Argumen tentang adanya โagenda setting atau kepentingan internasional untuk menjatuhkan Indonesiaโ saat media asing memberitakan Indonesia secara kritis, kayaknya nggak pas deh.
Pertama, media internasional tidak akan mengalokasikan ruang mrk yang mahal untuk memberitakan Indonesia jika Indonesia tidak dianggap penting. Dalam logika news value, Indonesia belakangan memiliki hampir semua unsur yang dicari media2 itu: negara dg penduduk terbesar keempat di dunia, ekonomi terbesar di Asia Tenggara, anggota G20, berada di tengah rivalitas ASโChina, sedang mengalami gejolak politik-ekonomi, dll. Artinya, Indonesia memang layak diberitakan.
Persoalannya, mengapa yang muncul justru berita negatif? Jawabannya kembali ke news value. Berita negatif hampir selalu memiliki nilai berita lebih tinggi dibanding berita positif karena mengandung konflik, krisis, kontroversi,
dampak besar, dan lebih mungkin dibaca.
Seorang presiden menjalankan pemerintahan secara normal bukan berita besar. Tetapi ketika muncul kontroversi kebijakan, pelemahan institusi, korupsi, defisit fiskal, atau ketidakpastian ekonomi, nilai beritanya langsung meningkat.
Dengan kata lain, media tidak memberitakan Indonesia secara kritis untuk menjatuhkan Indonesia. Mereka memberitakannya karena situasi Indonesia sedang menghasilkan banyak peristiwa yang memiliki nilai berita tinggi alias algoritmanya memang mendukung itu.
Sampai skrg gw masih penasaran apa agenda setting redaksi media2 barat ini terus melakukan blowup terhadap situasi ekonomi Indonesia? Apa kepentingan mereka? Apakah mereka bener peduli pada kesejahteraan rakyat Indonesia?