Kalo masih ada kemungkinan pasien saya bisa mengira yang diomongin adalah ceritanya, ya berarti saya gak akan ceritakan. Makanya saya jarang sekali cerita tentang pasien, kecuali sifatnya plural, misal βakhir2 ini lagi banyak yang kena campakβ, atau emang pasiennya setuju. Itu pun kalo tiba2 pasien/ortunya menarik persetujuannya, ya saya hapus kontennya.
Tapi gimana ya dok kalo nakes mau pakai cerita pasien lain untuk tujuan edukasi?
Batasannya dimana? (Selain tidak boleh share identitas pasien)