Sudah lama tidak bahas jurnal bertema kejahatan
Kali ini, saya coba membahas "jurnal ilmiah" yang ditulis oleh Sekretaris Kabinet RI, Teddy Indra Wijaya dan dipublikasikan UI pada tahun 2020.
Ceritanya... beberapa tahun lalu, ISIS pernah menyebarkan foto "pejuang"-nya yang sedang menggendong kucing. Di lain waktu, mereka terlihat memegang sebotol Nutella.
Bagi sebagian kita, rasanya foto-foto itu memang aneh atau tidak biasa, tapi justru di situ letak jebakannya.
Jadi gini, propaganda yang paling berbahaya bukan soal kebohongan besar, tapi tentang memilih apa yang ditampilkan dan apa yang disembunyikan, lalu dipercaya oleh orang lain.
Nah, jurnal ini menjelaskan bahwa ISIS menampilkan sisi "manis" dan hidup yang seolah normal. Padahal... ada sisi yang disembunyikan, yaitu kekerasan, perbudakan, dan perlakuan kejam terhadap perempuan.
Jurnal ini memakai tiga pisau dari teori komunikasi, yaitu agenda setting, framing, dan propaganda. Intinya... apa yang terus-menerus ditampilkan di layar, lama-lama dianggap penting (bahkan dianggap benar) oleh yang menontonnya.
Lewat cara tersebut, perempuan pun dibujuk untuk berganti peran, dari lingkup domestik yang merawat kehidupan, menjadi pelaku kekerasan aktif. Di Indonesia, ada beberapa nama yang akhirnya terpikat.
Salah satunya Dian Yulia Novi, perempuan pertama yang didakwa terorisme di sini. Sebagian dari mereka mantan pekerja migran yang jauh dari rumah dan kesepian, lalu didekati lewat media sosial.
Satu catatan yang menarik adalah mereka tidak ditarik oleh ancaman, tapi oleh kelembutan palsu. Modusnya adalah disediakan "kakak perempuan" atau "guru ngaji" online yang terasa seperti keluarga baru. Perasaan "akhirnya ada yang mengerti" itu menjadi pintu masuknya.
Sayangnya, jurnal ini juga punya kelemahan. Ada beberapa hal yang menurut saya perlu dikritisi.
Pertama, jurnal lebih kuat mendeskripsikan, alih-alih membuktikan. Jurnal ini menyusun rapi daftar motivasi dan jenis-jenis propaganda, tapi tidak benar-benar menunjukkan bahwa propaganda itulah yang membuat seseorang akhirnya bergabung. Padahal, bisa jadi ada faktor lain; seperti ekonomi, tekanan keluarga atau pasangan, jaringan pertemanan; yang perannya sama besar atau malah lebih besar.
Kedua, perempuan di sini cenderung digambarkan sebagai pihak yang "terbujuk". Padahal sebagian dari mereka mungkin mengambil keputusan secara sadar, entah dengan alasan politik atau ideologi yang mereka yakini sendiri. Menganggap mereka semata-mata korban manipulasi cenderung meremehkan dan akhirnya bisa membuat kita salah dalam menyusun intervensi pencegahan.
Ketiga, datanya banyak bersandar pada berita media. Padahal soal ISIS, media pun sering hanya bisa mengakses informasi yang memang sengaja disebar ISIS sendiri. Jadi ada risiko jurnal ini ikut terbawa bingkai yang justru sedang ia kritik.
Meski demikian, saya memetik satu hikmah berharga dari jurnal ini. Rayuan atau bujukan paling efektif sering datang lewat hal yang awalnya kelihatan tidak berbahaya, tetapi ternyata menjerumuskan pada akhirnya.
Yang mau baca jurnalnya nih bisa klik tautan berikut
scholarhub.ui.ac.id/jts/vol2…