Cukup gak sih mahar emas Antam 10 gram buat nikah? Apa harus ditambah dolar AS hasil gajian dari Elon Musk? HAHAHA.
Gue beli emas di harga Rp20 juta pas Agustus 2025. Sudah tinggi banget kan? Bahkan, harus beli online lewat official store Antam karena kalah war sama calo di butik.
Iseng doang pengin beli. Padahal, belum ada target nikah dalam waktu dekat. Murni mau nyicip sensasinya karena harga emas lagi naik terus belakangan.
Qadarullah gak bertahan lama di gue. Emas Antam 10 gram tadi mesti gue lepas karena butuh fresh money buat running Media Sabtu Minggu (MESATU).
Gue jual di marketplace FB. Masalahnya, banyak banget penipu di sana. Hampir gue kena modus segitiga. Ada yang mau bayar Rp30 juta, eh ternyata cuma akal bulus penipu.
Akhirnya, terjual lewat bantuan teman gue. Jual murah pas Januari 2026 seharga Rp26 juta. Untung yang gue dapat dari pegang Antam 5 bulan berarti cuma Rp6 juta.
Kalau dibagi per bulan cuan Rp1,2 juta. Ternyata cukup menggiurkan juga trading emas. Semisal punya modal gede sih worth it bisnis jual beli emas Antam gini.
Emang cocoknya disimpan untuk jangka waktu lama. Lebih nampol keuntungannya. Boleh juga sih beli dari sekarang kalau lu punya rencana nikah dalam 3-5 tahun ke depan.
BTW lu punya cerita apa nih tentang emas fisik in this economy? Apakah sampai harus war juga karena banyak calo di butik?
Gue juga kepo buat para perempuan, mau gak kalau maharnya cuma emas Antam 10 gram? Buat bayangan, siapa tahu gue akhirnya mau serius mempersiapkan pernikahan hehehe.
In this economy yang katanya menuju krisis, rupiah tembus Rp18 ribu dan banyak kasus PHK, kok orang-orang masih bisa nikah?
Faktanya, orang tua gue pun dulu nikah pas Krismon 1998. Mereka bahkan sewa gedung mewah yang sekarang jadi museum sejarah di kabupaten tempat gue lahir.
Pesta pernikahan jadi momen bahagia yang sangat banyak lu lihat di media sosial beres Iduladha, ya kaaan? Itu juga obrolan hari ini antara gue dan teman yang sama-sama jomblo.
Mendadak ingat kata-kata Yusuf Mansur, βDari mana duitnya?β HAHAHA. Ya nabung dong. Nikah itu bukan lamaran Sabtu, terus Minggu akad dan resepsi. Kalaupun ada yaaa segelintir doang.
Bertahun-tahun menjalin hubungan, entah lewat pacaran atau taaruf. Kalau emang sama-sama serius mau nikah pasti bakal niat nabung. Karena mereka tahu menikah itu goals bersama.
Apa berarti banyak orang nikah menunjukkan Indonesia baik-baik saja? Ya enggak, otak gue gak cetek kek Purbaya! Krisis itu nyata, tapi mengubur mimpi yang sudah dipupuk bertahun-tahun lamanya jelas bukan solusi.
Mereka akhirnya harus kerja ekstra buat biaya hidup setelah nikah. Entah itu untuk beli atau ngontrak rumah, makan 2 orang, ngisi perabotan, apalagi kalau langsung mau punya anak.
Orang tua dulu bahkan sampai jual beberapa barang berharga untuk menyambut kelahiran abang gue. Mereka juga kena PHK saat krismon. Itu bukti kalau krisis itu nyata.
Solusinya, harus ada perbaikan kebijakan dari pemerintah. Orang tua gue akhirnya bounce back setelah Soeharto lengser. Mereka bahkan sempat punya bisnis sukses, kebeli Toyota Avanza sampai Honda Tiger 2000.
Tugas pemerintah bukan memaksa WNI menunda pernikahan atau kampanye childfree. Apalagi, meninabobokan rakyat dengan data-data ekonomi bohong. Sampai bilang rakyat di desa gak pakai dolar, bodoh!
Menikah adalah hak asasi manusia. Kalau sampai banyak WNI gak bisa menikah karena alasan ekonomi, berarti Pemerintah Indonesia melanggar HAM! Belum lagi banyak kasus perceraian yang juga karena ekonomi.
Kalau gue pribadi emang memutuskan belum mau menikah dalam waktu dekat. Gue baru 26 tahun, masih harus kerja lebih gigih, dan kudu bisa beli rumah dulu.
Buat kalian yang sudah punya pasangan dan merencanakan pernikahan, semangat! Gue tahu krisis ekonomi ini berat. Boleh gak share apa yang paling terdampak dari persiapan kalian?