Tandoori Corner untuk makan malam-malam pasca closingan selalu tepat.
Kadang ada momen pengen menutup hari dengan makanan yang membuat senang semua indraku. Enggak cuma urusan lidah.
Andalanku naan masala dan ayam tandoori, mengapa?
Rasanya kompleks, intens, tetapi semuanya padu.
Wangi rempahnya harum dan menggugah selera.
Di mulut, teksturnya berbagai rupa: ringan namun melawannya naan, empuknya ayam, lelehan cairan dari daging ayam, bulir-bulir halus dari dal, butir kecil biji jinten dan wijen.
Di telinga, suara sobeknya naan yang lembut. Suara adonan naan yang dihempas berulang di meja persiapan; tutup tong panggang yang dibuka dan ditutup diikuti hentaman untuk menempelkan adonan naan.
Di mata, warna yang riuh, menyala. Tetapi bagiku: uap yang lolos sebagai asap saat merobek daging ayam dan naan.
Selesai makan aku selalu merasa lebih penuh. Seperti teko yang diisi kembali dengan daya kehidupan dan asa. Esok hari terasa akan mudah dijalani.