Joined February 2013
3,364 Photos and videos
Pinned Tweet
21 Dec 2019
🙏🙏🙏 Welcome to griyadjatikusuma
7
7
60
RJT↙️ retweeted
Replying to @joglodejava
Hi kak salam kenal. Smoga sukses dan jadi akun besar ya kak. Fb please
1
1
1
6
RJT↙️ retweeted
Replying to @joglodejava
Oke kak tunggu yaa
1
1
6
Kisah ini bermula pada Oktober 2019 di sebuah pameran baju (clothing expo) di kota Malang. Di ruang publik yang kasual itulah, NW (inisial) seorang mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya (UB) berusia 21 tahun bertemu dengan RB. RB saat itu berstatus sebagai anggota Polri aktif berpangkat Brigadir Polisi Dua (Bripda) yang berdinas di Polres Pasuruan. Pertemuan itu berlanjut pada pertukaran nomor telepon dan pendekatan intens dari pihak RB. Tak lama, mereka sepakat berpacaran. Namun, hubungan yang tampak biasa ini dengan cepat berubah menjadi ranah eksploitasi seksu4l dan kekerasan. Berdasarkan catatan digital korban dan investigasi Komnas Perempuan, fase awal hubungan ini diwarnai oleh manipulasi. NW pernah diajak ke sebuah penginapan, di mana ia diberikan minuman atau obat yang membuatnya kehilangan kesadaran. Dalam kondisi tidak berdaya (incapacitated), pemerkaosan terjadi. Ketika tersadar, trauma psikologis mulai menghantui NW, terlebih saat ia mendapati dirinya hamil akibat paksaan tersebut. Ketimpangan kuasa antara seorang warga sipil dan oknum aparat membuat NW merasa terperangkap sejak awal. KEHAMILAN PERTAMA DAN TEKANAN YANG MENGUBAH HIDUPNYA (MARET 2020) Memasuki bulan Februari hingga Maret 2020, NW memberitahukan kondisi kehamilannya kepada RB dengan harapan adanya pertanggungjawaban. Namun, RB merespons dengan penolakan keras karena takut karir kepolisiannya hancur dan keluarganya menolak. Menggunakan posisinya untuk mendominasi, RB secara sepihak merencanakan menggugurkan kandungan. Ia membeli pil penggugur kandungan di luar prosedur medis dan mendatangi tempat indekos NW di Malang. Di bawah tekanan verbal dan intimidasi, NW dipaksa menelan obat keras tersebut. Akibatnya, NW mengalami pendarahan hebat dan kesakitan luar biasa. Di masa kritis itu, RB justru mengabaikannya, membiarkan NW menanggung trauma fisik dan ketakutan sendirian di kamar kosnya. KEHAMILAN KEDUA DAN RUNTUHNYA PERTAHANAN (AGUSTUS 2021) Pada Agustus 2021, NW kembali hamil. Usia kandungannya kali ini mencapai empat bulan. Ia mencoba mencari perlindungan dengan melibatkan keluarga RB. Awalnya ada janji pernikahan, namun janji itu ditepis secara sepihak. Orang tua RB menolak NW demi karir anak mereka, bahkan menyudutkan NW dengan tuduhan menjebak, dan mendesak agar kandungan itu digugurkan. Ternyata, upaya NW mencari keadilan sudah berhadapan dengan tembok tebal. Ia sempat dimediasi oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten. Sayangnya, mediasi itu timpang. Lewat fenomena institutional gaslighting, NW dipaksa menerima "penyelesaian kekeluargaan" yang melindugi karir pelaku dan merugikan dirinya. Mendapat dukungan dari keluarganya, RB kembali bertindak. Ia membeli obat seharga Rp1.500.000 melalui jaringan sindikat daring sebuah fakta yang membuktikan bahwa tindakannya terencana (premeditated). RB membawa NW ke sebuah hotel di Prigen, Pasuruan, dan memaksanya meminum obat tersebut. Pendarahan hebat kembali terjadi, dan lagi-lagi RB meninggalkannya tanpa empati. Serangan ini datang dari segala arah. NW melapor ke Propam Polres Pasuruan namun mandek, ia mengadu ke Komnas Perempuan, dan terus dihantui ketakutan akan sanksi akademis (Drop Out) dari kampusnya serta stigma masyarakat yang selalu menyalahkan perempuan atas kehamilan di luar nikah. Hancur secara sistematis, NW didiagnosis mengidap Major Depressive Disorder oleh psikiater di RSJ. Terisolasi dari dunia nyata, ia menumpahkan keputusasaannya di platform Quora dengan nama samaran Aulia Dinata. TITIK NADIR DAN TRAGEDI (2 DESEMBER 2021) Menjelang Desember, kondisi mental NW berada di titik krisis. Ia merasa menjadi aib bagi ibunya yang sudah berupaya keras mengawasi dan mendampinginya. NW meninggalkan pesan perpisahan di WhatsApp dan Quora, meratapi janinnya dan memohon maaf kepada sang ibu. Pada Kamis sore, 2 Desember 2021 pukul 15.30 WIB, tragedi itu memuncak. Di pemakaman umum Sugihan,
