Bruggghhh!
“Wanasura!!” Cahyo segera menghampiri Wanasura dan mengembalikannya ke dalam tubuhnya.
Tapi Wanasura sudah begitu lemah, Wanasudra yang kembali ke tubuh Kliwon pun tak bisa bangkit. Ia kesulitan berjalan di tubuh kecilnya itu.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Danan kebingungan.
Cahyo berusaha berdiri, namun ia tak segera membalas pertanyaan Danan. Ia masih cemas dengan keadaan Wanasura yang hampir tak terasa keberadaanya.
“Nan..” Paklek memanggil, ia menunjukkan sosok perempuan yang sebagian tubuhnya masih tertutupi kain kafan.
“Siapa dia, Paklek?”
“Entahlah.. tapi yang ia perbuat, sudah menyinggung sosok yang tak bisa kita remehkan,” Jelas Paklek.
Danan mencoba memeriksa anak itu. Ia merasakan ada hal yang janggal dari tubuh perempuan yang lemah itu.
Tapi sebelum Danan menyelami lebih dalam, sesuatu menghantam indranya. Sebuah tekanan yang datang dari segala arah sekaligus, begitu besar hingga udara terasa berat untuk dihirup.
Deg.
Danan gemetar. Bukan gemetar ketakutan biasa. Ini lebih dalam. Tubuhnya bereaksi secara naluriah terhadap sesuatu yang seharusnya tidak ada di sini. Sesuatu yang terlalu besar, terlalu tua…
Dan entah mengapa, ia merasa mengenali kekuatan itu.
Srassssshh!!!
Seketika kabut tebal menutupi gudang tua itu. hujan seketika berhenti, dan pandangan ke luar tertutup sempurna.
Danan dan Cahyo berlari keluar memastikan kehadiran sosok yang datang dengan tiba-tiba itu.
“Siapa?!” Teriak Cahyo.
Saat itu roh ular yang mengancam muncul dari balik kabut, kekuatan hitamnya pekat dan mengancam. Danan dan Cahyo tak mungkin tak mengenali wujud danyang hitam itu.
Tapi sebelum mereka semakin cemas, mereka merasakan kehadiran yang sangat dekat dengan bau tanah setelah hujan. Sosok yang muncul dari kedalaman hutan.
“Kau… Dewi Naganingrum..” Cahyo mengenali benar sosok yang pernah ia hadapi dulu.
Dan Danan menyadari kedatangan sosok yang terlihat lebih tenang.
“Ratu puspa cempaka?”
Danan tak menyangka kedua danyang yang berlawanan itu datang bersamaan di tempat yang jauh dari tempat seharusnay mereka berada.
“Kalian bodoh! Kalian akan menyinggung sosok yang tak bisa kalian hadapi!” Ucap Dewi Naganingrum.
Cahyo gemetar, ia menyadari bahwa sosok itu hadir bersama sosok ular raksasa yang melilit cerobong di pabrik gula itu.
“Aku tak menyangka kalian sampai membunuh Juru Kawit, dia penguasa Alas Kawitan..” Ucap Ratu Puspa Cempaka.
“Dia itu siapa, Ratu?” Tanya Danan yang semakin cemas dengan keputusan yang telah ia ambil..
Ratu Puspa cempaka memperhatikan sekitar sebelum menjawab pertanyaan Danan.
“Aku tak bisa membantu banyak, Kabut ini akan menutupi gudang tua ini, menyembunyikan jasad juru kiting dan menguring roh-roh pengikutnya…
Setidaknya kalian memiliki waktu untuk menemukan apa yang harus kalian perbuat setelah ini..” ucap Ratu Puspa Cempaka.
Sosok sekuat itu sampai turun sendiri, menutupi kejadian yang sekilas terasa biasa saja itu. Seketika Danan sadar bahwa yang mereka lakukan adalah hal yang fatal.
"Jelaskan pada kami!" serunya, suaranya pecah oleh kepanikan yang tak lagi bisa ia tahan. "Apa yang sebenarnya terjadi?! Siapa yang kami singgung?!"
Dewi Naganingrum bergerak mendekat ke arah Cahyo. Auranya menggelap.
Setiap langkahnya membuat udara di sekitar Cahyo terasa semakin tipis. Tapi ia tidak menyerang, ia sama sekali tidak berniat menyakiti wadah Pusaka Ratu Ular itu.
"Jangan libatkan kami," desisnya, suaranya rendah dan bergetar. "Kalian benar-benar sudah menyinggung sosok yang bahkan kami takuti…"
Kabut bergerak perlahan di sekeliling mereka. Dunia terasa membeku.
Dan dari mulut Dewi Naganingrum, jatuh kata-kata yang mengubah segalanya.
"Raja Para Danyang."
***
(Bersambung Part 2)