Ini bukan sekedar tentang kandungan ETHANOL.
Begini..
Di Eropa dan AS, campuran etanol (E5, E10, E85) mengikuti standar ketat:
⢠ASTM D4806 (AS) atau EN 15376 (Eropa) yg mengatur kadar air, kemurnian etanol, kandungan sulfur, hingga kadar logam berat.
⢠Etanolnya anhidrat (hampir tanpa air), jadi tidak mudah menyebabkan korosi atau endapan.
⢠Proses blending (pencampuran) dilakukan di fasilitas dengan sistem tertutup dan sensor otomatis, bukan manual.
Sedangkan di Indonesia:
⢠Standar nasional (SNI) untuk bioetanol belum sepenuhnya harmonis dengan ASTM/EN.
⢠Sumber etanol bisa bervariasi: dari tebu, singkong, atau molase dan kualitas antar batch belum seragam.
⢠Infrastruktur blending di kilang dan SPBU juga belum seketat sistem Eropa/AS.
Itu lho alasan Shell, BP, atau Vivo menolak ikut program basefuel etanol Pertamina, karena mereka harus menjaga konsistensi mutu global merek mereka.
Paham lur?