1
83
Mojokerto, seorang juru kunci bernama Sugito menemukan NW tergeletak tak bernyawa tepat di sebelah pusara makam ayahnya. Hasil olah TKP Polres Mojokerto tidak menemukan tanda kekerasan fisik luar, melainkan botol berisi sisa cairan berbau menyengat yang dikonfirmasi sebagai racun potasium. Sang ibu yang berduka awalnya menolak autopsi, dan NW pun dimakamkan. Di tengah duka tersebut, sempat beredar video dari paman NW yang menyatakan kematian itu murni karena depresi ditinggal ayahnya, serta meminta warganet berhenti memviralkan kasus ini. Hal ini memicu dugaan kuat adanya intimidasi terhadap keluarga korban untuk mengamankan posisi pelaku. REAKSI PUBLIK DAN PENYELIDIKAN INSTITUSI (DESEMBER 2021) Kematian di pusara ayah itu ternyata menjadi bom waktu. Jejak digital NW di Quora dan percakapan WhatsApp tersebar luas. Pada 3 Desember, tagar #SAVENW memuncaki Trending Topic Twitter. Warganet membongkar identitas Bripda RB. Fenomena vigilantisme digital (No Viral, No Justice) mengambil alih, bahkan berhasil mematahkan narasi victim blaming dari akun-akun anonim yang mencoba merusak reputasi korban pasca-kematiannya. Besarnya amarah publik memaksa Polri bertindak cepat. Pada 4 Desember, Propam Polda Jatim menahan Bripda RB. Melalui konferensi pers, Wakapolda Jatim mengakui adanya hubungan tersebut, termasuk dua kali tekanan untuk menggugurkan kandungan. RB ditetapkan sebagai tersangka dengan Pasal 348 juncto Pasal 55 KUHP. Di ranah internal, Sidang Komisi Kode Etik Polri (KKEP) menjatuhkan sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH). Komnas Perempuan turut menegaskan bahwa kasus ini adalah Kekerasan Berbasis Gender (KBG) yang berlapis dan bukti nyata kegagalan sistem dalam merespons aduan korban. PROSES HUKUM DAN VONIS PENGADILAN (2022) Setelah dipecat, RB diadili sebagai warga sipil di Pengadilan Negeri (PN) Mojokerto. Jaksa Penuntut Umum menuntutnya 3,5 tahun penjara. Pada 28 April 2022, Majelis Hakim menjatuhkan vonis 2 tahun penjara. Putusan yang dinilai ringan ini memicu kekecewaan publik. JPU kemudian mengajukan banding. Pada pertengahan 2022, Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya mengambil langkah progresif dengan memperberat hukuman RB menjadi 5 tahun penjara. Hakim tingkat banding menitikberatkan bahwa terdakwa adalah mantan aparat yang seharusnya melindungi, perbuatannya berdampak fatal hingga korban mengakhiri hidup, serta sikapnya yang berbelit-belit selama proses hukum. REFLEKSI AKHIR Kasus NW menelanjangi realitas pahit bahwa kehancuran seseorang tidak terjadi dalam semalam. NW tidak mati hanya karena meminum racun pada 2 Desember; ia telah dimatikan secara perlahan (slow murder) oleh isolasi sistematis, pelaku yang egois, keluarga pelaku yang lepas tangan, institusi yang lambat, mediasi yang memaksa damai, dan stigma sosial yang membungkamnya. Ironi paling menyayat hati adalah bahwa keadilan dan ketegasan hukum baru hadir setelah korban meregang nyawa. Tragedi ini menjadi pengingat permanen bahwa kekerasan dalam ruang privat dengan ketimpangan relasi kuasa bisa sangat mematikan, dan betapa mahalnya harga sebuah ruang aman bagi mereka yang tak berdaya.
