Sejarah Melemahnya Rupiah: Ketika Krisis Dibereskan oleh Insinyur, Bukan Ekonom
Waktu kamu ngeluh rupiah di 18.000-an, ada satu fakta sejarah yang perlu kamu ingat. Kita pernah ada di sini sebelumnya. Dan yang berhasil narik kita keluar bukan ekonom senior, bukan bankir berlabel Ivy League, bukan teknokrat dengan segudang gelar. Tapi insinyur pesawat terbang.
21 Mei 1998. Soeharto mundur. BJ Habibie tiba-tiba pegang negara yang lagi chaos total. Rupiah udah jatuh dari Rp2.400 ke kisaran Rp16.800 per dolar AS. Inflasi 77,6 persen setahun.
Bank-bank kolaps, perusahaan gulung tikar massal, hampir separuh penduduk jatuh miskin dalam semalam. Situasinya kayak raid party yang semua membernya kena status buruk numpuk sekaligus, poison, bleed, paralysis, sementara healer udah mati duluan.
Habibie nggak punya latar belakang ekonomi. Tapi dia punya satu prinsip yang nggak bisa ditawar sebagai insinyur: kalau sistemnya udah rusak parah, tambal sulam nggak akan pernah cukup. Harus dibongkar, diperbaiki dari akarnya, baru dibangun ulang.
Langkah pertamanya frontal banget. BI dinaikkan suku bunga SBI-nya sampai 70 persen per tahun. Konteksnya ini penting karena bunga harus lebih tinggi dari inflasi supaya orang ngerasa worth it nyimpen rupiah di bank, bukan malah buru-buru beli dolar. Logikanya sama persis kayak yang BI lakukan sekarang, cuma beda skalanya aja.
Selanjutnya, sektor perbankan yang sekarat dibedah habis. Habibie bentuk BPPN untuk beresin utang macet yang numpuk di mana-mana. Bank-bank plat merah yang udah sekarat digabung jadi satu entitas baru yang lebih kuat. Namanya sekarang kamu kenal sebagai Bank Mandiri.
Aku yang kesehariannya ngurusin produksi dan event aja paham, kalau strukturnya udah bocor dari dalam, kamu nggak bisa cukup dengan nambal luarnya aja.
Yang paling sering dilupain orang dari era Habibie adalah UU Nomor 23 Tahun 1999. Beliau kasih Bank Indonesia kemerdekaan penuh, resmi jadi lembaga independen yang nggak bisa diintervensi siapapun, termasuk presiden. Sebelumnya bank sentral kita secara struktural bisa dijadikan alat politik. Habibie yang notabene punya power penuh di masa transisi justru milih menutup celah itu sendiri. Keputusan yang pastinya berat sekali untuk seorang pemimpin.
Satu lagi yang nggak kalah pentingnya: blanket guarantee. Di tengah kepanikan, masyarakat mulai rush narik semua tabungan mereka. Kalau dibiarkan, bank-bank yang masih sehat pun bisa kolaps.
Kebijakan jaminan penuh atas semua simpanan ini cukup untuk meredam gelombang panik itu sebelum jadi bencana sistemik.
Hasilnya? Dalam 17 bulan menjabat, inflasi anjlok dari 77,6 persen ke 2 persen. Rupiah menguat tajam ke kisaran Rp6.500. IHSG melonjak dari sekitar 200 poin ke 588. Habibie nggak cuma kasih paracetamol.
Dia sembuhkan akar masalahnya.
Pelajaran buat 2026 nggak perlu ditafsirkan jauh-jauh. Meski tekanan rupiah sekarang lebih banyak datang dari luar, bukan dari dalam, esensinya tetap sama.
Independensi BI harus dijaga tanpa syarat, tanpa tawar-tawar kepentingan fiskal jangka pendek. Masalah struktural di sektor keuangan harus dibereskan sekarang, bukan ditunda sampai situasinya dianggap lebih kondusif, karena situasi kondusif itu nggak akan datang sendiri. Dan kepercayaan pasar dibangun lewat transparansi dan kebijakan yang bisa diprediksi, bukan lewat konferensi pers yang bilang situasi terkendali sementara datanya ngomong hal lain.
Habibie buktiin bahwa memulihkan ekonomi mengharuskan kita memperbaiki sistemnya lebih dulu. Pertanyaannya sekarang, apakah pemerintah kita punya keberanian radikal yang sama?
ya... kurang lebih sama dengan yang dilakukan habibi untuk memulihkan rupiah dulu sih 😥