Kesadaran gua yang masih di awang-awang ini gak punya kesempatan buat menolak.
“Mas, tapi gua baru megang horror berapa kali,”
“Udeh. Gua percaya sama elu. Gas yak, sisanya kita obrolin nanti.”
Gua terdiam. Lalu mengangguk. Tapi, Mas Kokan ‘kan gak lihat?
“Eh-oke, oke, Mas.”
“Siap-siap meeting weekend ini, Dul. Dah yak, makasih Dul.”
Telepon terputus.
Setelah panggilan kerja dadakan tadi, gua menatap kosong tembok kostan. Gak ada yang gua pikirin selain terkejut dan ngantuk.
Dan gua ketiduran lagi.