Cerita ex boss.
Waktu itu team dapat penghargaan marketing. Nggak tanggung-tanggung, 6 penghargaan sekaligus dari komunitas marketing.
Seremoni penerimaan penghargaan diadakan di Hotel Mulia, Senayan, bareng perusahaan-perusahaan besar nasional.
Sebelum seremoni aja cabang negara lain udah emailin kita ngucapin selamat. Bahkan owner pusat, seorang bangsawan Eropa, juga ngucapin selamat pakai video. Pak Owner bangga setengah mati.
Jadi setelah acara selesai, Pak Owner pengen mentraktir kita semua makan malam. Tempatnya terserah kita!
Wooooww...
Mulailah keluar nama-nama tempat mahal. Tapi setelah diskusi singkat, kita semua sepakat makan di Hotel Mulia aja. Soalnya waktu itu sudah lewat jam 8 malam, dan kita memang lagi ada di sana.
Pak Owner juga setuju.
Semua sudah happy.
Tapi sekonyong-konyong terdengar suara yang menandakan awal dari bencana itu.
Pak Boss:
“Masa kita di sini juga? Bosen atuh. Ke Plaza Indonesia aja! Mall elit tuh!”
(FYI, saat itu sudah lewat jam 8 malam.)
Gw:
“Pak, kayaknya pas sampai sana udah tutup deh. Jalanan macet.”
Pak Boss:
“Bukaaaaa… Kan ada Starbucks.”
Karyawan 1:
“Minum kopi malem-malem? Nggak mau ah, nanti saya nggak bisa tidur.”
Pak Boss:
“Makanya jangan makan warteg melulu! Di sana kan ada jual yang lain. Ada coklat, ada teh!”
Karyawan 2:
“Rasanya sih beneran tutup deh pak mallnya.”
Pak Boss:
“Bukaaa!! Kan Starbucks buka 24 jam!”
Melihat tanda-tanda team bakal ngegebukin Pak Boss, Pak Owner mencoba menengahi.
Pak Owner:
“Ya udah, kita ke sana aja. Kalau tutup, tinggal cari tempat lain.”
Berangkatlah kita.
Dan benar saja.
Macet.
Begitu sampai di Plaza Indonesia, jam sudah hampir pukul 10 malam.
Semua toko sudah beres-beres mau tutup.
Tapi Pak Boss tetap kekeh jalan ke Starbucks.
Sampai Starbucks jam 22:10.
Tutup.
Pak Owner:
“Nah, udah tutup. Sekarang kalian tentukan mau ke mana.”
Tapi Pak Boss tetap yakin pasti masih ada café yang buka.
Alhasil, dua belas bapak-bapak berpakaian jas dan dasi keliling mall yang setengah gelap kayak rombongan anak hilang, sambil diliatin satpam dari kejauhan.
Waktu menunjukkan pukul 22:30 sampai akhirnya kita menemukan Coffee Bean yang masih buka.
(Waktu itu masih ada Coffee Bean. Sekarang sudah tutup permanen.)
Pelayan langsung mengingatkan dari awal.
“Pak, kami cuma buka sampai jam 11 ya.”
Kita pun pesan.
Minuman datang sekitar jam 22:45.
Pegawai café langsung mulai merapikan kursi. Rolling door sudah diturunkan setengah. AC malah sudah dimatikan daritadi.
Ditambah lagi suara renovasi toko di seberang berisik banget kayak proyek jalan tol. Jadi kami duduk diam-diaman menikmati minuman kami masing-masing.
Gw rasa pelayan café itu juga bingung.
Ini bapak-bapak pakai jas, pakai dasi, datang rame-rame, ada yang body rambo tapi minumnya coklat imut, terus duduk diam-diaman nggak ngobrol karena renovasinya berisik banget.
Begitulah pesta penghargaan kami, 15 menit duduk diam-diaman.
Pas pulang mall udah gelap banget, ketemu satpam lagi.
Kali ini si satpam yang ngomong:
“Tu orang-orang masih betah aja muter-muter…”