Tapi memang 'Mr. Blek dari Planet Krismon' adalah nama villain yang sangat ikonik.
Tren superhero lokal macam Saras 008 dan Panji Manusia Millenium di akhir 90-an dan awal 2000-an sebenarnya nyimpan realitas psikologis yg cukup gelap kalau ditarik ke lanskap politik pasca-Orde Baru.
Era itu adalah masa transisi Reformasi yg sangat chaotic, di mana rezim sentralistik otoriter baru aja runtuh. Dampak paling terasa di akar rumput adalah hilangnya kepercayaan total terhadap institusi negara, aparat penegak hukum, dan sistem peradilan. Hukum dianggap impoten dan gampang dibeli.
Di tengah kejatuhan wibawa negara dan krisis aparat inilah, sosok vigilante berupa pahlawan bertopeng yg beroperasi di luar hukum tiba-tiba laku keras dan diagungkan di layar kaca kita.
Lahirnya figur-figur pahlawan independen ini pada dasarnya adalah wujud privatisasi keadilan sekaligus fantasi kompensasi masal.
Via kacamata psikoanalisis bisa kita lihat ketika otoritas yg seharusnya melindungi masyarakat itu terbukti bobrok dan korup, publik secara tidak sadar mendambakan hadirnya "messiah" individu.
Masyarakat butuh figur yg kebal hukum dan bisa membereskan kekacauan secara instan lewat kekerasan murni.
Kita butuh melihat Panji atau Saras menghajar penjahat langsung di jalanan, karena kita tahu persis di dunia nyata, kejahatan struktural dan penjarah negara di masa transisi itu gak pernah benar-benar tersentuh oleh aparat hukum resmi.
Kekerasan ekstra-yudisial ala superhero ini diam-diam dinormalisasi sebagai katarsis untuk publik yg lagi frustrasi melihat aparatnya sendiri tidak bisa diandalkan.
Trus yg bikin dinamika ini makin absurd adalah wujud musuh-musuh yg mereka lawan.
Villain komikal macam Mr. Blek di Saras 008 atau Donclo di Panji Manusia Millenium sebenarnya merepresentasikan kecemasan masyarakat yg sedang kehilangan orientasi politik.
Pasca '98, wujud penjahat negara itu gak lagi tunggal, kejahatan berubah jadi sesuatu yg struktural, banal, dan menyusup di segala lini. Karena publik kebingungan memetakan wujud asli sisa-sisa kejahatan era lama yg menyusup ke era Reformasi, televisi mereduksi ketakutan abstrak tersebut menjadi karakter penjahat teatrikal yg konyol tapi terus-terusan meneror kota.
Pahlawan-pahlawan lokal ini tidak murni sedang membasmi "monster", melainkan sedang mati-matian men-carry sekaligus melawan trauma kolektif sebuah bangsa yg kebingungan mencari pegangan keadilan baru di atas reruntuhan negaranya sendiri.