Joined June 2010
11,125 Photos and videos
Pinned Tweet
2016-2019 Me, an Inspirit since 2010 who used to watch Infinite through screen, finally made it to Korea and met them in person ๐Ÿ’› I've achieved my dreams; completing Master degree in Seoul National University and being a happy fangirl โค Thank you @Official_IFNT @HoWon_official
15
151
509
Farah Dineva Rustam retweeted
Guys.. Suaminya sempat kepikiran poligami. Dan jawaban si istri ini bukan tangisan, bukan drama, tapi dingin dan lugas. Dia bilang silahkan, tapi ceraikan dulu. Bukan karena dia ga sayang, tapi karena dia jujur sama dirinya sendiri. Dia tau dia bakal rewel, bakal tersiksa, dan dia ga mau jadi istri yang buruk hanya karena dipaksa situasi yang dia ga sanggup jalani. Satu kalimat yang langsung bikin suaminya diam di tempat. "Aku nggak merasa ada untungnya buat aku." Bukan kalimat emosi. Tapi kalimat yang keluar dari kepala yang jernih. Si istri ini bukan perempuan yang bergantung. Dia kerja, anaknya terurus, rumah beres, kebutuhan suami terpenuhi, dan dirinya sendiri juga terawat. Dia ngerasa ga butuh saudara madu karena emang ga ada yang kurang. Tapi dia juga ga mau disalahpahami sebagai perempuan sombong yang merasa bisa hidup sendiri. Dia bilang tetap butuh suami, tetap senang dinafkahi dan dilindungi. Karir buat dia bukan soal gaya hidup, tapi soal akal sehat. Kalau suatu hari suami ga bisa kerja, dia ga mau kelabakan. Yang paling keras dari utas ini justru bagian soal poligami itu sendiri. Dia bilang nafkah bukan cuma soal uang. Ada rasa aman, kasih sayang, waktu, perhatian, bimbingan. Dan itu semua harus dibagi rata. Bukan hal kecil. Di kolom komentar banyak yang relate. Ada yang bilang takut poligami karena ngeri ga bisa adil dan itu ada hisabnya di akhirat. Ada yang lebih keras lagi, bilang kalau berani poligami jangan harap bisa ketemu anak-anaknya. Ada juga yang becanda tapi serius, bilang ga mau dimadu karena takut nanti madunya malah diracunin. Menurut kalian, jawaban istri ini terlalu keras atau justru paling masuk akal?
8
12
91
19,606
Farah Dineva Rustam retweeted
Gottman Institute, lembaga riset pernikahan 40 tahun, punya istilah untuk ini: Emotional Withdrawal. Bukan marah. Bukan benci. Tapi BERHENTI mencoba. Data mereka: Rata-rata istri menyampaikan keluhan yang sama 6 kali sebelum berhenti bicara. 6 kali, Pak. Dan setelah berhenti? Gottman bilang: pasangan punya window 6โ€“18 bulan sebelum hubungan masuk fase "emotional divorce" , masih tinggal serumah, tapi sudah hidup terpisah secara emosi. Mereka gak cerai. Tapi mereka juga gak bersama.
5
134
824
119,836
Farah Dineva Rustam retweeted
Kalian ngerasa ga sih, mall masih rame, antrian kopi masih panjang, restoran masih penuh. Padahal rupiah lagi di titik terlemah sepanjang sejarah dan ekonomi lagi susah. Nama fenomena ini adalah Lipstick Effect. Dan ini justru sinyal bahaya loh!๐Ÿงต
156
4,492
16,636
684,774
Farah Dineva Rustam retweeted
Mau cerita lagi, proses saya bisa yakin buat ngajakin nikah doi. Sebelum ketemu doi, saya memang beberapa kali nyoba pdkt sm cewe, tapi gak ada yg bener2 cocok. Entah dari komunikasi atau karakternya. Entah kenapa ada perasaan gak nyaman dan gak jadi diri sendiri. Tiap ngobrol, kayak masi jaim dan gak bisa lepas. Atau, karaykternya yg ternyata terlalu dominan/pasif bagi saya. Nah, pas ketemu dan ngobrol sm doi, saya ngerasa lebih nyaman, gak jaim, jokes nyambung, dan yg paling penting jadi diri sendiri. Dia jg bukan tipe yg terlalu dominan/pasif, tau kapan menempatkan diri. Bagi saya, salah satu syarat utk nyari jodoh ya ngobrolnya bisa nyambung. Sebab, pernikahan kan isinya komunikasi. Kalo dari awal gak cocok, kemungkinan pas nanti ngadepin masalah bisa cekcok. Kalo kata Gus Baha', "Kalo sudah berani menikah itu, harus berani mula'abah. Artinya ngobrolin hal2 yg gak penting, main2, atau sering bercanda. Karena seninya nikah itu ya mula'abah, ngomong yg rileks dan asyik. Sebab, bisa tertawa bareng istri itu mewah sekali."