19
RJT↙️ retweeted
yok bisa yok 5M tuh, aku dah mau nyerah rasanya 🙂☝🏻
85
10
51
2,680
RJT↙️ retweeted
Replying to @joglodejava
makasih ya
1
1
1
9
TERNYATA KORBANNYA BUKAN 1 TAPI ADA 2 LAGI.. Kekuatan netizen memang tidak bisa diragukan lagi..... setelah viral di medsos akhirnya Kepolisian Johor Malaysia telah menangkap 4 orang pelaku terkait kasus penganiayaan asisten rumah tangga (ART) asal Indonesia yang viral di media sosial. Penangkapan ini dilakukan pada Sabtu, 13 Juni 2026 petang oleh pihak Ibu Pejabat Polis Daerah (IPD). Dua Pasang Suami Istri: Pelaku yang ditangkap terdiri dari 2 orang pria dan 2 orang wanita. Rentang Usia: Keempat pelaku berusia antara 30 hingga 34 tahun. Masa Penahanan Diperpanjang: Sesuai hukum Malaysia, polisi awalnya menahan pelaku selama 24 jam. Ketua Polisi Johor, Datuk Ab Rahaman Arsad, mengajukan permohonan ke Mahkamah Majelis Johor Bahru agar masa penahanan diperpanjang demi penyelidikan lebih lanjut. Penyitaan Barang Bukti: Polisi mengamankan telepon genggam, pakaian tersangka, serta 2 paspor milik Warga Negara Asing (WNA). Waktu Kejadian Asli: Meski videonya baru viral pada Juni 2026, hasil penyelidikan awal polisi mengungkap bahwa peristiwa penyiksaan tersebut sebenarnya terjadi pada Juli 2025. Lokasi Kejadian: Penganiayaan terjadi di kawasan Taman Johor, wilayah Johor Bahru Utara. Jumlah Korban Bertambah: Awalnya laporan berfokus pada satu korban berinisial YY. Namun, penyelidikan polisi menemukan dua korban WNI tambahan (berinisial YA dan SH) yang juga bekerja di tempat tersebut dan mengalami penganiayaan serupa. Langkah Pemerintah Indonesia Perlindungan dan Tempat Tinggal Sementara: Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI melalui KJRI Johor Bahru langsung bergerak mengamankan para korban. Dua korban saat ini sudah berada di Tempat Tinggal Sementara (TTS) milik perwakilan RI. Evakuasi Korban dari Kuala Lumpur: Satu korban lainnya yang berada di Kuala Lumpur dijemput untuk dibawa ke Johor Bahru guna memberikan keterangan resmi kepada kepolisian setempat. Bantuan Hukum: Pemerintah Indonesia bersama Kementerian P2MI memastikan akan mendampingi para korban menggunakan pengacara sewaan (retainer lawyer) untuk mengawal kasus ini sampai tunTKI . Semoga mereka mendapat hukuman yg setimpal , 🤲 🤲 #Malaysia #Penganiayaan #beritaviral #breakingnews #viral
56
RJT↙️ retweeted
Replying to @joglodejava
harus semangat
2
1
1
11
Kisah Sri Hartatik: Sarjana Cumlaude Teknik Mesin UNNES yang Rela Lepas Kerja Demi Merawat Ibu dan Berjuang Lewat Jasa "Sri Tolong Sri" BATANG, WARTADESA – Keterbatasan ekonomi bukanlah batu sandungan bagi mereka yang memiliki tekad sekeras baja. Prinsip inilah yang dipegang teguh oleh Sri Hartatik, seorang gadis tangguh asal Desa Posong, Kecamatan Tulis, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Di tengah himpitan ekonomi keluarga, ia berhasil membuktikan diri menjadi sarjana pertama di keluarganya, bahkan lulus dengan predikat kehormatan (Cumlaude). Namun, di balik toga dan senyum kebahagiaannya, ada cerita perjuangan yang amat mengharukan tentang bakti seorang anak kepada orang tuanya. Anak Pencari Pasir yang Diam-diam Daftar Kuliah Sri Hartatik lahir dari keluarga yang sangat sederhana. Sang ayah hanyalah seorang lulusan Sekolah Dasar (SD) yang sehari-hari menyambung hidup dengan mencari pasir di sungai untuk dijual kembali. Ibunya adalah seorang Ibu Rumah Tangga (IRT) yang tidak sempat mengecap bangku sekolah. Kakak-kakaknya pun hanya lulusan SD, dan adiknya lulusan SMP. Menyadari kondisi ekonomi keluarganya sedang tidak baik-baik saja, Sri tidak lantas