Mengapa banyak "mantan" aktivis setelah masuk pemerintahan menjadi korup, oportunis, atau justru membela praktik yang dulu mereka kritik?
Ini bukan fenomena aneh sebenarnya. Banyak teori yg sudah menjelaskan hal ini. Salah satunya "Theory of Institutionalization". Ini bisa menjelaskan juga mengapa banyak orang yang berasumsi individu akan mengubah sistem yg korup dari dalam justru berakhir ikut berubah mengikuti sistem yg korup itu.
Itu karena perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh insentif, aturan formal, budaya organisasi, dan jaringan patronase.
Ketika seorang aktivis masuk birokrasi atau partai politik, ia menghadapi tekanan untuk menyesuaikan diri. Jika seluruh lingkungan kerjanya menerima praktik korup atau transaksional, maka bertahan sebagai idealis menjadi semakin mahal secara politik. Makanya ada ungkapan terkenal, “Power doesn’t corrupt people as much as it reveals and rewards certain behaviors.”
Kekuasaan sering kali memberi penghargaan pada kompromi, loyalitas kelompok, dan pragmatisme. Dan lama-lama, sadar atau tidak sadar, bakal ikut terseret.
Tidak semua orang akan seperti itu, tp dalam kasus lautan politik di Indonesia yg begitu pekat garamnya (baca: korupnya), kayaknya bakal sulit survive bagi "ikan-ikan" yg nyebur ke kubangannya kalau tidak ikutan jadi asin.