Gimana tanda kalo dia adalah jodoh kita? Rasa tenang. Bukan perasaan yg menggebu2, tapi ada perasaan tenang yg aneh. Seperti pulang ke rumah setelah lama pergi. Seolah kita yakin, kalo dia jodoh kita. Bukan cuma cocoklogi. Selanjutnya, kita jg ngerasa jadi diri sendiri. Gak ada yg namanya kepura2an. Gak selalu jaim di depan dia. Gak ada kekurangan yg ditutupi. Dgn jodoh, topeng itu jatuh dgn sendirinya. Tanda lainnya, kalo diskusi sm dia kerasa beda. Sekalipun beda pendapat atau berdebat. Marah, tapi gak pengen menyakiti. Capek, tapi gak pengen pergi. Ego kita gak lebih besar dari kemauan utk ngejaga hubungan. Kalo kita ketemu dia, bawaanya pengen jadi versi yg lebih baik, bukan karena dituntut. Tapi, kehadirannya bisa menginspirasi utk terus tumbuh lebih baik. Katanya, jodoh itu tenang, aman, dan mendorong ke arah lebih baik. Ketemu jodoh itu ibarat menemukan bagian diri yg hilang. Dan ketika bersama seolah tubuh kita jadi lengkap. Ini kesimpulan yg saya dapatkan, dari hasil ngobrol sm orang lain dan ngerasainnya sendiri.
31
389
2,869
110,156
Farah Dineva Rustam retweeted
seberapa keren TODDLER kalian? Aku duluan ya ๐Ÿ™ Pas antri kasir swalayan, ada ibu2 nyrobot antrian di dpnku, kutegor utk antri, dia jwb: ๐Ÿ‘น: "aduh itu anakku kasihan kl nungguin antri lama" ๐Ÿง•: tetep antri Bu" ๐Ÿ‘ถ: Tante, jgn kasihan sm anak Tante doang. Aku jg anak2 capek jg kl nunggu Tante bayar. ๐Ÿ‘น: "saya cuma beli ini doang dek" ๐Ÿ‘ถ: "malu dong Tante, kaya gak berpendidikan aja gak mau antri, aku anak TK aja bisa antri" Lalu mundur antri dia, dan yg antri di blkgku pd TOS sm anakku cc:threaddotika
87
1,753
26,797
727,399
Farah Dineva Rustam retweeted
May 15
Saya ada cerita seorang bapak. Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1. Lembur. Utang. Sampai jual tanah warisan. Anaknya lulus. IPK bagus. Wisuda lengkap dengan toga. Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR. Dan si bapak masih senyum bilang, "Mungkin belum rezekinya."๏ฟผ Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya. Tapi cerita si bapak. Dia lahir tahun 70-an. Gak tamat SMA pun bisa buka toko, punya rumah, besarin anak dengan layak. Logikanya simpel dan masuk akal: "Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah, hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya." Logika itu benar. Di zamannya.๏ฟผ Masalahnya bukan orang tua yang salah didik. Bukan juga anaknya yang kurang usaha. Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa. Ijazah dulu adalah tiket. Sekarang ijazah adalah syarat minimum. Yang bahkan kadang pun masih belum cukup. Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.๏ฟผ Bayangin ya. Tahun 1995, fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan. Sekarang, lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun, skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja. Gajinya? UMR aja belum tentu. Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu. Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.๏ฟผ Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini: "Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus." "Kuliah dulu, baru enak hidupnya." "Investasi terbaik itu pendidikan." Nasihat itu bukan bohong. Di zamannya, itu benar dan terbukti. Tapi zamannya sudah ganti. Nasihatnya tidak ikut ganti. Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.๏ฟผ Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman. Dia cerita, "Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw." Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?" "Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak." "Bokap lu tau?" "Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung." Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal. Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja. Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.๏ฟผ Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah, jangan cuma pikirin jurusannya. Tapi ajarin juga: 1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil. 2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan. Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana. 3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang. Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata. 4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan. Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.๏ฟผ Soalnya begini. Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah. Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya: "Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal. Kita harus cari tau bareng-bareng." Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.๏ฟผ Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu. Kubu pertama bilang, "Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar." Kubu kedua bilang, "Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha." Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut: Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya. Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.๏ฟผ Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya. Bukan karena malas. Bukan karena manja. Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang. Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.๏ฟผ
206
6,914
19,329
858,035
Farah Dineva Rustam retweeted
Menstruasi *** Ini kisah ketika aku masih bestiean sama suami. Kami berdua belum pacaran, belum nikah. Bener2 cuma rekan kerja, rekan nongkrong, dan rekan ghibah. Saking bestienya hubungan kami, G ini sering banget mampir ke rumahku di sela2 jam kantor. Soalnya kantor dia dan rumahku tuh jaraknya cuma 5 menit, sementara kantornya ke tempat tinggalnya sekitar 1 jam. Makanya kalo lagi jam istirahat, dia suka tidur di sofa ruang tamuku. Suatu hari, dia datang di saat aku lagi nggak enak badan banget. Dia bilang mau numpang kerja, terus siangnya balik ke kantor. Aku bilang, "G, aku lagi menstruasi. Aku lagi males banget ngapa2in". "Ga papa, aku duduk aja di sini. Kerja. Kamu tidur2an aja". Aku blg, "kamu self-service ya, aku soalnya lagi males banget ngapa2in". Awalnya dia diam aja di ruang tengah, aku di kamar. Dia kerja, aku tidur. Sampai akhirnya dia ngelihat sendiri, gimana aku bangun dari kasur dan aku ke kamar mandi. Aku jalan dengan kondisi darah super deras mengalir di kakiku. Lalu darahnya jatuh di lantai, mulai dari kamarku sampe kamar mandi. Waktu aku di kamar mandi, dia langsung gedor2, "Bri, are you okey?" "Lu kerja aja sana, gak usah urusin gue". Ketika aku keluar dari kamar mandi, udah ganti pembalut dan berishin celana dalam, aku lihat dia lagi pegang gagang pel, bersihkan semua darahku dari kamar sampe di depan kamar mandi. Padahal ekspektasiku dia bakalan meledek dan ngata2in aku lebay. Tapi dia gak komen apa2. Cuma bersihin, habis itu membiarkan aku kembali tidur. Sejak saat itu, sampai kami nikah, dia udah hafal banget tentang aku yang sedang menstruasi. Pokoknya kalau dia tahu tanggal2 menstruasiku, dia tahu bahwa aku gak mau diganggu. Bahkan dia inisiatif sendiri untuk beliin makan, beliin minuman kesukaan aku, bahkan beliin pembalut yang paling sering aku pake. Dia tahu kalo mood aku bakalan berantakan. Ya gimana gak bete. Udah hormon begitu, terus ganti pembalut harus 4 jam sekali, belum lg drama tembus. Dia pun mengakui, kalau itu terjadi ke dia, dia juga bakalan bete. Dia pernah kasih aku bunga juga di hari menstruasiku, dengan quotes, "Every period is proof of strength, resilience, and the beauty of the your body." Thank you, Paksu untuk memahami diri aku sebagai perempuan.
