Waras Raga, Waras Jiwa: Mengapa "Mental Health" Itu Bukan Sekadar Tren Anak Kemlinthi
Sugeng rahayu, cah bagus, cah ayu...
Coba kalian perhatikan gaya Mbok disini itu. Pakai kebaya brokat yang elegan, sanggulan paripurna, bawa kipas klasik, tapi tetap... pakai kacamata hitam! Kenapa coba? Ya supaya silau-silau ujian kehidupan ini nggak langsung bikin mata batin Mbok overthinking! Hahaha. Guyon lho ya, tapi ada benarnya. Kacamata hitam itu simbol boundaries atau batasan diri. Dan hari ini, sambil kipas-kipas cantik, Mbok mau ngajak kalian ngobrol serius tapi santai soal satu hal yang sering disalahpahami sama generasi seusia Mbok: Mental Health alias Kesehatan Mental.
Banyak orang tua zaman old yang ngomel begini, "Halah, anak zaman sekarang sithik-sithik healing, sithik-sithik burnout! Kurang ibadah itu, kurang prihatin, makanya jiwanya lembek!"
Duh, Gusti. Sini Mbok luruskan. Sebagai perempuan Jawa yang menjunjung tinggi tradisi tapi juga melek psikologi modern, Mbok harus tegaskan: Kesehatan mental itu fondasi hidup, bukan tren kecengengan.
1. Filosofi "Sumeleh" Bukan Berarti Nyerah pada Nasib
Orang Jawa punya konsep sumeleh, yang sering disalahartikan sebagai "pasrah bongkokan" atau menyerah total pada keadaan. Padahal, dalam kacamata psikologi klinis, sumeleh adalah bentuk Radical Acceptance (penerimaan radikal). Ini adalah kemampuan kognitif tingkat tinggi di mana kita mengenali masalah dan emosi tanpa denial.
Kalau kamu lagi stres berat gara-gara tekanan kerja atau toxic relationship, jangan ditekan. Repressed emotion atau emosi yang dipendam itu ibarat bom waktu di amygdala otak kita. Mengakui bahwa diri kita sedang tidak baik-baik saja adalah langkah pertama menuju kewarasan. Sumeleh itu meregulasi ekspektasi agar mental kita tidak patah, bukan mematikan ambisi.
2. Kepemimpinan Berawal dari "Waras Wiris" Diri Sendiri
Dalam ilmu leadership dan public speaking, ada satu hukum mutlak: You cannot pour from an empty cup. Kamu tidak bisa menuangkan air dari teko yang kosong melompong.
Bagaimana kamu mau memimpin tim, membesarkan anak, atau bicara meyakinkan memotivasi ribuan orang kalau pikiranmu sendiri kusut pating pecotot? Seorang pemimpin yang kesehatan mentalnya terganggu cenderung memimpin dengan fear-based approach (berbasis rasa takut), mudah meledak marah, atau malah micromanaging karena tingkat kecemasannya yang tinggi. Makanya, merawat mental health adalah bentuk tanggung jawab profesional dan personal. Pepatah Jawa bilang: Ajining diri dumunung ana ing lathi. Harga diri ada di ucapan. Ucapan yang tertata, empatik, dan berwibawa hanya bisa keluar dari pikiran yang jernih.
3. "Sambat" Itu Manusiawi, Hindari Toxic Positivity
Mbok ini memang suka ketawa, fun, seneng guyon, tapi Mbok juga tahu kapan harus bersikap tegas. Tegas itu termasuk berani menolak toxic positivity. Orang lagi nangis hancur lebur kok disuruh, "Ayo senyum, lihat tuh orang lain lebih susah dari kamu!" Itu namanya invalidasi emosi, Nduk, Le.
Sambat (mengeluh) secukupnya itu sangat manusiawi. Otak kita butuh melepaskan ketegangan agar hormon kortisol (hormon stres) turun dan sistem saraf parasimpatik kita bisa rileks kembali. Setelah sambat dan emosi tervalidasi, barulah kita bisa mencari solusi dengan logika (fungsi prefrontal cortex kembali aktif). Jadi, silakan menangis, silakan rehat, dan silakan curhat ke psikolog atau psikiater. Datang ke profesional kesehatan mental itu sama wajarnya dengan datang ke dokter saat asam uratmu kumat. Bedanya, yang kumat ini jiwa dan sistem sarafmu.
4. Menepis Stigma: Harmoni Antara Tradisi, Sains, dan Iman
Tradisi luhur kita mengajarkan Tepo Seliro (tenggang rasa) dan Lembah Manah (rendah hati). Bukankah menyadari kerentanan diri sendiri dan peduli pada luka batin orang lain adalah bentuk tertinggi dari Tepo Seliro?
Salam waras, tangguh, dan bahagia
Simbok β₯οΈ