menyerah. Didorong oleh impian besar untuk menjunjung derajat orang tua, ia diam-diam mendaftar kuliah. Ketekunannya berbuah manis saat ia dinyatakan lolos dan diterima di Universitas Negeri Semarang (UNNES), mengambil jurusan Teknik Mesin dengan program studi Pendidikan Teknik Otomotif. Sempat Goyang di Awal Semester dan Jurus "Palu Gada" Perjalanan Sri di bangku kuliah tidaklah mulus. Pada semester 1 dan 2, ia bertahan menggunakan sisa uang tabungan yang ia miliki. Memasuki semester 3, badai ekonomi kembali menerpa hingga semangatnya sempat hampir pupus. Kakaknya bahkan sempat menyarankan agar Sri mengambil cuti kuliah untuk bekerja terlebih dahulu, dan sertifikat tanah keluarga pun sempat digadaikan demi biaya. Namun, tekad Sri sudah bulat. Ia enggan meminta uang lagi dari orang tuanya. Di sinilah "jurus palu gada" (apa lu mau, gua ada) milik Sri dimulai. Demi bertahan hidup dan membiayai kuliahnya, ia berburu beasiswa dan berhasil mendapat bantuan yang menopang kuliahnya dari semester 3 hingga semester 7. Ujian belum selesai. Sri bahkan pernah diusir dari rumah kos karena tidak mampu membayar sewa. Beruntung, kebaikan hati sepasang suami istri, Pak Aziz dan Bu Zulfa, memberinya tempat tinggal gratis sehingga ia bisa terus melanjutkan mimpinya. Rela Melepas Pekerjaan Demi Sang Ibu dan Lahirnya "Sri Tolong Sri" Sebelum resmi dinyatakan lulus dari UNNES, performa akademis dan etos kerja Sri yang luar biasa membuatnya berhasil mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan. Namun, baru tiga bulan bekerja, Sri dihadapkan pada pilihan hidup yang berat. Sang ibu jatuh sakit keras dan harus menjalani perawatan rutin cuci darah (hemodialisis) di rumah sakit. Tanpa ragu, demi sosok wanita pertama yang dikenalnya di dunia, Sri memilih melepaskan pekerjaan tetapnya tersebut. Ia pulang ke kampung halaman untuk mengantar dan menemani ibunya berobat secara rutin. Kehilangan pekerjaan membuat pemasukan otomatis terhenti, padahal kebutuhan biaya berobat sang ibu dan ekonomi keluarga terus berjalan. Sri tidak kehabisan akal. Di Kecamatan Tulis dan sekitarnya, ia meluncurkan jasa penawaran unik yang ia beri nama "Sri Tolong Sri". Menggunakan sepeda motornya, Sri melakoni pekerjaan apa saja secara serabutan asal halal. Layanan "Sri Tolong Sri" yang ia tawarkan meliputi: Ojek antar-jemput mahasiswa/anak sekolah Jasa titip (Jastip) makanan atau barang Teman jalan/wisata (healing) Teman cerita (ngancani crito) Top up pulsa, kuota, aplikasi premium, dan transaksi pembayaran Tarik tunai dan transfer uang Bersih-bersih rumah dan babat rumput Les privat akademik dari SD hingga SMA Memimpin doa Tahlilan Jualan buket bunga segar (fresh flower) dan gantungan kunci kustom
1
73
Semua pekerjaan tersebut ia jalani dengan penuh senyum dan rasa syukur demi membantu kesehatan sang ibu tercinta. Lulus Cumlaude dalam Waktu Singkat Kerja keras, air mata, dan doa restu orang tua akhirnya mengantarkan Sri Hartatik ke puncak prosesi akademiknya. Sri berhasil menyelesaikan studinya di UNNES hanya dalam waktu 3 tahun, 4 bulan, dan 15 hari. Tidak sekadar lulus, ia meraih predikat Cumlaude dan resmi menyandang gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd.). Saat hari kelulusannya, Sri bahkan diarak menggunakan kursi khusus oleh teman-teman sesama mahasiswa teknik sebagai bentuk penghormatan atas kegigihannya. Dengan gelar tersebut, Sri bercita-cita menjadi seorang guru yang tulus untuk ikut serta membangun dan memajukan pendidikan anak-anak Indonesia. Kisah Sri Hartatik mengajarkan kita semua bahwa kesuksesan akademik tertinggi tidak bernilai apa-apa jika melupakan bakti kepada orang tua. Melalui jasa "Sri Tolong Sri", ia membuktikan bahwa gengsi harus dikesampingkan ketika kita berjuang demi orang-orang yang kita cintai. Sri kini tidak hanya mencetak sejarah sebagai sarjana pertama di keluarganya, tetapi juga menjadi "mental juara" yang sesungguhnya di dalam kehidupan. (Redaksi Warta Desa) foto: Istimewa
