Polisi bisa punya wewenang sebesar hari ini karena Reformasi 98. Jangan lupa itu.
Salah satu tuntutan utama gerakan mahasiswa 1998 adalah “Cabut Dwifungsi ABRI, Pisahkan TNI dan Polri”. Sebelum reformasi, polisi adalah bagian dari ABRI, tunduk pada doktrin militer, dan berfungsi jadi alat represi Orde Baru.
Mahasiswa turun ke jalan, berdarah-darah, ditembak di Trisakti, Semanggi, demi memutus rantai itu. Hasilnya, tahun 2000 Polri resmi pisah dari TNI. Jadi sipil. Punya UU sendiri. Wewenangnya diperluas jadi penegak hukum utama. Itu buah manis reformasi.
Buah manis yang mereka nikmati sekarang, nyaris tanpa mereka perjuangkan sendiri.
Yang demo, yang ditembak, yang hilang, yang dipenjara, itu mahasiswa dan rakyat. Polisi saat itu justru berada di barisan yang menghadapi mereka.
Setelah reformasi menang, struktur berubah: Polri dapat kemandirian, anggaran naik drastis, kewenangan penyidikan penuh, kontrol politik langsung di bawah presiden. Dari anak buah Pangab, jadi institusi mandiri dengan jenderal bintang empat.
Semua ini terjadi karena ada yang berani mati menuntut perubahan. Bukan karena inisiatif dari dalam.
Maka ketika hari ini kita lihat polisi begitu represif menghadapi demonstrasi mahasiswa, gas air mata ke kampus, penangkapan sewenang-wenang, kriminalisasi aktivis, pembubaran mimbar akademik, rasanya seperti kacang lupa kulitnya.
Demonstrasi adalah napas demokrasi. Persis seperti napas yang dulu dipakai mahasiswa 98 untuk melahirkan Polri yang sipil dan profesional. Tanpa gerakan itu, polisi masih jadi bagian dari ABRI, masih pakai loreng, masih jadi alat kekuasaan, bukan pelayan hukum.
Menembaki demonstran hari ini artinya menembaki cermin sejarahnya sendiri.
Tugas polisi memang jaga ketertiban. Tapi ketertiban bukan dibeli dengan membungkam suara kritis. Reformasi 98 melahirkan Polri sipil dengan mandat utama: melindungi dan mengayomi, bukan memukul dan menakuti.
Dwifungsi ABRI dicabut supaya alat negara tidak lagi jadi alat politik. Supaya polisi tidak jadi centeng penguasa. Kalau hari ini wajah Polri kembali mirip ABRI Orba, antikritik, represif, defensif, berarti cita-cita reformasi dikhianati. Dan yang mengkhianati adalah institusi yang paling diuntungkan oleh reformasi itu.
Ingatlah ini. Hai setiap anggota Polri, dari bintara sampai jenderal: wewenang besar yang kalian pegang hari ini dibayar dengan nyawa mahasiswa 98.
Kalian ada karena gerakan reformasi 98 menuntut kalian dipisah dari tentara. Kalian sipil karena mereka menuntut kalian sipil.
Jangan balik badan dan gigit tangan yang dulu membebaskan kalian. Kalau lupa sejarah, institusi ini tidak akan pernah dipercaya rakyat.
Dan polisi tanpa kepercayaan rakyat cuma jadi preman berseragam coklat.
Panjang umur perjuangan!