Singapura dapet banyak pujian dari Swifties yang selesai nonton konser Taylor Swift di sana. Walaupun didatengin sama ratusan ribu orang yang nonton konser, selesainya mereka bisa bergerak rapi, stasiun MRT-nya gak kepenuhan, gak ada yang kacau, semua aman terkendali. Crowd management kelas dunia banget.
Ada satu orang turis dari luar negeri yang bilang dari selesai nonton konser dia bisa sampe di hotel tempat dia nginep kurang dari satu jam aja.
***
Ngebuat suatu acara konser di negara maju emang gak bisa dilakukan secara asal-asalan. Bahkan, mereka biasanya ngikutin aturan promotor dunia yang nentuin tempat dan ngejalin kerja sama bareng seluruh transportasi dan infrastruktur di berbagai kota besar.
Salah satu contohnya adalah AEG, sebuah organisasi yang langganan menggelar event di berbagai belahan dunia. Mereka punya akses ke banyak gedung besar, alat transportasi, kebersihan, keamanan, dan banyak lagi kebutuhan konser.
Kalo ada suatu acara di sebuah negara yang dihelat sama sebuah sponsor yang kelasnya seperti AEG, dia biasanya punya standar bahwa crowd management dan keamanannya bisa dijamin.
Mungkin gak ada salahnya kalo Indonesia mulai kerja sama bareng promotor besar dunia sekelas itu.
Mungkin banget ini berpotensi munculin masalah, karena promotor besar biasanya butuh akses detil ke sebuah kota. Mulai dari gimana keamanannya, kebersihannya, sampai akses dan infrastruktur transportasinya.
Ngomongin soal infrastruktur, tau gak kamu gimana cara menilai sebuah kota yang punya infrastruktur yang bener dan bagus?
Kamu bisa ngeliat gimana kota itu mendatangkan massa besar, misalnya sebanyak seratus ribu orang dalam sebuah acara, tapi gak jadi bikin macet dan acaranya berjalan aman.
Kapan kira-kira menurut kamu Indonesia, atau minimal Jakarta dulu deh, bisa begitu?