23
RJT↙️ retweeted
Replying to @joglodejava
done
1
1
10
RJT↙️ retweeted
Replying to @joglodejava
Done kk
1
1
17
Fakta mengerikan akhirnya terungkap di balik kasus pembunuhan ganda yang mengguncang Desa Patikraja, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas. Dalam rentang waktu kurang dari 12 jam, dua perempuan tewas secara tragis di tangan seorang pria berinisial ANR alias D. Tersangka diketahui sehari-harinya bekerja sebagai petugas sekuriti di salah satu pusat perbelanjaan di Kota Purwokerto. Ironisnya, setelah menghabisi nyawa nenek kandungnya sendiri pada Kamis (11/6/2026) malam, tersangka ternyata masih sempat mengajak seorang rekan kerja perempuannya untuk menginap di rumah sang nenek. Tanpa diketahui oleh korban kedua, rumah yang didatanginya itu nyatanya telah menjadi lokasi pembunuhan berdarah beberapa jam sebelumnya. Ketika korban mulai curiga dan mengetahui ada seseorang yang tergeletak di dalam rumah, tersangka lantas panik. Demi menutupi jejak kejahatan pertamanya, ia kembali kalap melakukan pembunuhan. Kapolresta Banyumas, Kombes Pol Petrus Silalahi, mengungkapkan bahwa kedua korban tewas adalah K (81) yang merupakan nenek kandung tersangka dari pihak ibu, serta AA (18) yang merupakan rekan kerja tersangka. Tersangka dan AA diketahui baru saling mengenal sejak bulan Mei 2026. "Perbuatan pembunuhan ini dilakukan secara terencana dan berlangsung dalam dua fase, yaitu pada Kamis 11 Juni 2026 dan Jumat 12 Juni 2026," kata Petrus saat memimpin konferensi pers di Mapolresta Banyumas kepada Tribunbanyumas.com, Senin (15/6/2026). Menurut kronologi yang dibeberkan Petrus, aksi keji ini bermula pada Kamis sore sekitar pukul 17.00 WIB. Tersangka meninggalkan rumahnya di Desa Kedungrandu, Kecamatan Patikraja bersama istri dan dua anaknya dengan menunggangi sepeda motor merek Pulsar. Kepada istrinya, tersangka mengaku hendak menemui neneknya untuk mengambil beberapa barang yang dapat dijual karena ia sedang mengalami kesulitan ekonomi. Sesampainya di Lapangan Patikraja, tersangka kemudian menurunkan istri dan anak-anaknya untuk menunggu di sana, sebelum ia melanjutkan perjalanan seorang diri menuju rumah korban K. Sekitar pukul 17.45 WIB, tersangka tiba di rumah korban. Namun, karena korban belum pulang, kondisi rumah masih terkunci rapat. Ia kemudian menunggu hingga sang nenek tiba di rumah sekitar pukul 18.30 WIB. Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, tersangka bermaksud meminjam sejumlah uang kepada korban. Namun, permintaan tersebut secara tegas ditolak. Sang nenek justru mengingatkan bahwa tersangka masih memiliki utang yang belum dilunasi, serta memintanya agar utang tersebut dicicil terlebih dahulu. Mendengar hal itu, tersangka kemudian menyampaikan berbagai keluhan mengenai kondisi ekonominya yang sedang terhimpit. Alih-alih mendapat simpati dari keluarga, korban justru meresponsnya dengan membanding-bandingkan tersangka dengan cucu-cucu lainnya. Perkataan tajam itulah yang membuat tersangka langsung tersinggung dan emosi. #followback #selasasehat #silaturahmi
17
