Punya penghasilannya sendiri tapi masih permasalahin nafkah 30β
. Lu itu tamak dan sombong diwaktu yg bersaman.
Batal menikah dgn laki2 baik,jujur,no selingkuh,no jud*,di usianya yang ke 34 thn. Sebagai anak pertama usiaku 26y.o mandiri & punya penghasilan. logika & naluriku terpaksa mengambil alih perasaanπ
bahkan kami sdh saling terbuka sampai bertukar semua social media accounts yg kami punya,cut off krn perbedaan visi misi hidup yg terlalu berjarak. hubungan kami sdh berjalan hampir 3 thn.
Sebenarnya,aku sdh menerima segala problem keluarganya. Dia anak terakhir, dia anak semata wayang dari pernikahan kedua orang tuanya saat ini.
Kakak2nya tdk ada yg mau merawat orang tua mereka krn ada big problem di masa lalu. Jadi, seluruh beban rawat otomatis jatuh ke pundaknya sendiri.
Demi dia,aku bahkan sudah mengβiyaβkan ajakan untk tinggal bersama orang tuanya setelah menikah nanti,karena dia memang tdk bisa pisah dari mereka,aku sudah menurunkan egoku sejauh itu.
Dia jujur dri awal kalau setelah nikah nanti, dia tdk akan bisa memberikan nafkah finansial&waktunya secara penuh (mungkin 30% untukku sbg istrinya) krn fokusnya terbagi untuk orang tuanya yg sdh tua. Aku paham,aku maklum,& aku bisa toleransi karena aku jg bekerja & berpenghasilan.
Tapi, ada satu kalimat realistisnya yg bikin aku seketika mundur βNanti setelah melahirkan, pulang o ke rumah ibumu ya karena tdk bisa repot di rumahku."
Pdhl dia tau, pulang ke rumah ibuku sendiri adalah pilihan terberat buatku. Aku&ibuku punya kesenjangan emosi, Bayangkan hrs melewati masa rentan post-partum setelah melahirkan di lingkungan yg emosinya tinggi, tanpa dukungan suami di sampingku karena alasan "tidak bisa repot disiniβ
Aku tahu dia anak berbakti,& aku sangat menghargai itu.Tapi pernikahan bkn soal menyatukan dua orang baik,melainkan tentang komitmen untk berjuang bersama di fase paling kritis seorng istriπ
Keputusan mundur ini sangat berat,tapi benar untuk masa depan kami berdua, dia bisa fokus merawat orang tuanya tanpa rasa bersalah, & aku bisa menyelamatkan kesehatan mentalku.
cc:threadnissaannasr