“Kami mendatangkan alat-alat berat untuk menguruk rawa dan menanami padi,” kata mereka.
Lalu hutan hilang. Sungai kehilangan pelindungnya. Burung, serangga penyerbuk, ikan, satwa liar, dan tumbuhan pangan lokal, sagu dll ikut lenyap. Bentang alam yang sebelumnya kaya kehidupan berubah menjadi hamparan satu komoditas.
Inilah paradoks monokultur dan food estate. Demi mengejar produksi pangan, kita justru menghancurkan fondasi ekologis yang membuat pangan dapat terus diproduksi. Lebih sialnya, dalam kasus MIFEE, sawah-sawah itu kemudian berganti sawit dan HTI.
Ketika keragaman hayati diganti keseragaman, tanah menjadi lebih rentan rusak, hama lebih mudah meledak, ketergantungan pada pupuk dan pestisida meningkat, dan produktivitas jangka panjang justru menurun.
Di Papua dan Kalimantan, kerusakan yang terjadi tidak hanya bersifat ekologis. Hilangnya hutan, rawa, kebun campuran, dan lanskap pangan tradisional juga berarti hilangnya sistem pangan lokal yang selama ratusan tahun menopang masyarakat adat. Sagu, umbi-umbian, buah hutan, ikan, rotan, madu, dan ratusan sumber pangan lain tergeser oleh komoditas tunggal dan pangan impor.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ketika masyarakat adat semakin meninggalkan pangan lokal dan bergantung pada beras serta makanan industri, kualitas pola makan memburuk dan kerentanan pangan meningkat. Di Papua, pergeseran dari sagu dan pangan tradisional menuju ketergantungan pada beras dan pangan impor merupakan bentuk gastrokolonialisme: proses ketika kekuasaan bekerja melalui perubahan sistem pangan, membuat masyarakat semakin bergantung pada makanan dari luar sambil kehilangan pengetahuan, budaya, dan kedaulatan pangannya sendiri. Sementara itu, sagu dan pangan lokal terbukti memiliki peran penting bagi ketahanan pangan, kesehatan, dan keberlanjutan ekosistem Papua.
Kedaulatan pangan tidak mungkin lahir dari satu tanaman. Kedaukatan pangan lahir dari tanah yang sehat, hutan yang hidup, air yang terjaga, dan keragaman pangan yang memberi masyarakat pilihan ketika krisis datang.
Ketika seluruh bentang alam hanya menyisakan satu komoditas, yang sedang dipanen bukan hanya hasil panen. Kita juga sedang memanen risiko.
Karena tidak ada kedaulatan pangan tanpa ketahanan ekosistem.