Malapetaka Akibat Pembantaian Burung Emprit
Tiongkok pada 1958–1962, Kampanye Empat Hama yang digalakkan pada era Mao Zedong berubah jadi bencana ekologi yang menewaskan puluhan juta orang. Sasaran perburuan saat itu adalah tikus, lalat, nyamuk, dan burung gereja atau emprit Passer montanus.
Khsus Emprit, ia dituduh memakan gabah 4,5 kg per ekor per tahun. Mao memerintahkan seluruh rakyat membunyikan kentongan, menggedor panci, dan menakut-nakuti burung agar tidak bisa hinggap sampai mati kelelahan.
Hasilnya memang spektakuler. Dalam waktu singkat, populasi emprit di Tiongkok nyaris punah. Data dari Chinese Academy of Sciences menyebut 1,96 miliar burung dibunuh hanya pada 1958.
Poster propaganda menampilkan anak sekolah menyerahkan karung penuh bangkai emprit. Untuk sementara, hasil panen 1958 naik karena cuaca bagus dan tenaga kerja dikerahkan besar-besaran.
Tapi alam tidak diam. Emprit ternyata bukan cuma pemakan biji. Seekor emprit dewasa butuh 1.200–2.500 serangga per musim untuk memberi makan anaknya. Sekali emprit hilang, populasi serangga pemakan tanaman meledak tanpa predator.
Tahun 1959–1961, wabah belalang (Locusta migratoria manilensis) menghantam Tiongkok dalam skala yang belum pernah ada. Tanpa emprit, walang sangit, ulat grayak, dan wereng kehilangan musuh alami.
Luas serangan hama pada 1960 mencapai 54 juta hektar, naik 300% dibanding 1957 menurut data Kementerian Pertanian Tiongkok. Produksi padi nasional anjlok dari 200 juta ton tahun 1958 jadi 143,5 juta ton tahun 1960, turun 28% dalam dua tahun. Gandum turun 25%.
Di provinsi Henan, Shandong, dan Anhui, gagal panen 40–60%. Ini bukan sekadar statistik. Di lapangan artinya ladang kosong, lumbung habis, dan rakyat makan kulit pohon, tanah liat, sampai kasus kanibalisme tercatat di laporan internal Partai.
Puncaknya adalah Bencana Kelaparan Besar Tiongkok 1959–1961. Gabungan kebijakan Lompatan Jauh ke Depan, pelaporan hasil palsu, cuaca buruk, dan hama yang tak terkendali menewaskan 15–45 juta orang.
Demografer Ashton dkk 1984 menghitung angka 30 juta kematian berlebih. Frank Dikötter dalam Mao’s Great Famine menyebut 45 juta. Penyebab langsung kematian adalah busung lapar, edema, dan penyakit terkait gizi.
Di desa-desa, angka kematian melonjak dari 11 per 1000 jadi 25–60 per 1000. Bayi lahir turun dari 34 juta tahun 1957 jadi 13,8 juta tahun 1961. Satu generasi hilang.
Tahun 1960, ilmuwan zoologi Tso-hsin Cheng membuktikan di depan Mao bahwa emprit memakan lebih banyak serangga daripada biji.
Mao lalu memerintahkan stop kampanye burung gereja dan menggantinya dengan kepinding. Tapi terlambat. Rantai makanan sudah runtuh.
Tiongkok akhirnya mengimpor 250.000 ekor emprit dari Uni Soviet tahun 1960 untuk restorasi ekologi. Butuh 5–7 tahun populasi burung dan keseimbangan predator-hama pulih. Produksi pangan baru kembali ke level 1957 pada tahun 1965.
Pelajaran pahitnya jelas: pertanian bukan perang total melawan alam. Satu spesies yang dimusnahkan bisa merobohkan seluruh jaring makanan. Emprit 4,5 kg gabah per tahun memang rugi, tapi belalang bisa menghabiskan 20–40 kg biomassa tanaman per hektar per hari.
Pertanian modern memang berhasil menyelamatkan miliaran nyawa dari kelaparan, tapi tanpa pemahaman ekologi, teknologi justru jadi bumerang. Mao ingin melompat jauh ke depan, tapi justru membuat rakyatnya melompat ke liang kubur.
#LiterasiPertanian #PertanianModern #Ekologi