Aku baru dua minggu ngontrak di kos-kosan Bu Parti, di gang sempit dekat Pasar Kembang. Jogja, katanya kota pelajar, tapi kos ini rasanya nggak kayak tempat belajar. Lebih kayak tempat ngumpet.
Kamar nomor 3, lantai dua. Kamar pojok, jendela menghadap tembok tetangga. Nggak ada pemandangan, cuma lumut dan kabel listrik kusut. Tapi yang bikin nggak enak bukan itu. Kamar ini setiap jam 3 pagi pasti ada suara orang ngetuk-ngetuk dari dalam lemari.
Awalnya kupikir tikus. Tapi setelah tiga malam berturut-turut, suara itu makin jelas. Bukan ngerat-ngerit, tapi seperti buku jari. Tok tok tok. Tiga kali. Terus jeda. Tok tok tok lagi. Pelan, sabar, kayak orang yang nunggu pintu dibukain. Aku cuma bisa pasang muka ke tembok, pura-pura tidur, padahal keringat dingin udah bikin bantal basah.
Pagi harinya kutanya Bu Parti. โBu, kamar nomor 3 itu ada riwayat apa? Kok serem?โ
Bu Parti nengok dari dapur, sambil nggoreng tempe. โAh, mbak. Itu cuma bising dari pipa. Kos tua, mbak, banyak rayap juga. Jangan terlalu dipikirin.โ
Tapi Bu Parti nggak bilang soal lukisan di dinding lorong lantai dua. Lukisan wanita pakai kebaya putih, rambut disanggul, matanya sayu. Setiap kali lewat, aku suka nggak sengaja lihat dia dan setiap kali, sepertinya posisi matanya agak berubah. Awalnya lurus ke depan. Besoknya sedikit miring ke kiri. Dua hari kemudian, menatap tepat ke arah kamarku.
Malam keempat, suara ketukan itu beda. Bukan dari lemari, tapi dari balik dinding. Tepat di belakang kepalaku waktu tidur. Tok tok tok. Lalu ada bisikan. Nggak jelas, kayak orang lagi ngomong sambil megang sendok di mulut. Aku cuma bisa merem, pasrah.
Besoknya aku nekat cari tahu. Kulepas lukisan itu dari dinding. Di balik pigura ada foto hitam-putih, lusuh, wajah wanita tua dengan senyum tipis. Matanya sama persis. Dan di sudut foto, tulisan tangan: โNinggalno aku ning kene terus? Mbok aku melu.โ
Aku langsung bungkus foto dan lukisan, bawa ke belakang kos, dekat sumur tua yang nggak dipakai. Niat hati sih mau bakar. Tapi pas mau nyalain korek, dari sumur itu dalam, gelap terdengar suara ngetuk. Tok tok tok.
Tiga kali.
Terus jeda.
Tok tok tok.
Dari dalam sumur. Pelan. Sabar. Kayak yang nunggu pintu dibukain.
Aku lari naik ke kamar. Kunci pintu. Tapi lemari di kamarku mulai berbunyi lagi. Tok tok tok. Lebih keras. Kayak yang marah. Kayak yang ngambek karena ditinggal.
Bu Parti besoknya cuma bilang, โSumur itu udah ditutup sejak 20 tahun lalu. Mbak jangan main-main di situ.โ Dan dia pergi ninggalin aku di ruang tamu yang suasananya tiba-tiba jadi dingin, walaupun Jogja lagi panas-panasnya.