Motif di balik pembunuhan sadis di Desa Patikraja, Kecamatan Patikraja, Kabupaten Banyumas itu akhirnya terungkap. Keinginan menguasai harta secara instan membuat seorang pemuda di Kabupaten Banyumas kehilangan akal sehatnya. Polisi mengungkap, tersangka A alias D (24) membunuh nenek kandungnya serta seorang perempuan muda yang menjadi selingkuhannya demi mendapatkan uang, telepon genggam, hingga sepeda motor milik korban. Polisi menyebut pelaku berinisial A alias D (24) nekat melakukan aksi tersebut karena ingin menguasai harta benda milik kedua korban. Kapolresta Banyumas, Kombes Pol Petrus Silalahi melalui Kasat Reskrim Polresta Banyumas AKP Ardi Kurniawan mengatakan pelaku kini telah ditetapkan sebagai tersangka setelah menjalani pemeriksaan intensif. "Sudah kita proses dan ditetapkan sebagai tersangka, yaitu A alias D (24) yang membunuh neneknya berinisial K (81) dan wanita selingkuhannya berinisial A (18)," kata Ardi kepada Tribunbanyumas.com, Sabtu (13/6/2026). Ardi menjelaskan, pembunuhan pertama dilakukan terhadap nenek pelaku yang bernama Kartinah. Sebelum kejadian, tersangka datang ke rumah korban untuk meminta uang, namun permintaannya ditolak. Korban bahkan sempat menyinggung utang yang dimiliki pelaku. Penolakan itu memicu kemarahan tersangka hingga akhirnya nekat menghabisi nyawa neneknya. "Motifnya ekonomi, jadi dia ingin menguasai barang dan uang milik neneknya. Karena dia datang minta uang tidak dikasih, neneknya malah mengungkit utangnya," jelas Ardi. Peristiwa pembunuhan pertama terjadi pada Kamis (11/6/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Pelaku memukul korban menggunakan palu pada bagian leher hingga terjatuh. Setelah korban tidak berdaya, pelaku mencekik leher korban menggunakan tali rafia hingga meninggal dunia. "Pertama yang dibunuh neneknya. Pakai palu dipukul bagian leher, jatuh kemudian pelaku mengikat leher menggunakan tali rafia dan dicekik hingga meninggal dunia," ungkapnya. Usai membunuh sang nenek, pelaku membersihkan bercak darah di lokasi kejadian. Ia kemudian mengambil uang dan telepon genggam milik korban.Namun aksi keji itu ternyata belum berakhir. Setelah memastikan neneknya meninggal dunia, tersangka menghubungi seorang perempuan berinisial A (18) yang diketahui merupakan selingkuhannya. Keduanya kemudian bertemu di wilayah Baturraden sebelum menuju rumah korban pertama di Desa Patikraja. Menurut polisi, pembunuhan terhadap perempuan muda tersebut ternyata telah direncanakan sejak awal. Pelaku disebut ingin menguasai telepon genggam dan sepeda motor milik korban. "Dia itu sudah merencanakan akan membunuh selingkuhannya. Setelah bertemu, korban diajak ke rumah neneknya. Di lokasi sempat terjadi cekcok karena pelaku ingin menguasai HP dan motor korban kedua," kata Ardi. Untuk memancing pertengkaran, tersangka berpura-pura melihat notifikasi pesan WhatsApp dari laki-laki lain di ponsel korban. Alasan itu kemudian dijadikan pemicu cekcok yang berujung pada aksi pembunuhan. "Tersangka berpura-pura melihat ada notifikasi WhatsApp dari laki-laki lain, hingga akhirnya wanita ini juga dibunuh," ujarnya. Korban kedua dieksekusi beberapa jam setelah pembunuhan pertama, tepatnya sekitar pukul 02.30 WIB pada Jumat (12/6/2026). Pelaku kembali menggunakan palu sebagai alat menghabisi nyawa korban. Setelah dua korban meninggal dunia, tersangka berupaya menghilangkan jejak kejahatannya. Sekitar pukul 07.00 WIB, jasad sang nenek dimasukkan ke dalam sumur yang berada di rumah tersebut. "Pada saat pukul 07.00 WIB jasad neneknya diceburkan ke sumur sebelum dia pergi, karena ada warga yang datang ke rumahnya," jelas Ardi. Atas perbuatannya, tersangka dijerat dengan pasal pembunuhan berencana sebagaimana diatur dalam Pasal 459 subsider Pasal 458 ayat (2) KUHP.
