Guys, ada satu momen yang menurut gue paling absurd dan paling menggambarkan betapa terbaliknya logika moral di negeri ini.
Idrus Marham Wakil Ketua Umum Golkar bicara soal etika dan kesopanan. Dan dia mengkritik seorang eks aktivis mahasiswa karena katanya "tidak pantas".
Sekarang coba tebak siapa Idrus Marham?
Ini rekam jejaknya yang dia sendiri pasti hafal di luar kepala:
24 Agustus 2018 mundur dari Menteri Sosial Kabinet Jokowi karena terjerat kasus korupsi proyek PLTU Riau-1.
15 Januari 2019 didakwa menerima suap Rp2,25 miliar dari seorang pengusaha.
23 April 2019 divonis 3 tahun penjara, denda Rp150 juta.
18 Juli 2019 hukumannya diperberat jadi 5 tahun penjara oleh pengadilan tinggi setelah KPK mengajukan banding.
3 Desember 2019 ajukan kasasi ke MA. Hukumannya disunat jadi 2 tahun penjara, denda Rp50 juta.
18 Desember 2019 eksekusi ke Lapas Cipinang.
11 September 2020 bebas.
Total waktu di penjara:
kurang dari setahun.
Dari hukuman awal 5 tahun yang sudah diperberat KPK.
Dan sekarang orang dengan rekam jejak seperti ini berdiri di depan media dan bicara:
"Ada etika-etika kebangsaan kita.
Bahasa-bahasa yang digunakan seperti saudara Tiyo itu sangat tidak pantas diucapkan."
Dan dia bahkan mempertanyakan kapasitas Tiyo:
"Bayangkan kalau orang-orang seperti itu nanti muncul sebagai pemimpin mau jadi apa negeri ini?"
Coba kita balik pertanyaannya, Pak Idrus:
Bayangkan kalau orang yang pernah menerima suap Rp2,25 miliar dari proyek PLTU yang seharusnya dipenjara 5 tahun tapi keluar kurang dari setahun karena kasasinya disunat MA
sekarang jadi Wakil Ketua Umum partai terbesar dan bicara soal etika kebangsaan ke generasi muda.
Mau jadi apa negeri ini, Pak?
Dan ini yang paling ironis dari semua ini:
Tiyo apapun kritiknya, setuju atau tidak dengan caranya setidaknya dia belum pernah dipenjara karena mencuri uang rakyat.
Dia kritik dengan kata-kata.
Mungkin kasar.
Mungkin tidak elegan.
Tapi yang dia rusak hanya perasaan orang yang dikritik.
Idrus Marham uang yang dia ambil itu uang proyek PLTU. Proyek listrik yang seharusnya untuk rakyat.
Yang dia rusak bukan perasaan tapi kepercayaan publik dan uang negara yang nyata.
Dan sekarang yang merasa berhak menggurui soal etika adalah yang mencuri uang rakyat bukan yang sekadar pakai kata-kata kasar.
Di Indonesia standar moral memang sudah sangat terbalik. Orang yang pernah terbukti korupsi, dipenjara, lalu keluar dengan hukuman yang sudah dipotong-potong bisa kembali jadi pejabat partai dan menggurui anak muda soal etika dan nilai kebangsaan.
Sementara yang dikritik meskipun caranya bisa didebat setidaknya belum pernah merampok uang rakyat sepeser pun.
Kalau Idrus benar-benar peduli soal etika dan masa depan bangsa mungkin yang pertama harus dia lakukan bukan menggurui Tiyo.
Tapi bercermin pada rekam jejaknya sendiri dan bertanya pada diri sendiri: dengan rekam jejak seperti itu, apa kapasitas dia untuk bicara soal kepantasan?
Pepatah lama masih berlaku:
maling teriak maling.
Tapi yang ini lebih parah koruptor mengajari orang soal kejujuran moral.