Selamat Sahabat Purwaji, Atas Pemecatanya
@maspurwaji
Sahabat Purwaji adalah cermin besar bagaimana Khidmah kader dilakukan terhadap organisasi. Saya mengenalnya sejak menjadi Ketua PW GP Ansor Riau, ingat, Riau, bukan Jateng, Jatim, bukan, sekali lagi, ini Riau. Menjalankan Khidmah Ansor di sana adalah Nyawa taruhannya. Jika bukan petarung, habis Ketua Purwaji di sana. Ndak cuman giat Pam Pengajian, Ansor Riau benar-benar menjadi representasi organ kepemudaan NU, saya ingat betul, di Riau sana, Banser-banser diminta negara untuk bersama-sama menggagalkan upaya-upaya penyelundupan Narkoba dari pulau terluar kita, bagaimana puluhan hari banser-nya Ketua Purwaji keluar masuk hutan untuk memadamkan kebakaran, dan yang paling keren, bagaimana membawa semangat wajah teduh Nahdlatul Ulama di Riau, tau apa yang lebih keren? Ketua Purwaji berhasil.
Bukan ingin keren, namun semangatnya lahir dari kecintaan terhadap organisasinya, terhadap Ansor, terlebih Nahdlatul Ulama. Loyalitas Ketua Purwaji sudah diuji oleh banyak aral khidmah, lalu ketika Gus Yaqut, mantan Ketua Umum GP Ansor diterpa fitnah, Ketua Purwaji berada di garis depan untuk membelanya, sama sepertu ratusan ribu kader lainnya dibseluruh dunia, bukan untuk membela Gus Yaqut, namun bentuk loyalitas dan kecintaan Khidmah pada GP Ansor dan Nahdatul Ulama.
Ndak usah Ketua Purwaji, kader Ansor di Ranting saja paham, ada kader terbaik kita saat ini menghadapi fitnah, mantan Ketua Umum, Ketua Dewan Penasihat, Kiai, pejuang NU, Nyawa harta sudah beliau taruhkan untuk Ansor, masak kita sahabatnya diam? di Ansor, pengucapan Sahabat itu ada artinya, bahwa jika sudah Khidmah di Ansor, itu adalah saudara, hendak Pam Pengajian aja, sahabat kita yang Ndak punya stok rumput untuk pakan sapinya dibantu Ngarit, apalagi ini ada fintah akbar yang menerpa Kok ya Ndak mau dibela? Bukan karena Gus Yaqut pribadinya, namun semangat Khidmah membela kader itu karena kecintaan pada Organisasi, Ansor, NU, menjaga Muru'ah Jam'iyah Ansor dan NU, membela Negara, bahwa jangan sampai hukum dipakai semena-mena, kita semua sepakat, Korupsi adalah musuh kita bersama, namun yang kita bela bukan koruptor, tapi adalah pembelaan pada hak-hak kader yang didzalimi. Ndak Usah Gus Yaqut, misal ada pengurus PP GP Ansor hari ini yang mengalami hal serupa dengan Gus Yaqut, saya yakin, Ketua Purwaji akan bersikap sama, atas nama khidmah dan kecintaan kepada Ansor dan Nahdatul Ulama.
Ketua Purwaji semalam diberhentikan dari PP GP Ansor, yang jelas karena sikapnya selama ini atas pembelaan-pembelaan kepada Gus Yaqut, di tengah puluhan Kiai Khos NU yang dengan lantang support dan mendukung Gus Yaqut, di tengah ratusan ribu kader yang berteriak setiap hari di Medsos bahwa Gus Yaqut adalah kita, Ketua Purwaji diberhentikan, beliau diberhentikan atas khidmah dan kecintaan kepada organisasi, miris.. Ansor ada apa? Jika nanti ada kader yang membela hak-hak Adami kader lainnya yang sedang mengahapi fitnah maka akan dipecat, maka, ini bukan pemecatan, ini adalah pembunuhan loyalitas kecintaan, khidmah kepada organisasi, membunuh panggilan keramat "Sahabat" bagi semua kader Ansor dan Banser.
Selamat Ketua Purwaji, purna sudah khidmah antum di Ansor, ditutup dengan sangat Husnul Khotimah, berdiri tegak atas khidmah kecintaan kepada organisasi, meneguhkan arti panggilan sahabat, dan bisa menjadi contoh tauladan jutaan kader soal arti Kacang Ndak akan lupa kulitnya, atas bagaimana seorang kader harus bersikap. Sekali lagi, Selamat!!
#GusYaqutAdalahKita