Sedikit tambahan terkait kutu loncat dari POV manajemen. Sebenarnya ngga selalu setiap loncat bikin gaji naik drastis ๐๐ฝ
1โฃ Compben specialist di perusahaan2 aware & bisa baca track record kutu loncat.
HR pernah rekomendasi aku untuk kasih 0% increase seorang kandidat, soalnya yang bersangkutan baru dapat increase signifikan ketika pindah ke kantornya yang sekarang dan itu baru sekian bulan yang lalu.
Jadi rationale untuk dia diberi kenaikan signifikan cukup lemah. Aku align dengan rekomendasi tersebut dan kandidatnya akhirnya nerima & join juga setelah dijelaskan.
Pernah juga direkomendasikan untuk ditolak sama sekali karena terlalu sering loncat, jadinya hanya akan jadi beban dan flight risk kalau kita hire.
Aku align & respect rekomendasi seperti ini dari HR karena mereka punya expertise untuk analisa kandidat seperti di atas. ๐ก
2โฃ Banyak organisasi yang lebih mature sudah punya internal benchmark yang modeling expertise seorang kandidat dan map expertise tersebut ke salary model yang jaga internal parity.
Mereka2 yang kutu loncat biasanya underperforms against this model. Karena seperti yang
@petrabarus bilang, mereka belum gain enough deep expertise dari kantor existing sudah keburu loncat duluan.
Sepanjang karirku, sudah puluhan kandidat yang sampai ke final approval process di mejaku (i.e., sudah lolos technical test dan bisa masuk untuk level tertentu) tapi aku reject karena salary yang diminta ngga worth their assessed expertise level.
Aku prefer jaga fairness ke existing talents daripada hire someone at all costs. โจ
Menurutku sweet spot untuk pindah itu setelah beberapa tahun, kecuali kalau benar2 ada push factor besar sekali dari perusahaan. (e.g., lelah karena ternyata hampir setiap hari lembur ๐จ)
Dari observasiku, waktu 3-6 bulan pertama hanya cukup untuk "warming up" saja, baru setelah itu produktivitas dan personal growth bisa jalan full speed. โฐ
Artinya juga, bagi yang nerima banyak opsi untuk join perusahaan lain, sebaiknya pertimbangkan baik2 mana yang bisa bikin commit untuk setidaknya jangka menengah.
Perusahaan yang kita join akan ada di CV kita untuk selamanya, jadi alangkah sayangnya kalau stance kita adalah "Ah, coba dulu saja deh, kalau ngga enak tinggal resign." (Again, kecuali kalau ternyata ada push factor yang besar sekali setelah kita join)
Terakhir, bagi yang merasa sebentar2 pindah bisa dapat kenaikan tinggi, perlu refleksi apakah bisa tingginya bukan karena kutu loncat, tapi karena sebelumnya memang underpaid dibandingkan dengan market benchmark yang ada. ๐ง
Dari observasiku lagi, sooner or later kenaikannya akan mentok ketika sudah on par dengan market benchmark.
I understand this is a sensitive topic for some, dan pastinya akan ada kutu loncat yang disagree, but this bitter truth about how us from the management side view & handle kutu loncat needs to be said. ๐๐ป
Gw ada opini pribadi soal โkutu loncatโ.
Gw pribadi bakal reluctant ngehire so-called โkutu loncatโ. Kenapa?
tanyaaja.in/p/petrabarus/JlGโฆ
Bukan masalah loyalitas. Tp decision making.
Kalo keseringan pindah kerja, lo tuh gk bisa liat impact kerjaan lo ke customer, bisnis, dan tim.
Istilahnya โyou did not stay long enough to find out (FO) what you f**ked around (FA)โ.
Org yg biasa FO, bahkan clean up their own mess, menurut gw bakal lebih calculating dalam decision making. Dan bakal less FA.
Tetep ada exception, makanya applicant โkutu loncatโ ini gak lgsg gw dismiss. Tp di interview gw tetep drill aja behavior dia dalam decision making.
Gw jg akui, kutu loncat tuh lebih gampang buat naikin pendapatan kok. So you do you. ๐