Filter
Exclude
Time range
-
Near
Replying to @boinextshoor
kenapaaa tbtb yamko rambe😭😭😭
1
9
Mellyana Manuhutu - Yamko Rambe Yamko (feat. Eddy) (1991)
1
163
Jun 13
Replying to @uniquebend
yamko rambe yamko
39
Replying to @matinyarare
Haunga rambe hazviite 😂
65
Un altre bali?? Collons aquets rambe no paren d’obrir locals
2
358
Replying to @kingbtc
Rambe card?
45
#TemanPemilih, Media sosial bukan hanya tempat berbagi informasi, tetapi juga dapat menjadi sarana pendidikan pemilih. Yuk, simak opini dari Bapak Fahri Zulamin Rambe, Anggota KPU Kabupaten Tapanuli Tengah Divisi SDM, Sosdiklih dan Parmas, yang telah terbit di website KPU RI.
1
1
8
Ove ngu ngamba mbi undja mokati ko utuku. Ndjerera ye rambe through the ndoo💃🏾💃🏾💃🏾💃🏾 peak Herero romance
17
HALLO FRIDAY...PART 2 Nhasi ne excitement ye YE GULFSTREAM G550 ndirikuita ma ma doubles LEAVING NO ONE AND NO PLACE BEHIND...Ipapo chete Hon MP ndafara uye matsanangura zvaka jeka uye zvandifadza. Ndayeuka 3 weeks back panda kakuonai mauya ku MASOWE ku Bindura muka tumira vanhu muchiti kumbirai Va Chivayo ndanga ndichida kuva mhoresawo. Hongu ichokwadi kuti ndiri SHANGWITI ipapo handinga rambe hangu asi ini ndiri mwana we musangano and I'm as humble as they come nekuti mese muri vabereki vedu and as well you're the strength of our party across different constituencies countrywide. Saturday morning ndanzwa kuti pana Mai veku CCC Hon Murenyanyi vari kuenda kwa VICTOR nemi mune kodzero yeku svikirana navo ipapo na 11 a.m mopihwawo yenyu 2026 Brand new TOYOTA Fortuner 2.8 GD6 . Choose a colour of your choice ndinadzo dzaka wandisa ipapo. Congratulations to you Honourable Member and musazo kanganwa kupihwawo ne ka 50 thousand USD cash and please chanel it towards your CONSISTENCY DEVELOPMENT needs... MAKOROKOTO MAKURU KWAMURI 🎊🎈💐🎉🎊...I THANK YOU...
193
56
274
116,314
Kegiatan diikuti oleh Koordinator Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM KPU Kabupaten Tapanuli Tengah, Fahri Zulamin Rambe, Sekretaris Juliana Hutasuhut, Kasubbag Partisipasi &Hubungan Masyarakat dan SDM Maruli Nasution, serta staf
2
21
Replying to @TheTriceRozay
hey yamko rambe yamko🙌
1
6
Anakku paud perpisahannya tari yamko rambe yamko kak..
Too much gak sih masih paud tapi foto kelulusan pake makeup dewasa dan slempang gini
30
Replying to @boghoman
😂😂because waiti wakarwara husiku paisabatidzwa rambe kaa. Kaingosvererwa murima bro wopihwa aripadhuze. Haa no mhan😂💔
1
2
42
Untung Lagunya bukan dari bekasi, klo dari bekasi liriknya berubah "Hee... Yamko Rambe Yamko aronawa......Bagen...."
