(1) Isi video: mayoritas masyarakat belum terdidik pendidikan tinggi sebabkan kualitas demokrasi kita begitu.
(2) Teks twit: keterwakilan mahasiswa Indonesia di luar negeri masih amat rendah.
Kalau bahas yg pertama, saya setuju pendidikan tinggi yg dimaksud adalah pendidikan untuk keahlian praktikal di vokasi.
Di sini betul banyak orang tidak terlatih sesuai bidang pekerjaannya. Misal lulus SD/SMP sudah harus kerja tanpa keahlian memadai, sehingga produktivitas dan wawasannya (termasuk politik) rendah. Tapi kalau semua orang harus kuliah S1, saya paling depan melawan.
Bahasan kedua tidak ada di video, sudah banyak yg tanggapi secara negatif.
80 mahasiswa Indonesia di Harvard, dibanding Tiongkok yang lebih dari seribu dan ratusan dari Korea.
Dalam gambaran lebih luas, hal serupa terjadi. Pada 2023, Tiongkok mengirim sekitar 1 juta mahasiswa ke luar negeri, India sekitar 800 ribu, sementara Indonesia hanya 70 ribu mahasiswa.
Dan kalau kita lihat lanskap politik Indonesia, 88% kepala rumah tangga & 93% orang dengan hak untuk memilih tidak memiliki pendidikan tinggi.
Angka di atas menunjukkan gejala dari masalah struktural, yang selama ini tidak berhasil membebaskan kita dari middle income trap. Bahwa skor IQ bangsa masih jauh di bawah yang dibutuhkan.
Pertanyaannya bagaimana kita bisa membawa skor itu naik?