Suatu ketika di dunia yang terlalu sesak untuk jiwa merindukan kedamaian,
ada nyala kecil muncul.
Ia datang pelan, bara pertama di tengah abu dingin malam bulan Juni yang panjang. Rapuh, hangat, dan hampir tak terlihat, kecuali oleh mata yang sudah terlatih menjaga keheningan. Aku menyambutnya dengan segenap hati, menjaganya seperti embun di ujung daun yang tak boleh disentuh angin.
Lalu datanglah mereka, dengan pertanyaan yang tak pernah berubah.
Merogoh pikiran, menuntut penjelasan.
Mereka yang katanya pernah datang melihat nyala itu. Yang mengaku tahu betapa getir perjalanan hingga bara ini muncul. Tapi rasanya itu hanya sebuah manipulasi berseri agar aku tahu diri. Mereka hanya gelisah ketika ruang di hatiku tak lagi memantulkan bayang mereka. Tak sedang mencari mereka.
Kali ini aku memilih untuk acuh.
Meski tetap kubiarkan perasaan itu merayap, menjadi bahan prosa ini.
Bukan karena benci.
Hanya karena nyala ini terlalu sayang kubiarkan ditiup oleh nafas yang kurang bisa belajar menghormati api orang lain yang tak biasa.
Dan tulisan ini jadi sebuah pernyataan,
sekaligus sebuah permohonan maaf pada diriku sendiri.
Di sini, hanya aku dan nyala kecilku.
Sahabat dalam sunyi yang ramai maupun sepi.
Cukup.