CHINA nyerap sekitar 20% dari ekspor batu bara kita. Yg terbesar INDIA (>26%). Sisanya Filipina, Jepang, Korsel, dll.
Impor China sebenarnya sudah terus menurun karena mereka naikkan produksi domestik dan ada pengalihan pasokan dari Australia.
Kebijakan ekspor 1 pintu ini problemnya kelak lebih di moral hazard. Konsepsinya sih bisa dipahami karena namanya dagang, kan selalu ada dinamika di pasar ekspor. Ketika harga batu bara global meroket mjd US$150 per ton, sementara harga DMO dipatok US$70 per ton, pasti donk margin keuntungan dari ekspor jauh lebih menggiurkan daripada menjual ke PLN.
Di sinilah moral hazardnya: rekomendasi teknis, persetujuan ekspor, hingga konsultan/surveyor bisa jd celah. Ditambah dgn carut-marut rantai pasok logistiknya karena pengusaha kapal logistik spt tongkang dan vessel pasti memprioritaskan penyewaan kapal u/ rute ekspor karena tarif sewanya jauh lebih kompetitif mengkuti harga global.
Dampaknya, PLTU di dlm negeri sering mengalami delay pengiriman bukan karena batu baranya gak ada di tambang, tapi sulit mendapatkan alokasi kapal tongkang yg mau mengambil rute domestik dgn tarif lokal.
China menjadi importir batubara terbesar indonesia.jika betul china membatalkan pembelian dengan alasan kebijakan satu pintu,hal itu membuat rugi peodusen batubara indonesia.
artinya pemadaman listrik oleh pln berlatar belakang kekecewaan produsen yang enggan mengejar produksi.