Gue abis nonton YouTube Professor Jiang.
ternyata, setelah nonton video ini gue jadi tau, kalo banyak orang tua miskin yang salah didik anaknya.
tanpa mereka sadar, mereka sendiri yang ngunci anaknya buat tetap miskin dari generasi ke generasi.
disini gue bakal nyampein apa yang bener-bener gue tangkep dari video itu.
dia mulai dari satu pertanyaan sederhana.
"kenapa anak orang kaya cenderung sukses, dan anak orang miskin cenderung tetap miskin?"
kalian pasti mikir jawabannya karena uang?
menurut gue juga bener, tapi professor Jiang bilang jawabannya lebih dalam dari itu.
uang itu akibat. bukan sebabnya.yang bikin perbedaan bukan hartanya, tapi adalah gimana cara mereka ngasuh anak mereka sehari-hari.
dan perbedaan ini sudah ada jauh sebelum si anak masuk sekolah.
Professor Jiang nyebut ada 3 perbedaan utama.perbedaan pertama yaitu dari cara mereka ngomong.
orang tua kaya ngobrol banyak sama anaknya.
kalimatnya panjang. kosakatanya luas. penuh penjelasan dan diskusi balik.
orang tua miskin? biasanya singkat dan langsung.
"iya." "tidak." "pergi sana." kayak kurang diskusi langsung sama anaknya.
menurut gue ini bukan karena mereka nggak sayang, tapi karena mereka capek, stres, dan nggak punya energi lebih.efeknya besar banget.
anak kaya masuk sekolah dengan kosakata yang jauh lebih kaya. lebih gampang ngerti instruksi guru. lebih mudah ngekspresiin diri. lebih percaya diri ngomong di depan kelas.
anak miskin masuk sekolah dan langsung ketinggalan, bukan karena dia bodoh, tapi karena dari rumah emang nggak diajarin cara itu.perbedaan kedua yaitu dari cara sikap.
bayangin dua skenario.
anak kaya nyentuh kompor, tangannya kebakar. orang tuanya duduk, jelasin pelan-pelan.
"api itu panas, bisa bikin luka, makanya kita harus hati-hati ya."
penuh kesabaran. penuh penjelasan. anak merasa dihargai.sekarang skenario yang sama, tapi anak miskin.
"jangan pernah lakuin itu lagi atau kupukul kau!"
selesai. nggak ada penjelasan. nggak ada diskusi.
orang tua miskin cenderung otoriter dan suka memerintah, bukan karena mereka jahat, tapi karena itu satu-satunya cara yang mereka tahu.
cara yang juga dulu dipake orang tua mereka ke mereka.dan pola otoriter ini ngebentuk cara anak ngeliat dunia.
anak kaya tumbuh dengan keyakinan: "dunia ini aman, pendapatku dihargai, dan gue boleh nanya."
anak miskin tumbuh dengan keyakinan yang berbeda: "dunia ini menakutkan, orang dewasa adalah ancaman, dan gue harus nurut tanpa nanya."
bukan salah anaknya. bukan salah orang tuanya juga.
itu pola yang udah diwariskan jauh sebelum mereka lahir.perbedaan ketiga yaitu stabilitas.
orang tua kaya punya uang, jadi mereka bisa nepatin janji.
"minggu depan kita liburan ke Bali."
dan minggu depan, mereka beneran berangkat.
anak itu tumbuh dengan satu keyakinan yang sangat mendasar: dunia bisa dipercaya.
orang yang bilang sesuatu, bakal menepatinya.orang tua miskin juga berjanji.
"minggu depan kita ke McDonald's ya."
anak itu excited. nunggu-nunggu dari hari Senin, tapi minggu depannya, gaji nggak cukup. kebutuhan mendadak datang. nggak jadi.
bukan karena mereka bohong. kondisinya memang nggak memungkinkan dan dari sini semua hal lain mulai masuk akal.
kenapa anak miskin susah percaya sama guru?? susah percaya sama sistem? susah percaya sama masa depan?
bukan karena mereka lemah atau nggak mau usaha.
tapi karena dari kecil, dunia udah ngajarin mereka untuk nggak terlalu berharap.terus gue mikir, emang ada jalan keluarnya?
kata professor Jiang, ada. tapi jalannya nggak gampang.
lo harus ninggalin komunitas lo. nikah ke status lebih tinggi. atau beruntung banget dapet kesempatan yang nggak semua orang dapet.
dan untuk bisa ambil jalan itu, lo harus jadi orang yang sangat individualistis.
berani ambil risiko yang kebanyakan orang di sekitar lo nggak mau ambil.