1
77
Kisah yang Mengguncang London... Ketika Setan Dipaksa Taat kepada Allah! Di salah satu kawasan dingin di Inggris, seorang wanita Muslimah asal Somalia yang hidup dalam kemiskinan dan kesulitan mengangkat gagang telepon. Dengan suara bergetar, ia menelepon sebuah stasiun radio lokal untuk meminta bantuan. Ia tidak menyangka bahwa keluh kesahnya kepada langit didengar oleh seorang pria yang hatinya dipenuhi pengingkaran dan atheisme. Pria itu sedang mendengarkan siaran radio tersebut. Ia seorang sekuler dan atheis yang menganggap keimanan orang-orang sederhana sebagai bahan ejekan. Dengan senyum licik, ia memutuskan untuk menjadikan kelemahan wanita itu sebagai sebuah “pertunjukan” guna membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa tidak ada pertolongan ilahi. Ia segera menelepon pihak radio dan meminta nomor telepon serta alamat wanita itu. Ia lalu memanggil sekretaris pribadinya dan memerintahkannya membeli berbagai bahan makanan serta bantuan dalam jumlah besar dan mewah. Namun tipu daya yang sebenarnya bukan di situ. Ia ingin melancarkan serangan psikologis yang menghantam hati wanita miskin tersebut. Dengan penuh kesombongan ia berkata kepada sekretarisnya: “Pergilah kepadanya. Jika ia bertanya siapa yang mengirim semua ini, katakan dengan jelas: Setanlah yang mengirimkannya kepadamu!” Ia ingin mengejutkannya. Ia ingin mengguncang keyakinannya. Ketika sekretaris itu tiba di rumah sederhana sang wanita dan mengetuk pintu, terjadilah sebuah kejutan. Air mata kebahagiaan mengalir dari mata wanita Somalia itu saat melihat berbagai bantuan dan kebaikan memasuki rumahnya. Ia mulai menata barang-barang tersebut sambil terus memuji dan bersyukur kepada Allah, tanpa bertanya sedikit pun tentang siapa pengirimnya. Sekretaris itu merasa heran. Ia tidak tahan dengan keadaan tersebut, lalu bertanya dengan rasa penasaran: “Apakah Anda tidak ingin tahu siapa yang berada di balik semua kebaikan ini? Apakah Anda tidak ingin mengetahui siapa yang mengirim semuanya kepada Anda?” Saat itulah wanita sederhana yang tidak berpendidikan itu menoleh. Dengan keimanan yang mendalam dan keyakinan yang tulus, ia mengucapkan kata-kata yang mengguncangkan hati: “Aku tidak ingin tahu, dan itu sama sekali tidak penting bagiku. Karena aku yakin bahwa jika Allah menghendaki sesuatu dan waktunya telah tiba, maka bahkan setan-setan pun akan digiring untuk menaati-Nya meskipun mereka tidak menginginkannya.” Dampak ucapan itu terasa seperti petir yang menyambar. Jawaban spontan tersebut mengguncang pemikiran pria atheis Inggris itu. Filsafat dan keyakinannya seakan runtuh di hadapan keyakinan seorang wanita Somalia yang sederhana. Akhirnya ia tidak menemukan jalan lain selain tunduk kepada Tuhan alam semesta, lalu memeluk Islam dan menjadi salah seorang dai Islam terkenal di Inggris dengan nama Abdul Hakim Murad. #selamatsiang #selasasehat #silaturahmi #followback #mutualan
13
RJT↙️ retweeted
Replying to @joglodejava
done ya
1
5
RJT↙️ retweeted
Replying to @joglodejava
donee yaa
15
Kawasan Hotel Casa Calma, Tomang, Jakarta Barat, menjadi lokasi tindak pidana pencurian dengan modus pemanfaatan kelengahan korban. Seorang pria dewasa berinisial GS (37) kini harus berurusan dengan Polsek Metro Grogol Petamburan setelah nekat menggasak barang berharga milik seorang perempuan belia berinisial CNH (19). Kejadian ini bermula dari perkenalan di dunia maya yang berlanjut ke dunia nyata. Korban (CNH) dan pelaku (GS) diketahui baru saja saling mengenal melalui sebuah aplikasi pertemanan di ponsel. Merasa sudah cukup akrab, keduanya sepakat untuk bertemu langsung secara tatap muka (kopi darat) di salah satu kamar di Hotel Casa Calma, Tomang. Kepercayaan instan korban justru menjadi bumerang yang dimanfaatkan dengan sangat licik oleh pelaku. Saat berada di kamar hotel, korban CNH memutuskan untuk mandi sejenak dan dengan polosnya meninggalkan barang-barang berharganya begitu saja tergeletak di area kamar. Melihat ada kesempatan emas dan korban sedang berada di dalam kamar mandi, GS langsung bergerak cepat menggasak handphone dan iPad milik korban, lalu melarikan diri tanpa jejak. Akibat pencurian kilat ini, CNH harus menelan kerugian materiil mencapai Rp 12 juta. Sadar menjadi korban kejahatan, CNH langsung melaporkan kejadian pahit tersebut ke pihak berwajib. Jajaran kepolisian pun bergerak cepat menyusuri jejak pelaku. Sepandai-pandainya GS bersembunyi, nasib apes justru menghampirinya dari kebiasaan sehari-hari. Polisi berhasil melacak keberadaan pelaku yang ternyata kerap menggunakan jasa laundry (cucian pakaian) di kawasan Tanjung Duren Utara. Tak butuh waktu lama, GS sukses diringkus oleh aparat dan langsung digelandang ke Markas Polsek Metro Grogol Petamburan guna menjalani proses penyidikan dan mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kasus pencurian di Tomang ini menjadi alarm peringatan keras bagi siapa saja yang aktif menggunakan aplikasi pertemanan. Bertemu dengan orang yang baru dikenal di dunia maya selalu memiliki risiko tinggi, apalagi jika langsung bertemu di ruang tertutup seperti kamar hotel. Jangan pernah memberikan kepercayaan penuh apalagi meninggalkan barang berharga dari pandangan mata saat bersama orang asing. Mari lebih bijak dan berhati-hati dalam bermedia sosial agar tak menjadi korban selanjutnya.