Yamko Rambe Yamko Bukan Dari Indonesia ? Menyambung topik sebelumnya, urgensi belajar bahasa Prancis terasa kurang valid dan relevan sekarang, mengingat ada kebutuhan lain yang jauh lebih mendesak. Ada hal-hal yang jauh lebih mendesak untuk kita pelajari dan perjuangkan sebagai bangsa, terutama soal identitas dan kebudayaan sendiri. Salah satunya adalah lagu yang sering kita nyanyikan sejak SD, tapi asal-usulnya masih penuh tanda tanya sampai sekarang yaitu Yamko Rambe Yamko. Lagu yang dianggap ikon Papua ini, ternyata punya cerita yang jauh lebih rumit daripada yang diajarkan di buku pelajaran. Setelah pertama kali diperkenalkan pada tahun 1963 (menurut Simon Patric Morin), lagu “Yamko Rambe Yamko” lambat laun dianggap sebagai salah satu identitas musik Papua. Hampir semua buku pelajaran di Indonesia, terutama di tingkat sekolah dasar, memperkenalkan lagu ini sebagai lagu daerah Papua. Akibatnya, lagu ini pun kerap dinyanyikan di berbagai daerah di luar Papua dan menjhadi lagu Papua paling populer setelah Apuse. Namun, beberapa tahun terakhir lagu ini sering menjadi bahan perdebatan di kalangan tokoh Papua. Salah satunya pada tahun 2020, ketika isu ini memicu diskusi panjang, Papua Language Institute menggelar webinar khusus yang menghadirkan seniman, komposer, musisi, pemerhati budaya, antropolog, dan berbagai ahli lainnya untuk membahas Yamko Rambe Yamko. Dalam periode waktu tersebut, Ketua Dewan Kesenian Tanah Papua, Nomensen Mambraku, menyatakan dengan tegas bahwa dari ratusan suku yang ada di Tanah Papua, tidak ada satu pun suku yang mengakui bahwa lirik Yamko Rambe Yamko merupakan bahasa mereka. Penelusuran mengantarkan ke banyak kemungkinan, mulai dari adanya kesamaan dalam lirik lagu Yamko Rambe Yamko dengan bahasa Swahili di Afrika tengah. Namun, ketika penelusuran dilanjutkan ternyata Yamko Rambe Yamko justru tidak menggunakan bahasa Swahili. Hanya beberapa kata saja yang dianggap bagian dari bahasa tersebut atau mirip. Kasus seperti Yamko Rambe Yamko ini semakin penting dibahas karena banyak sekali bahasa daerah kita yang sedang terancam punah atau bahkan sudah hilang. Ketika penutur asli semakin sedikit, literatur dan dokumentasi hampir tidak ada, maka lagu-lagu atau warisan lisan seperti ini pun menjadi sulit dilacak kebenarannya. Akibatnya, muncul perdebatan panjang seperti yang terjadi, apakah ini benar bahasa asli suku tertentu, atau hanya ciptaan atau modifikasi yang kemudian dianggap sebagai identitas Papua. Ironisnya, di saat kita masih punya banyak “Yamko Rambe Yamko” yang belum terpecahkan dan ratusan bahasa daerah yang sedang sekarat, justru muncul arahan, untuk sekolah di Indonesia belajar bahasa Prancis. kita belum serius melestarikan bahasa dan budaya sendiri, tapi sudah terburu-buru mengadopsi bahasa asing secara massal. Bukannya kita anti bahasa asing, seharusnya energi, anggaran, dan perhatian pemerintah lebih dulu diarahkan untuk menyelamatkan bahasa-bahasa daerah kita yang sekarat, mendokumentasikan warisan lisan, dan memastikan generasi muda mengenal akar budayanya.
3
466
Replying to @Sudgarrr
Pertama kali tau kalau Yamko Rambe Yamko ini bukan lagu asal Indonesia Timur pas Arie Keriting dan Mamat Alkatiri bahas di sebuah podcast. Sebelumnya kita taunya kalau lagu itu lagu Papua. Bayangkan sekian tahun misinformasinya bertahan tanpa ada kejelasan.
1
13
610
Yamko Rambe Yamko Bukan Dari Indonesia ? Menyambung topik sebelumnya, urgensi belajar bahasa Prancis terasa kurang valid dan relevan sekarang, mengingat ada kebutuhan lain yang jauh lebih mendesak. Ada hal-hal yang jauh lebih mendesak untuk kita pelajari dan perjuangkan sebagai bangsa, terutama soal identitas dan kebudayaan sendiri. Salah satunya adalah lagu yang sering kita nyanyikan sejak SD, tapi asal-usulnya masih penuh tanda tanya sampai sekarang yaitu Yamko Rambe Yamko. Lagu yang dianggap ikon Papua ini, ternyata punya cerita yang jauh lebih rumit daripada yang diajarkan di buku pelajaran. Setelah pertama kali diperkenalkan pada tahun 1963 (menurut Simon Patric Morin), lagu “Yamko Rambe Yamko” lambat laun dianggap sebagai salah satu identitas musik Papua. Hampir semua buku pelajaran di Indonesia, terutama di tingkat sekolah dasar, memperkenalkan lagu ini sebagai lagu daerah Papua. Akibatnya, lagu ini pun kerap dinyanyikan di berbagai daerah di luar Papua dan menjhadi lagu Papua paling populer setelah Apuse. Namun, beberapa tahun terakhir lagu ini sering menjadi bahan perdebatan di kalangan tokoh Papua. Salah satunya pada tahun 2020, ketika isu ini memicu diskusi panjang, Papua Language Institute menggelar webinar khusus yang menghadirkan seniman, komposer, musisi, pemerhati budaya, antropolog, dan berbagai ahli lainnya untuk membahas Yamko Rambe