Mungkin ada orang-orang Eropa yang merasa bahwa saat pengembangan kuota dari 32 ke 48 tim, seharusnya mereka yang kembali dapat porsi lebih banyak.
Landasan berpikir mereka jelas soal kualitas dan hal-hal lainnya yang berhubungan dengan penampilan di lapangan.
Padahal menurut gua, FIFA membuat Piala Dunia sekarang diikuti oleh 48 negara jelas berlandaskan tujuan keuntungan.
FIFA 'menjual mimpi' tampil di Piala Dunia dengan peluang yang lebih besar.
Bila dulu 'hanya' 32 negara, kini ada slot 48 negara yang artinya peluang untuk mendapatkan tiket Piala Dunia terasa makin dekat di depan mata.
Orang Eropa boleh berargumen soal kualitas tim-tim asal benua mereka, tapi fakta yang jelas ada, Asia dan Afrika adalah pasar besar yang bisa terus digali oleh FIFA.
Di edisi kali ini, ada sembilan wakil Asia di Piala Dunia.
Status 8 wakil (jadi 9 bila tambah satu lagi lewat jalur playoff), jelas punya perbedaan besar dibanding era sebelumnya saat Asia hanya punya jatah 4/5 wakil.
Bila menghitung 4 dari 16 tim baru, artinya Asia mendapat alokasi 25 persen dari kuota baru yang disediakan.
Dengan 8 tiket, peluang main di Piala Dunia jadi terasa nyata untuk banyak tim Asia. FIFA pun siap mendapatkan pasar yang jauh lebih besar dibanding sebelumnya.
Misalnya saja, penduduk China ada 1,4 miliar.
Andai penggemar sepak bola aktif yang menonton Piala Dunia ada 100 juta saja, otomatis jumlah tersebut meningkat tajam bila China lolos Piala Dunia.
Begitu juga India yang jumlah penduduknya ada di angka 1,4 miliar.
Hal serupa juga bisa terjadi di Indonesia. Misal penggemar sepak bola aktif di Indonesia ada di angka 20 juta, jumlah tersebut jelas akan meningkat tajam bila Indonesia lolos ke Piala Dunia.
Hal yang sama juga berlaku di Benua Afrika yang juga punya sejumlah negara dengan penduduk terbanyak.
Jadi silakan saja orang-orang Eropa berargumen soal kualitas dan segala macam lainnya.
Tapi pasar besar di dunia itu jelas ada di Asia dan Afrika.
Dan sebagai 'penjual' yang baik, FIFA tahu bahwa 'pembeli' adalah raja.
Salah satu alasan UEFA dapet jatah peserta Piala Dunia paling banyak ya karena selama puluhan tahun mereka memang dominasi sepak bola dunia.
Tapi memang sekarang sekarang sepakbola mulai terus berubah.
Dulu negara Asia lolos grup aja udah dianggap kejutan 😂
Sekarang Jepang hampir selalu kompetitif. Korea Selatan bisa ngalahin Ceko, Australia bisa ngalahin Turki, Qatar bisa nahan imbang Swiss.
Kalau dalam 10-20 tahun ke depan negara-negara Asia terus berkembang dan semakin sering mengimbangi Eropa, apakah FIFA akan mempertimbangkan menambah kuota AFC?
Atau dominasi UEFA masih terlalu besar untuk diganggu?