Apakah MBG adalah sebuah kebijakan yang hebat?
Prabowo begitu bangga dengan Program MBG-nya.
Kita kupas.
1. Dari sisi inovasi kebijakan: MBG bukanlah terobosan besar.
Secara konsep, MBG adalah skema in-kind transfer (bantuan berbentuk barang/jasa, bukan uang). Program begini umum banget di banyak negara (misalnya program school lunch di India, AS atau Jepang). Kebanyakan literasi menyebut program begini efektif untuk:
• Meningkatkan kehadiran siswa.
• Menurunkan kelaparan jangka pendek.
• Membantu redistribusi pangan.
Tapi dari sisi kebaruan ide, MBG gak berisi inovasi fundamental. Cuma mengemas ulang bantuan sosial berbasis makanan dengan target anak sekolah.
2. Efisiensi ekonomi: biaya transaksi lebih tinggi ketimbang bantuan tunai atau subsidi.
Jika dibandingkan dengan skema transfer tunai bersyarat (seperti PKH) atau subsidi pangan langsung ke keluarga, MBG memiliki leakage yang berbeda tapi tetap signifikan:
• Perlu dapur umum, tenaga masak, transportasi dan sistem distribusi harian yang rawan basi.
• Harga per porsi biasanya lebih mahal dibandingkan nilai gizi yang sama jika dibeli oleh rumah tangga (karena ada biaya pengadaan, pengolahan dan distribusi).
• Tidak ada pilihan bagi anak atau keluarga - menu ditentukan birokrasi/SPPG didasarkan nilai keuntungan. Kurangnya kompetensi pengelola dapur memperparah keadaan dengan tingkat keracunan yang tinggi.
Jadi secara mikroekonomi, menyisihkan anggaran lalu mengubahnya jadi makanan siap saji adalah proses yang inefisien dibanding memberikan nilai yang sama dalam bentuk uang atau voucher dengan edukasi gizi.
3. Dampak terhadap perilaku dan tata kelola
Program seperti MBG cenderung menciptakan:
• Ketergantungan pada infrastatur birokrasi: jika distribusi macet, anak tetap tidak makan. Bandingkan dengan uang yang bisa langsung digunakan beli di warung.
• Potensi korupsi baru: pengadaan bahan pangan, kontrak dapur umum, markup harga porsi. Karena makanan siap saji sulit diaudit kualitas dan kuantitasnya setiap hari.
• Rentang kendali: untuk Indonesia yang besar, ini bukan masalah teknis saja, tapi masalah fundamental governance - semakin panjang rantai distribusi barang fisik, semakin besar kebocoran.
Dengan melepas kendala teknis, masalahnya bukan pada bisa tidaknya menjalankan. Masalahnya pada rasionalitas menjalankan sistem berbiaya transaksi tinggi ketika ada alternatif lebih efisien.
4. Mengapa program seperti ini terasa "hebat" secara politis?
MBG lahir dengan sifat program yang visible (terlihat langsung):
• Anak-anak makan bersama, seragam, ada foto, bisa dipublikasikan.
• Memberi sensasi pemerintah hadir secara fisik.
• Beda dengan transfer uang yang tidak fotogenik. Tidak terlihat.
Inilah yang dalam kebijakan publik disebut high visibility, low transformability - program yang mudah dilihat tapi sulit mengubah struktur masalah gizi dan kemiskinan secara fundamental. Alih-alih dengan prioritasnya yang ditinggikan membuat keuangan negara terganggu.
Negara maju sekalipun menjalankan program makan sekolah sebagai komplementer, bukan solusi utama.
5. Kesimpulan analisis (tanpa urgensi dan teknis)
Pada dasarnya MBG adalah redistribusi anggaran melalui saluran in-kind yang kurang efisien dibanding transfer tunai atau subsidi pangan langsung ke rumah tangga. Kehebatannya lebih bersifat simbolik-politik daripada kebijakan publik yang superior secara ekonomi.
Bahkan jika Indonesia punya logistik sempurna sekalipun, tetap ada pertanyaanmendasa: Kenapa memilih cara yang lebih mahal dan lebih kaku untuk memberi makanan, daripada memberi daya beli yang lebih bebas dan efisien kepada keluarga miskin?