Yamko. Dalam periode waktu tersebut, Ketua Dewan Kesenian Tanah Papua, Nomensen Mambraku, menyatakan dengan tegas bahwa dari ratusan suku yang ada di Tanah Papua, tidak ada satu pun suku yang mengakui bahwa lirik Yamko Rambe Yamko merupakan bahasa mereka. Penelusuran mengantarkan ke banyak kemungkinan, mulai dari adanya kesamaan dalam lirik lagu Yamko Rambe Yamko dengan bahasa Swahili di Afrika tengah. Namun, ketika penelusuran dilanjutkan ternyata Yamko Rambe Yamko justru tidak menggunakan bahasa Swahili. Hanya beberapa kata saja yang dianggap bagian dari bahasa tersebut atau mirip. Kasus seperti Yamko Rambe Yamko ini semakin penting dibahas karena banyak sekali bahasa daerah kita yang sedang terancam punah atau bahkan sudah hilang. Ketika penutur asli semakin sedikit, literatur dan dokumentasi hampir tidak ada, maka lagu-lagu atau warisan lisan seperti ini pun menjadi sulit dilacak kebenarannya. Akibatnya, muncul perdebatan panjang seperti yang terjadi, apakah ini benar bahasa asli suku tertentu, atau hanya ciptaan atau modifikasi yang kemudian dianggap sebagai identitas Papua. Ironisnya, di saat kita masih punya banyak “Yamko Rambe Yamko” yang belum terpecahkan dan ratusan bahasa daerah yang sedang sekarat, justru muncul arahan, untuk sekolah di Indonesia belajar bahasa Prancis. kita belum serius melestarikan bahasa dan budaya sendiri, tapi sudah terburu-buru mengadopsi bahasa asing secara massal. Bukannya kita anti bahasa asing, seharusnya energi, anggaran, dan perhatian pemerintah lebih dulu diarahkan untuk menyelamatkan bahasa-bahasa daerah kita yang sekarat, mendokumentasikan warisan lisan, dan memastikan generasi muda mengenal akar budayanya.
Diplomasi Bahasa Yang Salah Kaprah Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang semakin berat akhir-akhir ini, lahir sebuah pengumuman di bawah langit Paris. Entahlah, apakah ini ironi atau bentuk kelalaian kolektif kita. Ketika negeri kepulauan ini, yang kaya akan 718 bahasa daerah, justru lebih bersemangat mengajak anak-anaknya mengucapkan “Bonjour” daripada menyelamatkan bisikan nenek moyang yang kini semakin samar dan bahkan sudah hilang. Saat ini, dari berbagai bahasa yang ada di Indonesia, hanya 18 bahasa yang masih berstatus aman, sementara 29 bahasa sudah masuk kategori terancam punah, 8 bahasa dalam kondisi kritis, dan 5 bahasa telah benar-benar punah dalam beberapa wajtu terakhir. Krisis ini paling parah terjadi di wilayah timur Indonesia: di Papua dan Papua Barat, puluhan bahasa kecil seperti Mander, Namla, Usku, Maklew, Awban, dan Saponi nyaris tak lagi memiliki penutur muda Di Maluku dan Maluku Utara, bahasa-bahasa seperti Hulung, Samasuru, Piru, Hoti, Kajeli, dan Ibo hampir lenyap dari ingatan hidup, sementara di Sulawesi dan Nusa Tenggara, bahasa Ponosakan, Adang, dan Enggano juga berjuang mempertahankan napas terakhirnya Seharusnya, sebagai bangsa yang begitu kaya kedaerahan, kita bangga dan berani memprioritaskan warisan sendiri, bukan teriak antek-antek asing yang ujung-ujungnya malah disuruh belajar bahasa asing. Alih-alih menghabiskan triliunan rupiah untuk belajar bahasa Prancis, lebih baik anggaran tersebut untuk menambah kebutuhan kurikulum sebelum ini, mendistribusikan buku ajar ke pelosok dan berbagai daerah, menaikan gaji guru dan menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Atau fokus dalam perbaikan kurikulum Bahasa Inggris, ini lebih mendesak dilaksanakan, bagaiamana tidak, bahasa Inggris sebagai bahasa internasional utama, yang memiliki 1,5 milliar penutur. Seharusnya kita menjadikan permasalahan krisis bahasa daerah kita menjadi isu nasional. Seharusnya kita menjadikan kepunahan dan ancaman kepunahan ratusan bahasa daerah sebagai isu mendesak, bukan sekadar catatan kecil di sudut laporan Badan Bahasa, melainkan agenda utama yang digaungkan di setiap tingkat pemerintahan, bukan alih-alih malah disuruh belajar bahasa Perancis dan Portugis. Seharusnya kita mendobrak sebuah langkah nyata, merevitalisasi bahasa daerah melalui program di sekolah, dokumentasi digital, festival budaya, dan penggunaan sehari-hari di lingkungan keluarga. Pada akhirnya, negeri yang membiarkan akar bahasanya layu akan tumbuh menjadi bisu dan asing terhadap warisan leluhurnya sendiri. Ironisnya, ketidakpedulian kita yang berkepanjangan terhadap bahasa daerah telah membuat banyak warisan lisan punah tanpa bekas, termasuk lagu-lagu yang dulu begitu populer, namun kini tak lagi dipahami maknanya oleh generasi penerus. Di Utas selanjutnya, sepertinya akan membahas lagu Yamko Rambe Yamko sebagai salah satu bahasa yang punah dan menjadi perdebatan hingga hari ini, apakah ini lagu Indonesia atau tidak, yang sangat cocok jika kita jadikan contoh, sebuah kasus krisis bahasa daerah.
