"Qur'an BUKAN Induk Segala Ilmu"
Pernyataan bahwa "Al-Qur'an adalah induk segala ilmu" sebenarnya lebih merupakan klaim teologis dan retoris daripada pernyataan yang dapat dipertahankan secara epistemologis.
Jika yang dimaksud adalah bahwa Al-Qur'an memuat secara eksplisit seluruh pengetahuan matematika, fisika, biologi, linguistik, kedokteran, astronomi, geologi, ekonomi, dan seterusnya, maka klaim itu sulit dipertahankan. Tidak ada rumus kalkulus, teori relativitas, mekanika kuantum, genetika molekuler, atau tabel periodik unsur di dalamnya.
Bahkan dalam filsafat ilmu, tidak ada satu pun buku yang menjadi sumber total bagi seluruh pengetahuan manusia. Pengetahuan berkembang melalui observasi, eksperimen, kritik, revisi, dan akumulasi lintas generasi. Sains modern sendiri tidak lahir dari satu buku tunggal, melainkan dari jaringan tradisi intelektual yang sangat panjang.
Biasanya pendukung klaim "induk segala ilmu" akan menggeser makna setelah dikritik. Awalnya terdengar seperti klaim literal, tetapi kemudian diubah menjadi:
"Maksudnya bukan semua detail ilmu ada di Al-Qur'an, melainkan prinsip-prinsip dasarnya."
Jika definisinya sudah digeser seperti itu, maka pernyataannya menjadi jauh lebih lemah dan lebih sulit diuji. Hampir setiap kitab suci, karya filsafat, atau teks kebijaksanaan kuno bisa diklaim sebagai "sumber segala ilmu" karena memuat nilai-nilai umum seperti berpikir, belajar, mengamati alam, atau mencari kebenaran.
Dari sudut pandang epistemologi, yang lebih masuk akal adalah mengatakan:
Al-Qur'an adalah kitab keagamaan yang bagi umat Islam berfungsi sebagai sumber petunjuk spiritual, moral, dan teologis. Itu klaim yang jelas dan konsisten dengan isi teksnya.
Masalah muncul ketika fungsi religius tersebut diperluas menjadi klaim bahwa Al-Qur'an adalah ensiklopedia universal yang memuat seluruh cabang ilmu pengetahuan. Pada titik itu, klaim tersebut tidak hanya sulit dibuktikan, tetapi juga berisiko mereduksi kerja keras ribuan tahun penelitian manusia menjadi sekadar catatan kaki dari sebuah kesimpulan yang sudah diasumsikan sejak awal.
Singkatnya: tidak ada kitab, termasuk Al-Qur'an, yang dapat secara serius disebut sebagai "induk segala ilmu" dalam pengertian akademik atau ilmiah. Itu adalah pernyataan iman, bukan kesimpulan ilmu pengetahuan.
islamdigest.republika.co.id/…