Utusan Śrī Iśāna Dharmmawangśā Tguh diterima istana Song pada bulan ke-12 tahun 992, datang dengan kapal besar membawa 4423 kati kayu cendana, sepuluh gading gajah, cula badak, dua kati mutiara asli, 100 potong tekstil termasuk sutra dan katun berbagai warna, sutra tenun motif bunga dengan benang emas, keris bergagang indah terbuat dari cula badak dan emas, 12 pedang berhiaskan emas dan perak, dua nampan pinang, 40 tikar bambu bermotif anyaman, tikar rotan bergambar kakatua putih, dan model rumah kecil terbuat dari kayu cendana yang dihiasi ornamen berharga. Dari utusan sendiri mempersembahkan 67 kati kulit kura-kura besar, lima kati kapur barus putih, 10 kati cengkeh, dan 20 tikar bambu bermotif anyaman. Berapa kira² besar jong dari tahun 992 ini?
Ketika di istana sang utusan, P'o-lo-k'in, ditanya tentang negerinya. Dia mengatakan diutus raja dengan gelar hia-tche-ma-lo-ye Ha-ji Ma-ra-ya [Haji Maharaja]) dan istrinya lo-kien-so-p'o-li Rakyan Swari (Rakryān [Parame]swari). Kapal dinahkodai Po-ho (puhāwaŋ) dan istrinya dipanggil Po-ho-pi-ni (puhā[waŋ] bini). Dia menyampaikan hal² lain tapi kurang relevan dengan inti pembahasan.
Bulan ke-12 tahun ke-3 chouen-houa berlangsung dari 27-12-992 hingga 23-1-993. Di Jawa bertepatan dengan bulan Magha tahun 914 Saka, dengan menghitung bulan berdasarkan prasasti Kawambang Kulwan, 13 sukla Magha 913 Saka, kita bisa mengetahui siapa raja Jawa yang sedang berkuasa berdasarkan tanggal prasasti 20 Januari 992. Jadi misi ke istana Song memang utusan raja Dharmmawangśā Tguh yang berangkat sekitar 18 September 992.
Antara periode 990-1002, Srivijaya tidak pernah menyerahkan upeti ke istana Song. Dalam rentang waktu 12 tahun tersebut, enam misi dari Arab dan tiga misi dari India tiba di istana Song untuk memberikan upeti. Tidak juga disebutkan tentang kedatangan misi-misi tersebut melalui jalur darat melalui daratan Asia Tenggara, yang menunjukkan bahwa kapal-kapal mereka masih dapat berlayar dari Samudra Hindia ke China meskipun terjadi konflik di sekitar Selat Malaka.
Konflik dengan Jawa mungkin telah merusak posisi Sriwijaya sebagai entrepôt untuk sementara, sehingga merusak perdagangannya dengan China. Kondisi ini tentu menguntungkan bagi negeri² di Timur Tengah dan Asia Selatan yang tidak lagi membayar biaya mahal ketika melewati Selat Malaka, dan tidak perlu menurunkan barang dagangan mereka di Sriwijaya untuk selanjutnya dikirim ulang ke China.
Tidak adanya catatan tentang misi serah upeti dari Sriwijaya ke istana Song antara tahun 990-1002 menunjukkan bahwa serangan Jawa berdampak buruk bagi salah satu negeri yang paling rajin mengirimkan misi ke istana Song antara tahun 960-988 (14 misi). Setelah tahun 992 Jawa juga tidak mengirimkan misi lagi ke istana Song.
Apakah Dharmmawangśā Tguh bisa dikatakan berhasil mengalahkan Sriwijaya meskipun hanya selama satu dekade? Apakah upayanya menguasai dwipantara terwujud meskipun berumur pendek? Sejarah kita tidak punya cerita ini, mungkin perlu dipertimbangkan untuk dikaji lebih mendalam lagi.
Gambar jong Jawa hanya pemanis saja.