Allow me to join the discussion about Human-Centric.
@nkskrdwyn
Gimana kalau ternyata agama, moral, sama cara pandang hidup yang kita kira “paling gue banget”… itu bukan 100% hasil mikir sendiri, tapi hasil dibentuk pelan-pelan sama algoritma?
Temen gue William Sudhana (gatau username X nya), share satu perspektif menarik soal AI:
tolak ukur paling simpel dalam pakai AI. Are you controlling it, or are u being controlled?
Di case gue, I don’t outsource my thinking to AI, I work with it.
Relationshipnya diskusi dua arah.
Gue bawa konteks, intuisi, dan judgement.
AI bantu ngebuka sudut pandang, ngetes logika, dan nyusun ulang pikiran gue biar lebih tajam.
Kadang gue setuju, kadang gue bantah.
Dan justru dari proses adu argumen itu clarity kebentuk.
Untuk hal yang masih zero knowledge, AI gue pakai sebagai learning companion. Bukan buat ganti mikir, tapi buat naikin kapasitas mikir.
So for me, AI isn’t a replacement for thinking. It’s a thinking amplifier.