169
1,657
11,883
274,923
Padahal cuma online date Tapi aku cengar cengir kek orang sarap ๐Ÿ˜๐Ÿคฃ
[๐ŸŽถ] ์˜ค๋Š˜์€ ์šฐํ˜„์ด์™€ ์ƒˆ์‹น์ด์˜ 10์ฃผ๋…„ ๋ฐ์ดํŠธ๐Ÿ’“ ๐Ÿ”—youtube.com/shorts/TUIsWjT-Yโ€ฆ ๐Ÿ”—vt.tiktok.com/ZS9WU2qVY/ #๋‚จ์šฐํ˜„ #NAMWOOHYUN #์†Œ๋…„์†Œ๋…€ #BoysAndGirls
1
86
๋‚จ์šฐํ˜„(NAM WOO HYUN) '์†Œ๋…„์†Œ๋…€ (Feat. ์ธํ”ผ๋‹ˆํŠธ)' Audio Preview youtu.be/Dit0UJ4LJsI Release on โžซ 2026.05.09 6PM (KST) #๋‚จ์šฐํ˜„ #NAMWOOHYUN #์†Œ๋…„์†Œ๋…€ #Audio #Preview #๋นŒ๋ฆฌ์–ธ์Šค #BILLIONS
26
2,003
2,700
112,921
Selamat Kembali Pulang ke Surga, Para Bidadari ๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿฅ€๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ 1. Adelia Rifani (26 th) 2. Arinjani Novitasari (25 th) 3. Enggar Retno Krisjayanti 4. Farida Utami (50 th) 5. Fatmawati Rahmayani (29 th) 6. Gita Septiawardani (20 th) 7. Harum Anjasari (27 th) 8. Ida Nuraida (48 th) 9. Nur Ainia Eka Rahmadynna (32 th) 10. Nur Alimantun Citra Lestari (19 th) 11. Nurlaela (37 th) 12. Nuryati (62 th) 13. Ristuti Kustirahayu (37 th) 14. Tutik Anitasari (31 th) 15 Vica Acnia Pratiwi (23 th)
112
3,719
14,530
421,803
Farah Dineva Rustam retweeted
Ini pernah kutanyakan sama suami sebelum nikah. Maklum saya ga pernah check apapun pas muda. Bahkan ga mau ribet check2 setelah nikah. Prinsipnya dikasih puji Tuhan, gak pun gpp. Saya blg ke dia, 'Umur ku uda 33 tahun. Kalo kita ga bisa punya anak krn aku mandul gmn' Dia blg, 'Ya gpp bisa juga krn aku yg mandul' Saya tanya lagi, 'Kalo keluarga dan org2 sekitar protes gmn' Dia jawab, 'Yauda ntar blg aja aku yg mandul. Bukan kamu. Aman. Lagian aku nikah sama kamu bukan buat punya anak. Buat hidup bareng' Setelah kami nikah, sebulan kemudian saya hamil. Skrg uda anak satu perempuan umur 2,5 tahun. Saya gak mau banyak omong gmn jadinya kalo saya dan suami beneran gak dikasi anak. Karena saya tau, itu gak mudah. Dan saya GAK MENGALAMI. Terutama saya punya teman-teman yg dihadapkan sama situasi itu di NEGARA ini. Dan perempuan selalu jadi objek pertama yg dipertanyakan. Saya hanya berharap masyarakat kita bs belajar untuk stop mencampuri rumah tangga orang. Jangan pake standard kamu ke kehidupan org lain. Be a good neighbor in this world.
Mau tanya sama cowok: Jika suatu hari, istri kamu mandul dan gak bisa hamil sementara orang tua kamu udh nuntut buat punya cucu. Apa yg kamu lakuin? Cerai? Nikah lagi? Atau ambil anak dari panti asuhan?
39
529
4,103
295,661
YA ALLAH NETES AIR MATAKU PEREMPUAN-PEREMPUAN NGGAK ADA HATI MEMANG ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ’”
This is the video of the Horrific daycare abuse in Yogyakarta: 53 toddlers tied up, drugged & neglected. 13 suspects arrested. x.com/VikirBaskervl/status/2โ€ฆ
69
Farah Dineva Rustam retweeted
โ€œNgapain perempuan sekolah tinggi? Ujung-ujungnya juga di dapurโ€ Well you need to be educated enough to know that there are SOOOOOO MANYYYYY PRAKTIK KEBODOHAN YANG SUDAH DINORMALISASI WHEN IT COMES TO MENGURUS ANAK. - Abis lahiran perutnya diurut katanya biar rahimnya naik - Menyusui gaboleh makan daging, banyakin sayur aja - Pijet bayi sampe jerit-jerit - Kasih pisang ke anak < 6 bulan katanya biar kuat DAN MASIH BANYAK LAGI. Setelah aku punya anak bener-bener aku ngerasain banget pentingnya seorang ibu itu pinter! Jangan setiap ada yang nyaranin langsung diikutin. Cek dulu! And you still think perempuan ga mesti pinter? Kalo iya berarti elu yang kurang pinter.