7
73
274
23,955
di bengkulu sering di bilang buah tupak, tapi lebih dikenal orang buah rambe
Pernah coba buah ini gak? Ditempatku namanya buah rambe
1
2
2
101
Pernah coba buah ini gak? Ditempatku namanya buah rambe
102
1
52
4,468
Diplomasi Bahasa Yang Salah Kaprah Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang semakin berat akhir-akhir ini, lahir sebuah pengumuman di bawah langit Paris. Entahlah, apakah ini ironi atau bentuk kelalaian kolektif kita. Ketika negeri kepulauan ini, yang kaya akan 718 bahasa daerah, justru lebih bersemangat mengajak anak-anaknya mengucapkan “Bonjour” daripada menyelamatkan bisikan nenek moyang yang kini semakin samar dan bahkan sudah hilang. Saat ini, dari berbagai bahasa yang ada di Indonesia, hanya 18 bahasa yang masih berstatus aman, sementara 29 bahasa sudah masuk kategori terancam punah, 8 bahasa dalam kondisi kritis, dan 5 bahasa telah benar-benar punah dalam beberapa wajtu terakhir. Krisis ini paling parah terjadi di wilayah timur Indonesia: di Papua dan Papua Barat, puluhan bahasa kecil seperti Mander, Namla, Usku, Maklew, Awban, dan Saponi nyaris tak lagi memiliki penutur muda Di Maluku dan Maluku Utara, bahasa-bahasa seperti Hulung, Samasuru, Piru, Hoti, Kajeli, dan Ibo hampir lenyap dari ingatan hidup, sementara di Sulawesi dan Nusa Tenggara, bahasa Ponosakan, Adang, dan Enggano juga berjuang mempertahankan napas terakhirnya Seharusnya, sebagai bangsa yang begitu kaya kedaerahan, kita bangga dan berani memprioritaskan warisan sendiri, bukan teriak antek-antek asing yang ujung-ujungnya malah disuruh belajar bahasa asing. Alih-alih menghabiskan triliunan rupiah untuk belajar bahasa Prancis, lebih baik anggaran tersebut untuk menambah kebutuhan kurikulum sebelum ini, mendistribusikan buku ajar ke pelosok dan berbagai daerah, menaikan gaji guru dan menyelesaikan berbagai masalah yang ada. Atau fokus dalam perbaikan kurikulum Bahasa Inggris, ini lebih mendesak dilaksanakan, bagaiamana tidak, bahasa Inggris sebagai bahasa internasional utama, yang memiliki 1,5 milliar penutur. Seharusnya kita menjadikan permasalahan krisis bahasa daerah kita menjadi isu nasional. Seharusnya kita menjadikan kepunahan dan ancaman kepunahan ratusan bahasa daerah sebagai isu mendesak, bukan sekadar catatan kecil di sudut laporan Badan Bahasa, melainkan agenda utama yang digaungkan di setiap tingkat pemerintahan, bukan alih-alih malah disuruh belajar bahasa Perancis dan Portugis. Seharusnya kita mendobrak sebuah langkah nyata, merevitalisasi bahasa daerah melalui program di sekolah, dokumentasi digital, festival budaya, dan penggunaan sehari-hari di lingkungan keluarga. Pada akhirnya, negeri yang membiarkan akar bahasanya layu akan tumbuh menjadi bisu dan asing terhadap warisan leluhurnya sendiri. Ironisnya, ketidakpedulian kita yang berkepanjangan terhadap bahasa daerah telah membuat banyak warisan lisan punah tanpa bekas, termasuk lagu-lagu yang dulu begitu populer, namun kini tak lagi dipahami maknanya oleh generasi penerus. Di Utas selanjutnya, sepertinya akan membahas lagu Yamko Rambe Yamko sebagai salah satu bahasa yang punah dan menjadi perdebatan hingga hari ini, apakah ini lagu Indonesia atau tidak, yang sangat cocok jika kita jadikan contoh, sebuah kasus krisis bahasa daerah.
Baca selengkapnya: nasional.kompas.com/read/202… Di samping Presiden Perancis Emmanuel Macron, Presiden RI Prabowo Subianto mengaku telah menginstruksikan sekolah-sekolah di Indonesia untuk mulai meningkatkan pembelajaran bahasa Perancis. ~MS #prabowosubianto #emmanuelmacron #prabowokeperancis
1
4
16
25,197