Suatu sore, Joni Sugio dan Susy Tjandra duduk di sofa ruang tamu bersama putra mereka, Nikolaus Joaquin. Susy mengatakan, "Jo, kita kasih batas waktu ya. Sampai kamu kelas 3 SMA. Kalau sampai lulus SMA tidak masuk (klub besar), kita kuliah."
Kesabaran tampaknya sudah mendekati habis. Joaquin sudah SMA, tetapi masa depan bulu tangkisnya masih sangat gelap. Penolakan demi penolakan datang beruntun dan menyakitkan.
PB Djarum total menolaknya tiga kali.
PB Jaya Raya menolaknya sekali.
Mutiara Cardinal Bandung menolaknya sekali walaupun dalam simulasi tiga hari dia tidak pernah kalah.
Lima penolakan. Bagi sebagian besar anak di Indonesia, lima penolakan dari klub-klub besar adalah tanda yang jelas untuk berhenti bermain bulu tangkis dan mulai memikirkan ujian masuk universitas. Apalagi alasan penolakan2 itu sama: tubuh Joaquin terlalu kecil.
Namun Joaquin merasa bahwa belum saatnya menyerah. Dengan keyakinan tinggi, dia memandang ibunya dan berkata, "Maju terus, Ma. Masih mau lanjut.''
Mengingat masa-masa beratnya waktu itu, Joaquin mengatakan bahwa keyakinan itu bukan semata datang karena kekuatan dirinya sendiri.
Tulisan panjang saya tentang perjalanan karier sangat berat yang dilalui Nikolaus Joaquin.
fantasista.id/posts/nikolaus…