Ini ortunya bego kali ya. Itu anak2 dipijitin pake kayu pasti sakit. Alih2 refleksi atau pengobatan, malah bisa jadi memar dan luka. Plis mikirrrrrr. Tolongin anak ini dokter @sdenta
82
4,514
13,946
531,983
Farah Dineva Rustam retweeted
bukan soal โ€œjinโ€ atau energi gaib gitu, tapi pure psikologi neurokimia. (setau gw) kalau di psikologi namanya: premature sense of accomplishment atau social reality substitution. orang punya rencana yang masih vague (gak jelas, gak ada deadline, gak ada step konkrit), terus dia cerita ke orang-orang โ†’ langsung dapet reaksi positif: โ€œwah keren bro!โ€ โ€œmantap tuh rencananyaโ€ โ€œsemangat ya!โ€ otak langsung ngerasa โ€œudah dong, udah diakuinโ€. dopamine naik, tapi itu dopamine murahan dari pujian, bukan dari progress beneran. akhirnya motivasi asli (yang seharusnya datang dari ngerjain) malah drop, jadi males gerak, rencananya mandek. โ€œdia udah puas duluan karena pujian โ†’ semangatnya berkurang.โ€ malah ada penelitian klasik dari Peter Gollwitzer (nyeritain โ€œwhen intentions go publicโ€) yang nunjukin: orang yang share goal ke orang lain cenderung kurang achieve goal-nya dibanding yang diem-diem. karena otaknya udah ngerasa โ€œgoalnya udah sebagian tercapaiโ€ gara-gara diomongin. tapi ada caveat: kalau goal lu super jelas, spesifik, dan lu share ke orang yang bener-bener bisa kasih accountability (misal mentor, partner, atau circle kecil yang strict), justru bisa nambah motivasi. tapi banyak kasus orang Indonesia? mereka share ke temen-temen yang cuma bisa bilang โ€œmantap broโ€ doang dan efeknya malah negatif. jadi intinya bukan rencananya yang gagal karena diceritain, tapi cara orang nyeritainnya kualitas rencananya yang bikin gagal. gw sendiri kalau ada target gede, lebih sering diem dulu sampe ada progress nyata baru cerita. lebih aman buat dopamine-nya, kalau kalian biasanya gimana? kalau ada rencana penting, kalian share atau diem?
kalian percaya ini ga?
49
2,735
11,809
359,768
Farah Dineva Rustam retweeted
by..tahukah kamuโ€ฆ dalam Al-Qurโ€™an, Allah berulang kali berbicara kepada perempuan dengan satu pesan lembut : โ€œLaa tahzaniiโ€ โ€” Jangan bersedih hati. (QS. Maryam: 24, QS. Al-Qashash: 7, QS. Al-Ahzab: 35) Kalimat itu bukan sekadar larangan. Tapi penenang dari Zat yang tahu betul isi hatimu. Dan kalimat itu bukan sekadar nasihat. Tapi pelukan paling lembut dari langit.๐Ÿ–ค
2
459
1,687
26,268
Farah Dineva Rustam retweeted
girl you too smart they gon get you

231
1,327
64,519
4,133,201
Farah Dineva Rustam retweeted
Guys, gua punya tante sebut aja Tante Anita yang nikah di umur 32 tahun dan sampai sekarang masih jadi bahan obrolan di arisan keluarga. Bukan karena ada yang salah dengan hidupnya. Tapi justru karena tidak ada yang salah sama sekali dan itu yang bikin beberapa anggota keluarga tidak bisa berhenti kasih komentar yang tidak diminta. Waktu teman-teman seangkatannya sudah ramai kondangan dan upload foto hamil di Instagram, Tante Anita lagi solo trip keliling Lombok dan Labuan Bajo sendirian dengan carrier 40 liter dan itinerary yang dia susun sendiri. Waktu sepupu-sepupunya sibuk hunting furnitur rumah baru, dia lagi negosiasi salary untuk posisi yang dia impikan sejak awal karir. Waktu orang-orang sekitarnya mulai panik dengan usia dan tekanan sosial yang makin kencang, dia lagi menikmati weekend di warung kopi favoritnya di Bandung dengan buku dan es kopi susu tanpa harus izin atau laporan ke siapapun. Dan dia melakukan semua itu bukan