Dia bangun lebih pagi dari kebanyakan orang, tapi tetap tidur dengan perut kosong.
Masihkah kita bilang dia malas?
Setiap hari, jutaan orang di negeri ini bekerja tanpa henti, menjadi buruh bangunan, tukang cuci, pedagang kaki lima, pemulung. Mereka bekerja dengan tangan, punggung, dan nyawa. Tapi tetap miskin. Bukan karena kurang usaha. Bukan karena tak punya mimpi. Tapi karena sejak awal, mereka bertarung di medan yang tidak adil.
Kita diajari bahwa โrajin pangkal kayaโ, seolah semua orang memulai dari garis yang sama. Tapi kenyataannya tidak. Ada yang lahir di rumah nyaman dengan pendidikan terbaik, ada yang lahir di gang sempit tanpa listrik dan buku. Lalu kita menilai mereka dengan ukuran yang sama, seolah hidup ini kompetisi adil.
Kemiskinan tidak selalu terlihat dramatis. Kadang ia bersembunyi di balik seragam bersih anak sekolah yang diam-diam tak membawa bekal. Di balik senyum sopan seorang ojek online yang masih mencicil HP, jaket, bahkan motornya. Kita memujinya โrajinโ, tapi tetap menganggap kemiskinannya sebagai kegagalan pribadi.
Padahal, mereka tidak butuh belas kasihan. Mereka butuh kesempatan.
Mereka butuh dunia yang berhenti menertawakan usaha orang kecil dan mulai membuka ruang agar usaha itu bisa tumbuh.
Jadi sebelum kita menyebut seseorang โtidak berusahaโ, tanyakan dulu:
Berapa banyak pintu yang sudah ditutup di hadapannya?
Dan berapa lama lagi dia harus lapar agar akhirnya kita percaya, bahwa dia sudah berjuang sekuat tenaga?