35
Raden Ajeng Titien Sumarni adalah artis film yang terkenal di era 1950-an. Artis yang lahir di Surabaya pada tahun 1932(butuh rujukan) ini disebut sebagai artis tercantik pada zamanya, bahkan sempat dijuluki sebagai Marilyn Monroe'nya Indonesia karena kebetulan memiliki tahi lalat di wajah. Titin Sumarni merupakan anak seorang bangsawan Jawa, ayahnya adalah seorang Asisten Wedana di Surabaya. Namun ayahnya meninggal saat Titin berusia 3 tahun. Saat berusia 6 tahun, Titin akhirnya ikut ibunya kembali ke daerah asalnya, yaitu di Tasikmalaya. Artis Indonesia yang berdarah Jawa Sunda ini memulai karir di dunia film pada tahun 1951 lewat film perdananya yaitu 'Seruni Laju' yang disutradarai oleh RD Arifin dari Rumah Produksi Film Golden Arrow. Pada tahun 1952 Titin bergabung dengan studio film Persari untuk bermain dalam film Pengorbanan dan film Lagu Kenangan. Namanya makin melambung ketika Titin Sumarni membintangi sebuah film berjudul Putri Solo yang dirilis pada 1953. Tak puas menjadi pemain film, pada 1954 Titin juga mendirikan studio film dengan nama Titin Sumarni Motion Pictures. Dalam kehidupan pribadinya, walaupun bergelimang gemerlapnya dunia, Titin adalah seorang artis yang mengalami peristiwa menyedihkan diakhir kehidupanya. Titin dalam riwayat hidupnya pernah menjalani pernikahan sebanyak 5 kali. Satu di antara mantan suaminya adalah seorang perwira tinggi, walaupun perwira tinggi tersebut tidak mengakui pernah menjadi suaminya. Setelah lama menghilang dari dunia hiburan, pada tahun 1966 secara tidak sengaja seorang wartawan mendapatkan Titin Sumarni berada di salah satu rumah sempit di sekitar stasiun Kota Bandung dalam keadaan sakit parah dan tidak berdaya. Tidak jelas penyakit apa yang dideritanya, ada yang menyebut terkena penyakit paru-paru, tapi ada juga yang menyebut menderita penyakit yang diguna guna orang. Dia hidup bersama lima putranya yang mengandalkan belas kasihan orang. Saat masih aktif menjadi aktris, Titien terkenal dengan kekayaannya, yang memiliki mobil lebih dari satu, beberapa bangunan rumah. Perhiasan emas dan mutiara senantiasa menghiasi penampilannya. Namun kemudian keadaan berubah, dimana dia hanya memiliki 4 lembar pakaian yang sudah lusuh. Demikian pula kelima putranya yang hanya memiliki beberapa lembar pakaian. Bantuan dari sesama artis dan kakeknya yang membuat Titin Sumarni bisa dirawat di Rumah Sakit. Sedangkan lima anaknya ditempatkan di panti asuhan. Hanya beberapa hari di Rawat akhirnya tanggal 15 Mei 1966, Titin Sumarni menghembuskan napas terakhirnya, dalam pelukan kelima putranya, tanpa didampingi oleh para mantan suaminya. Semoga arwah Titin Sumarni bisa hidup damai di sisiNYA.. #turnbackfollow #selasadamai #sehatdansukses
32
🌙*Selamat Tahun Baru Islam 1448 Hijriah*🌙 Pergantian tahun bukan sekadar bergantinya angka, tetapi kesempatan untuk membuka lembaran baru yang lebih baik. Semoga 1 Muharram ini menjadi awal langkah yang lebih dekat kepada Allah, lebih lapang dalam menerima takdir-Nya, dan lebih kuat dalam menjalani setiap ujian kehidupan. Mari tinggalkan segala luka, khilaf, dan kekurangan di masa lalu. Sambut tahun yang baru dengan hati yang bersih, niat yang tulus, serta harapan yang penuh keberkahan. Semoga Allah senantiasa membimbing langkah kita, melimpahkan kesehatan, ketenangan, rezeki yang halal dan berkah, serta memudahkan kita menjadi tamu-Nya di Baitullah. *Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah.* Hijrah hati, hijrah diri, menuju ridha Ilahi.
31