karena tidak ada yang mau. Bukan karena tidak mampu lebih awal. Tapi karena dia sadar betul satu hal yang banyak orang baru menyadarinya setelah sudah terlanjur bahwa waktu untuk benar-benar menjadi diri sendiri itu punya batas dan tidak bisa diputar ulang. Gua pernah nanya langsung ke Tante Anita suatu malam waktu kami lagi ngobrol santai di teras rumah neneknya. Tante dulu tidak takut dibilang telat nikah? atau jadi perawan tua gitu ?? Dia senyum. Minum tehnya dulu. Baru jawab. Telat dari jadwal siapa coba hahahahah?? Dan gua diam cukup lama karena gua sendiri tidak bisa jawab. Jadwal itu dibuat oleh siapa sebenernya? Orang tua? Tetangga? Algoritma Instagram yang terus-terusan rekomendasikan konten wedding dan baby shower setiap kali gua buka aplikasi tengah malam? Tante Anita sekarang sudah menikah. Dengan seseorang yang dia bilang worth untuk mengubah seluruh ritme hidup yang sudah dia bangun pelan-pelan selama bertahun-tahun. Dan yang paling menarik adalah dia tidak menyesal sedikit pun menunggu selama itu. Justru sebaliknya. Dia bilang justru karena dia pernah hidup sepenuhnya sebagai individu yang mandiri dan utuh punya penghasilan sendiri, punya circle sendiri, punya goals dan rutinitas dan cara menikmati hidup yang benar-benar miliknya sendiri dia masuk ke pernikahan tanpa membawa kekosongan yang butuh diisi oleh orang lain. Dia tidak menikah karena takut kesepian. Tidak menikah karena tekanan keluarga yang sudah tidak bisa ditahan lagi. Tidak menikah karena merasa waktunya hampir habis. Dia menikah karena dia ketemu seseorang yang hidupnya genuinely lebih baik kalau orang itu ada di dalamnya. Tapi Tante Anita juga sangat jujur soal satu hal yang jarang dibicarakan orang dengan terbuka. Setelah menikah semuanya berubah. Bukan buruk. Tapi berbeda secara fundamental. Mau pergi ke mana harus dikomunikasikan. Mau ambil keputusan besar harus dipertimbangkan berdua. Mau spontan harus mempertimbangkan kondisi dan perasaan orang lain yang haknya sama besarnya dengan hak kamu. Kebebasan yang dulu seratus persen miliknya sendiri sekarang punya dimensi baru yang namanya tanggung jawab bersama. Dan itu bukan keluhan. Itu kenyataan yang dia terima dengan sadar dan dengan siap karena dia masuk ke sana bukan dalam kondisi kosong yang butuh diisi tapi dalam kondisi penuh yang siap untuk dibagi. Tante Anita tidak menunda pernikahan karena takut atau karena tidak ada pilihan. Dia menunda karena dia tahu ada hal-hal yang hanya bisa dilakukan dengan sepenuh hati waktu kamu masih sendiri. Dan waktu itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun begitu sudah berlalu. Jalan jauh sendirian keliling Indonesia. Kerja keras untuk sesuatu yang murni kamu mau tanpa harus mempertimbangkan impact-nya ke orang lain. Buat keputusan yang sepenuhnya milik kamu sendiri. Salah dan belajar dan jatuh atas nama diri sendiri saja tanpa ada yang ikut menanggung konsekuensinya. Bukan karena hidup berkeluarga tidak indah. Tapi karena ada fase dalam hidup yang kalau dilewatkan terburu-buru tidak bisa diganti dengan apapun setelahnya. Dan menikmati fase itu sepenuhnya sebelum melangkah ke fase berikutnya bukan sesuatu yang perlu dimintakan maaf kepada siapapun.
to all perempuan cantik, please take note. main yang jauh dulu, kerja sampe capek dulu, nikmatin, temuin diri lo sendiri sampe akhirnya lo bakal temuin yg setara. stop mikir nikah kalau lagi cape, stop mikir berhenti kalau lagi berat bgt. semua harus dilewati sampai selesai.
