingan.
ㅤㅤㅤ
“Katanya mau benerin penyesalan? Sekalian aja kalian tetep di sini, mati—jadi suatu memori yang gak akan pernah bisa kembali ke masa nanti. Ya, ‘kan?” tutur Joesoef meyakinkan kerumunan yang masih isyaratkan wajah pucat pasi.
ㅤㅤㅤ
ㅤ
“Nakula Martinus. Umur 18. Oh, ini Nana ya? Nyesel dan pengin balik ke 2010 buat memohon ke emaknye buat jangan punya anak lagi. Buset, kagak mau kasih sayangnya kebagi dua. Serakah amat,” tutur Ucok ringan, diiringi keheningan, sebelum kemudian tawa pecah mengisi ruangan.
ㅤ
ㅤㅤㅤ
Mendapati surat yang t’lah dikirimkan, tiga serangkai Damar, Joesoef, dan Ucok hanya terkekeh perlahan. Suasananya kelewat santai, seolah tak ada nyawa yang baru saja direnggut, dan terbengkalai.
ㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤ
Nyaris setiap hari Galih mesti menghadapi penghinaan ini. Reputasinya sebagai siswa teladan sudah pupus lantaran rumor yang beredar ke sana kemari. Berkali-kali ia berusaha mengadukan penghinaan ini; selalu digagalkan lagi.
ㅤㅤㅤ
ㅤㅤㅤ
“BAJINGAN! LO DAN KAWAN-KAWAN YANG BIKIN GUE MAKIN DIPUKULIN TIAP HARINYA, ‘KAN?! INI SEMUA BERAWAL DARI GUE NOLAK UCOK, ‘KAN?! TERUS JOESOEF YANG BIKIN FOTO SEOLAH-OLAH GUE CIUMAN DAN NYEBARIN ITU, ‘KAN?”
ㅤㅤㅤ