Sayalah kelas menengah ke bawah yang sudah prepare itu. Sebagai orang tua tunggal yang berada di kubangan kemiskinan struktural dan punya 2 anak dari 2 generasi (Gen Z dan Alpha), ini yang saya lakukan:
1. Anak pertama (perempuan, usia 23 tahun, semester 6 teknik elektro)
- Sudah punya paspor
- Bahasa Korea
- Bahasa Inggris, score TOEFL -nya lumayan
- Bahasa Jepang
- Ngoding
- Software (Ms. Office, Autocad, Photoshop, dll.)
- Menulis (fiksi dan nonfiksi)
Selain itu, saya mengerahkan semua networking yang saya miliki untuk memastikan dia mendapat beasiswa S2 dan S3 serta cabut dari Indonesia.
Oktober nanti dia akan ke Malaysia dalam rangka pertukaran mahasiswa.
2. Anak kedua (laki-laki, 11 tahun kelas 4 SD)
- Ngoding (Python, LUA)
- Software (Ms. Office dan berbagai aplikasi untuk editing foto dan video)
- Bahasa Inggris
- Literasi digital
- Menggambar dan melukis
----
Saya sendiri tahun ini masuk ke UT ambil prodi Sains Data dan sedang belajar bahasa Jepang. Kuliah agar selain mempersiapkan masa depan anak-anak, saya juga mempersiapkan masa pensiun agar tidak menjadi "beban finansial" bagi mereka.
Saya serius ketika mengatakan, "Demi anak-anak, aku siap bertarung melawan dunia." 🔥
Di tengah kondisi begini, saya kepikiran gimana ya mengarahkan anak yang lahir dari kalangan menengah kebawah agar besarnya survive dan naik taraf hidupnya.
Saya kepikiran,
1. wajib sekolah yang bener sampe level SMA/SMK, untuk bekal daya nalar dan analisa berpikir.
2. Sejak SD atau SMP fokus mengasah skill lain. Bisa bahasa Inggris/Jepang/Korea atau video editing atau menggambar.
Harapannya skill tersebut bisa dipelajari secara otodidak dari berbagai sumber yang tersedia di Internet.
Setelah lulus SMA, tergantung minat, kalo ada kesempatan bisa lanjut sekolah. Kalo engga, bisa apply kerja migran di luar negri sambil nabung, sekolah lanjutan dsb. Atau kerja berbasis skill seperti video editing, clipper, jualan hasil gambar digital, dsb.
Atau bisa terjun bisnis kalo ada bakat dan modalnya.
Mungkin ada yang udah pengalaman dan sukses bisa memberikan tipsnya buat adik-adik atau para ortu yang struggle untuk memperbaiki taraf hidup anaknya?