Jawaban pertama membuat Baram mengerutkan kening, yang kemudian bertambah ketika jawaban berikutnya menyusul.
Mendadak sekali, tidak biasanya?
Baram berdehem, telinganya memanas karena tadi sempat berkata yang menurutnya tidak sopan -
- jika diucapkan kepada orang yang baru dikenal.
"Oh, boleh jelaskan misinya," katanya kepada orang di sebrang sana yang ternyata seorang wanita. Padahal di tangannya masih tergenggam berkas tentang misinya hari itu.
@coolccaine
"Jun, kenapa diam saja?" tanya Baram (atau kau bisa sebut dia Geest saat bertugas) kepada rekan kerjanya. Sejak lima tahun lalu Geest dan Jun tidak pernah dipisahkan dalam tugas, alasannya sederhana: karena tidak semua orang cocok dalam memandu Geest yang dikenal individualis.
ㅤ
Nyatanya dia hanya malas bicara. Buktinya, di sepanjang perjalanannya beberapa topik sudah dia angkat meski tidak ada balasan dari seberang.
"Kau bisu, ya?" tanya Baram lagi, sesekali mengetuk alat pendengar yang terpasang di telinga.
@coolccaine
️️
Lucu dan unik banget namanya, Om. Om Hoi, ahahahahaha. Tentu pernah, dong. Sering dikira garang, aslinya kayak pepes tahu alias lembek, apalagi kalau lagi galau.
️️
ㅡ Tiga sosok yang tadi menjadi sasaran si pemindah jiwa kini keluar dari persembunyian. Mereka menggenggam kain dengan tulisan bertinta putih dengan erat, ialah jimat yang sebelumnya mereka ributkan.
"Apa aku bilang. Kalau tidak ada jimat ini, pasti tidak akan ada yang menyelamatkan kita," kata salah satu di antara mereka, yang bisa aku pastikan merupakan orang yang mempercayainya klenik murahan dari Desa Gaema.