51
1,373
4,511
265,555
Farah Dineva Rustam retweeted
Gue punya temen cewek namanya Amel. Pintar, mandiri, dan waktu nikah semua orang bilang dia beruntung banget. Suaminya kerja bagus penghasilan oke, sayang banget sama dia. Dan karena semua itu Amel berhenti kerja. Ngapain capek-capek, suami gue udah cukupin semua. Gue nggak bilang apa-apa waktu itu. Karena secara logika masuk akal. Tahun pertama sampai ketiga semua baik-baik aja. Amel ngurusin rumah. Suami cari duit. Hidup terasa lengkap. Tapi pelan-pelan gue mulai notice sesuatu. Amel yang dulu berani berpendapat mulai jarang ngomong kalau beda pendapat sama suaminya. Amel yang dulu spontan mau nongkrong sekarang selalu nanti tanya suami dulu. Dan waktu gue tanya "Mel, lo nggak kangen kerja?" Dia jawab "Kangen sih. Tapi nanti suami gue ngerasa nggak dibutuhkan." Tahun kelima semuanya berubah. Kantor suaminya kena efisiensi besar-besaran. Di-PHK tanpa pesangon yang cukup. Dan tiba-tiba satu penghasilan yang selama ini jadi satu-satunya sumber kehidupan mereka, hilang. Amel mau balik kerja. Tapi gap-nya udah 5 tahun. Industri udah berubah. Koneksinya udah banyak yang putus. CV-nya terasa ketinggalan zaman. Dan yang paling berat bukan soal keuangannya tapi soal dynamic yang berubah di dalam rumah tangga mereka. Suaminya yang tadinya provider tiba-tiba merasa kehilangan identitas. Dan Amel yang tadinya dependent tiba-tiba harus jadi tulang punggung tanpa persiapan apapun. Dua orang yang saling sayang tapi nggak siap untuk skenario yang seharusnya mereka antisipasi dari awal. Dan ini yang gue pelajarin dari cerita Amel. Punya penghasilan sendiri bukan soal nggak percaya sama suami. Bukan soal "gue harus mandiri karena suami gue pasti selingkuh." Bukan soal emansipasi yang dipaksain. Tapi soal satu hal sederhana yang sering kita lupa Dunia ini nggak berjalan sesuai rencana. Dan lo nggak bisa mendelegasikan seluruh ketahanan hidup lo ke satu orang. Suami yang baik bisa kena PHK. Suami yang sehat bisa tiba-tiba sakit. Suami yang setia bisa burnout dan berubah. Dan kalau di titik itu lo nggak punya apa-apa atas nama lo sendiri bukan rekening, bukan skill, bukan network lo nggak punya pilihan. Dan ketiadaan pilihan itu yang paling berbahaya bukan karena lo miskin, tapi karena lo jadi terpaksa bertahan di situasi yang harusnya bisa lo tinggalkan. Amel sekarang udah balik kerja. Prosesnya nggak mudah dan nggak cepat. Tapi dia bilang satu hal ke gue yang gue inget sampai sekarang Gue bukan nggak percaya sama suami gue. Gue cuma nggak mau jadi orang yang nggak punya pilihan kalau hal yang nggak gue inginkan terjadi. Punya penghasilan sendiri bukan ancaman buat rumah tangga. Itu justru salah satu fondasi yang bikin rumah tangga bisa bertahan karena dua orang yang saling backup jauh lebih kuat dari satu orang yang nanggung semuanya. R.A. Kartini udah bilang ini lebih dari 100 tahun yang lalu. Dan kita masih debatin hal yang sama.
yap! apa cuma aku yang apa apa selalu dibeliin cowo aku ๐Ÿฅน๐Ÿฅน ternyata cewe ga harus punya pengasilan sendiri kalo cowonya bener ๐Ÿฅฐ
59
1,383
4,451
246,842
Farah Dineva Rustam retweeted
LDR tuh buat orang yang mampu aja. Mampu buat saling ngerti, saling percaya, saling setia, mampu finansial juga karena sekali ketemu gak murah soalnya gede di ongkos, apalagi beda pulau or negara. Mampu nahan ego pas lagi kangen tapi gak bisa ketemu. Mampu jaga komunikasi walaupun sama-sama sibuk. Mampu gak overthinking berlebihan, atau minimal tau cara nenangin diri sendiri. Mampu konsisten, bukan cuma di awal doang.
unpopular opinion about LDR
59
708
2,724
108,961
Jalur komen,"Mamaakk...swaaag~" di postingan foto Dongwoo dan mamanya. Malah dibalas sama Dongwoo,"Swaaag~" Wkwkw pas aku komen panjang-panjang yang menyentuh hati, nggak dibales. Giliran komen asbun, dibales ๐Ÿคฃ
Kalian pernah di notice artis jalur apa? Gua jalur blok sama Jessica Jung ๐Ÿ˜ญ masih simpan artefaknya ๐Ÿ’š
261